"Masih ingat, nggak? Waktu hari pertama MOS, kamu dan temanmu Shaniar telat, t'rus disuruh joget di atas panggung?"
"Ingat," ucapku seksama memperhatikan Agitha lewat cermin besar di depan kami.
Belum terjawab asal-usul gaun pernikahan, Agitha menyambutku dan Dani begitu sampai di depan sebuah salon. Tanpa basa-basi ia memelukku erat, lalu mengajak masuk ke dalam salon tanpa membiarkanku bertanya. Dia terlihat lebih ramah, dewasa, dan stabil.
"Kak David bilang, itu momen pertama dia jatuh cinta sama kamu, Drew."
"Kak Dave nggak pernah cerita tentang itu," ucapku lemah.
"Dia itu cemen, Drew," sambung Dani yang sedari tadi duduk bosan di kursi tunggu. "Sebenarnya, dia sudah beberapa kali berusaha mendekatimu tapi akhirnya mundur. Kami sampai menamai dia Chicken. Andrewi's chicken. Your chicken, Drew."
"Ahahaha ...." Agitha tertawa ringan. "Mungkin ... karena baru pertama kali jatuh cinta."
Keningku berkerut. "Bukannya pacar pertamanya kamu, Git?" tanyaku hati-hati.
"Pacar pertama belum tentu jadi cinta pertama. Pacar pertama nggak selalu orang yang membuatmu jatuh cinta pertama kali. Apalagi kalau salah satu di antara mereka dipaksa atau lebih tepatnya ...."
"Dijodohkan."
"Kamu tahu dari mana?" Agitha menoleh cepat. Capster di belakangnya menghembus nafas kesal.
"Dari gosip sekolah."
Dia mendengus geli dan menghadap ke depan lagi. Capster itu kembali bernafas lega melanjutkan pekerjaannya.
"Bukan hanya memaksa pacaran, aku juga memaksa pergi ke ...."
"Warung bakso Abang Man. Padahal waktu itu dia nggak tahu apa-apa. Kak David yang cerita."
"Dan dia membawamu ke situ kan?" tanyanya sinis.
"Kamu sudah tahu?"
"Kami memang sudah putus, tapi aku adalah satu-satunya tempat Kak Dave mencurahkan perasaannya. Kami juga tetangga dekat. Walau sering risih berdekatan denganku, tapi kami itu bestfriend. Aku tahu semua tentangnya."
"Iya, keluarga kalian juga akrab. Aku sudah tahu itu," balasku sedikit jengkel. Dari cermin, Dani melihat sekilas padaku yang mulai terpancing.
"Ya ... tapi sedekat apa pun kami, yang memenangkan hatinya tetap kamu, Drew. Aku marah waktu tahu dia suka sama kamu. Makanya aku senang banget waktu alergiku kambuh setelah memakan nasi gorengmu. Itu bisa jadi alasan untuk menjatuhkanmu di depan Kak Dave. Hasilnya? Tetap sama. Perasaannya nggak pernah berubah. Tapi ... aku tetap nggak bisa membenci Kak Dave. Apalagi waktu dia memohon untuk membantu mengungkapkan perasaannya ke kamu."
"Maksudnya??! Kapan?!" tanyaku terkejut.
"Waktu di gerb ...."