Hanya hari-hari spesial yang ingin kita ingat. Hari menyakitkan jauh terkubur meski sama kuat dengan hari spesial. Kadang hari menyakitkan dilepas dengan berbagai cara, kadang malah terlepas begitu saja karena kesibukan diri. Kita manusia hamba hari, di mana hidup bergantung pada hari. Melewati semua hari dengan mengorbankan diri agar sampai ke hari berikutnya. Agar jangan sampai hari menyakitkan membuat diri berhenti.
...
"Ini sudah 7 tahun 28 hari, Kak Dave," ucapku pada jam tangan pemberiannya dulu. Jam tangan itu sudah rusak, jarumnya berhenti bergerak. Belum ada niat membuang sebab terlalu berharga, tidak pula ingin memperbaiki. Biar saja jadi penghuni kotak kado di dalam laci meja kerjaku. Itu pantas dan belum cukup untuk seseorang yang membuatmu jatuh cinta, lalu pergi tanpa kabar.
Jam tangan itu kusimpan kembali ke laci dan memindahkan kalender meja ke atas tumpukan majalah. Selama 7 tahun, setiap hari berlalu tanpa lupa memberi tanda silang di tiap kotak tanggal kalender itu. Menghitung hari yang telah habis untuk menunggu David walau sesibuk apa pun. Kebiasaan aneh yang membuat Shaniar berkali-kali menasehati untuk pergi ke psikolog dan selalu kutolak.
Sigap kuambil tumpukan kertas yang harus difotokopi dari atas meja. Pagi hari, seperti biasa aku kembali berhadapan dengan mesin fotokopi. Suara berdesing, getar, dan hangat mesin bagai musik wajib sebelum memulai hari.
Sudah hampir setahun aku bekerja sebagai desainer grafis junior di kantor salah satu majalah fashion wanita terkenal di Bandung. Hampir satu tahun pula job deskku masih sebatas bertemu mesin fotokopi, mesin pembuat kopi, mengantar berkas, melaporkan hal-hal yang perlu dilaporkan, revisi kecil-kecilan, menyusun layout dasar, mencari referensi, dan pekerjaan lainnya yang sebagian besar kurang sesuai dengan keahlianku sebagai sarjana DKV. Hanya jika senior kewalahan mengejar deadline, barulah aku ditunjuk jadi pahlawan kesiangan. Tentu saja akhirnya aku yang kena marah karena hasilnya kurang maksimal.
"Drewi, tolong sekalian fotokopi yang ini ya, makasih."
"Siap, Mbak Gista," jawabku meskipun dia sudah pergi duluan.
Berat nafas ini keluar setelah melihat kertas yang semakin menumpuk. Pudar sudah passion menggambar yang kutemukan di kelas 3 SMA dulu. Saat salah satu mantan pacarku mengenalkan ke dunia gambar, hati ini seketika bergelora seperti menemukan tujuannya kembali. Apalagi, setelah berhasil masuk ke jurusan DKV salah satu universitas negeri terbaik di Bandung. Tapi suasana di kantor berbeda dengan impian itu, hingga mau tak mau passion perlahan-lahan mati. Untuk mempertahankan saja butuh semangat ekstra. Jadi freelancer pun tak banyak membantu. Aku malah jadi ahli fotokopi dan pembuat kopi.
Selama masa kuliah, tidak lupa aku juga berusaha mencari jejak si Lesung Pipi. Di Sidikalang, ibunya membuka toko bunga sebagai sampingan, maka kucari jejak mereka di setiap toko bunga di kota Bandung. Nihil. Begitu masuk dunia kerja aku sudah jarang mencari. Atasanku sangat perfeksionis, bermulut tajam, dan sensitif sekali terhadap waktu. Pak Ghanan namanya. Dia yang telah mengalihkan perhatian dan hidupku untuk selalu siaga setiap detik di kantor. Kalau tidak siap siaga membantu ini itu, maka akan terjadi hujan kombinasi kata-kata yang entah dari mana ia dapatkan. Untung saja angkatanku ada 3 orang, jadi aku tak sendirian menghadapi dunia kerja ini.
"Semangat semangat. Semua ini hanyalah proses. Tenang aja, nanti kita pasti bisa mendapatkan kesempatan untuk maju," ucap Winny, saat kami baru satu bulan bekerja.
"Drew, kapan kita bisa jadi bos kalau gini terus?" ucap Lala pesimis waktu itu. Kami bertigalah teman seangkatan yang juga senasib seperjuangan. Bedanya, Lala lebih kurang beruntung karena sesekali merangkap jadi PA Pak Ghanan.
"Drewi."