Tanpa Kata-Kata

myht
Chapter #32

An Attempted Confession

Sungguh ... aku sungguh tak menyangka akan mendengar tepuk tangan meriah.

Sungguh tak menyangka Ayah, Ibu, dan Rio serempak mengacungkan dua jempol. Yang paling di luar dugaan, Ibu Silaban tersenyum haru sambil berdiri bertepuk tangan untuk kami yang sedang berdiri di atas pentas. Sambil saling menggenggam tangan, kami pun menikmati gemuruh ria.

Kulepas genggaman untuk melambai kepada Ayah, Ibu, dan Rio. Pemain yang lain pun tak mau kalah ikut melambai pada keluarga mereka. Termasuk David yang melambai pada seorang wanita paruh baya, yang duduk di kursi barisan ke dua. Wanita berpakaian kemeja putih itu membalas dengan kecupan angin. Senyumnya menampakkan lesung pipi yang sama dengan pangeranku.

Setelah puas memandang ibunya, aku kembali melihat David. Upss!  Dia sedang melihatku juga. Kulayangkan senyum termanis dan dibalas dengan tambahan kedip mata. "Ya, Tuhan," ucapku gemas dalam hati.

Acara pun diambil alih oleh MC si kembar Mika dan Miko, sementara kami menarik diri ke belakang panggung.

"Yeaahh, kita berhasil!" teriak Juna di backstage.

"Yesssss," teriak kami semua.

Di tengah suasana riuh, David membuka topi dan melempar ke udara, lalu diikuti pemeran tentara lain. Di mataku saat itu dia sangat bersinar. Cahaya dari pintu yang kubelakangi persis menyinarinya. Entah kenapa, tiba-tiba muncul niat ingin mengungkapkan perasaan, hendak memberi garis penegas hubungan kami. Gejolak kalbu pun membuncah. Genderang dalam kepala bertabuh memacu adrenalin untuk mendekat. Dia sedang bersalaman dengan pemeran lain saat aku sudah maju.

"David, ortumu di depan aula. Udah ditungguin dari tadi." Panggilan Kak Ameila membuat langkahku terhenti, lalu menoleh ke arah lain agar dia tak curiga.

"Ok ok, thank you, Mel," jawabnya sembari membuka baju luaran.

Begitu situasi sudah aman, aku kembali menuruti dorongan adrenalin. Namun saat tinggal beberapa langkah lagi, mata kami bertemu, dan aku seketika berbelok arah sambil merutuki diri. Lemah gemetar kaki ini saat sadar apa yang sedang terjadi. Mendadak, hembusan angin lewat di belakangku. Begitu menoleh, si Lesung Pipi sudah hilang di balik pintu. Hufth ... hampir saja, pikirku lega.

...


Evaluasi drama pun dimulai. Ibu Silaban mengumpulkan kami semua di backstage dan duduk melingkar. Suasana hatinya sedang bahagia, tak henti-henti memuji kami.

"Terutama untuk Andrewi. Kalau dari awal kamu all out seperti itu, Ibu nggak akan ngomel-ngomel. Kamu tadi keren banget. Adam juga bagus. Semua all out pokoknya. Tepuk tangan untuk kalian semua," ucapnya mengundang riuh gemuruh.

Penderitaan sebagai bahan olok-olokkan pun sudah berakhir. Pembuktian berhasil. Adam menepuk-nepuk punggungku dan aku mencubit tangannya sebab tepukan itu lebih seperti memukul dari pada menyemangati. Dari barisan barisan seberang, David melayangkan jempol serta lesung pipinya. Hampir saja aku nekat melayangkan sinyal 'aku tunggu di gerbang' yang dulu pernah dia lakukan. Segera kutepis, lalu mengganti dengan senyum termanis. Aku yakin, kisah yang kembali terjalin antara kami jadi faktor utama percaya diri ini meningkat drastis. Aku harus mengajaknya jalan dan mentraktir makanan enak sebagai tanda terima kasih.

Ditengah riuh rendah suara kami, David lagi-lagi keluar. Sudah 2 atau 3 kali bolak-balik seperti itu.

Setelahnya, sampai evaluasi selesai, dia tak kembali lagi.

Lihat selengkapnya