Tanpa Kata-Kata

myht
Chapter #33

Menutup Komunikasi

Angin berhembus memainkan rambutku. Di lapangan sekolah, aku dan Shaniar asyik berbincang sambil menonton siswa-siswi lain berlalu-lalang. Angin sepoi-sepoi menambah bahagia suasana acara pembubaran panitia pensi. Tidak ada jeda. Begitu masuk sekolah, acara pembubaran panitia segera dilaksanakan agar tak mengganggu persiapan Natal.

Target sumbangan dan saweran orang tua pun mencapai puluhan juta, menutupi semua kekurangan anggaran biaya. Kelebihan sumbangan dialokasikan untuk acara pembubaran panitia. Banyak camilan, bingkisan, dan makanan berat tersusun rapi di depan kantor guru untuk dinikmati bersama.

"Lagi sibuk?"

"Astaganaga ular naga panjangnyaa!!!" Aku berteriak kaget.

"Kak Adam!!!" teriak Shaniar ikut kaget pada Adam yang menggertak bahu kami dari belakang. Dia malah tertawa sambil memegangi perut.

"Kalian lagi ngapain?" tanyanya setelah puas tertawa dan duduk di tengah.

"Lagi makanlah, Kak."

"Lagi nontonin orang lalu-lalang. Kakak sendiri ngapain ke sini?" tanyaku menimpali Shaniar.

"Cari angin. Kepalaku pusing. Dua hari kurang tidur."

"Pasti karena memikirkan acara ini, ya?"

"Betul sekali, Shan Shan."

Shaniar tersipu malu dipanggil begitu. Sontak aku kaget tak terima sebab itu nama panggilan khusus dariku. Kutatap Shaniar dengan mata kesal, dia malah menyengir. Ketara sekali genitnya itu.

"Kakak nggak mau tidur dulu sebentar? Matanya udah merah itu. Udah lima watt."

"Shan, aku ketua panitianya di sini. Bisa di demo massal aku kalu ketahuan tidur."

Aku dan Shaniar tertawa geli.

"Lagian, kenapa nggak ditolak aja? Mereka juga pasti paham-lah."

"Iya, paham. T'rus jabatannya dicopot, gitu?"

Tawa kami semakin tergelak. Kami kasihan tapi ekspresinya saat menjawab pertanyaan sangat lucu. Setelah itu, kami pun berbincang membahas banyak hal.

"Si Lesung Pipi kemana, Kak?" tanya Shaniar tiba-tiba, memancing mataku melotot.

"Hmm ... kurang tahu. Kalian sering pulang bareng, kan?" Adam menoleh padaku. "Coba kamu tanya aja sendiri. Aku masih ada kerjaan. Sudah dulu, ya. Bye."

Shaniar dan aku sama-sama bengong ditinggal begitu saja. Sempat kami kira Adam sedang bercanda, tapi sampai masuk ke kantor kepala sekolah pun langkahnya tak berhenti. Sekedar menoleh balik pun tidak.

"Kak Adam kenapa?"

"Nggak tahu. Tadi aku nggak ada salah ngomong, kan?"

"Nggak ada, tuh. Mereka lagi ada masalah?"

"Ya, mana aku tahu. Coba tanya si Lesung Pipimu itu."

"Issh ... si Lesung Pipi, si Lesung Pipi."

"Kak Adam udah tahu siapa si Lesung Pipimu itu. Si Lesung Pipimu juga udah tahu."

"Tahu dari siapa lagi kalau bukan dari teman paling ember se-dunia?" Kucubit lengan Shaniar pelan. Dia mengaduh kesakitan dramatis seakan-akan dicubit Ibu Silaban.

Lihat selengkapnya