Tanpa Kata-Kata

myht
Chapter #40

Si Lesung Pipiku ....

Video dibuka oleh seorang laki-laki berwajah pucat memakai baju pasien rumah sakit. Ia sedang berusaha memosisikan kamera ke atas meja di samping tempat tidur, dengan selang melekat di tangan, hidung, dan dada. Tak butuh waktu lama untuk mengenali lesung pipi di wajah itu. Foto yang ada di tanganku pun terjatuh. Aku hendak meminta penjelasan Bunda Adelia, namun ia telah berlinang air mata. Rasa gelisah mulai menggerogoti. Kali ini lebih-lebih hebat hingga nafas terasa berat.

"Ehm! Hai Drewi." David mulai membuka suara. "Mmm ... ini video khusus untukmu. Video ini kuambil diam-diam. Jangan sampai Bunda, Papa, termasuk Agitha tahu video ini. Terutama Teh Diva. Nanti aku di smack down." Pria berlesung pipi yang terlihat sangat lemah itu menggaruk kepala sambil tertawa.

Setelah itu ia sempat terdiam, bergantian memandangi kamera dan ke dua tangan yang gelisah. Tak lama kemudian, beringsut meraih gitar yang bersender di sisi kiri tempat tidur.

"Semoga suatu hari nanti kamu bisa melihat video ini. Oh iya, gitar ini cuma pajangan. Aku nggak bisa main gitar. Biar kelihatan keren aja. Kata Shaniar, kamu suka nonton orang main gitar di Youtube. Siapa tahu dengan gitar ini aku jadi kelihatan lebih oke." Terbata ia memetik gitar, menyanyikan lagu Peterpan - Semua Tentang Kita.

Belum sampai reff , David berhenti dan kembali menatap serius. "Drewi, ijinkan aku menceritakan semua tentangku. Cerita yang mungkin kamu nggak akan pernah tahu. Sebelumnya, aku pernah bilang dulu hidupku berantakan. Nggak punya mimpi, berjalan tanpa arah sampai harus ke psikolog. Waktu itu aku belum cerita semuanya. Ada bagian yang sengaja kututupi. Bukan karena aku ingin berbohong, tapi karena saat itu sudah terlanjur ada sesuatu di dalam ... diriku yang ... nggak bisa ditolak."

Sementara David sedang mengatur nafas, aku menyeka air mata dengan membenamkan ke dua tangan, seakan itu mampu menghapus firasat buruk.

"Masih ingat nggak, waktu kamu dan Shaniar disuruh joget ke atas panggung MOS? Aku mah nggak bakal lupa. Hari itu pertama kalinya aku ketawa bebas sambil joget-joget. Adam pernah bertanya, kenapa harus kamu? Padahal ada Shaniar juga di sana. Sampai sekarang pun aku nggak tahu dan nggak bisa jelasin kenapa. Waktu itu yang ada di mataku cuma kamu.

"Waktu melihat ke dua matamu yang berbinar saat turun dari panggung, berjalan melewatiku, jantung ini berdenyut cepat. Kuat. Tapi ... nggak sakit. Kalau kata tukang bikin puisi, berdesir seperti pasir di pinggir pantai yang tersapu air laut. Seperti ... menggelitik. Kata Agitha, itu tanda jatuh cinta. Tapi aku nggak berani ngajak kenalan karena ... keringat dingin, detak jantung kencang, tangan juga sering gemetar. Takut kamu illfeel . Kata Agitha, itu namanya adrenalin. Konyol." Ia mendengus geli.

"Untung ada drama pensi. Aku lari sekencang-kencangnya ke kelas Ibu Gempal untuk mendaftar. Yang tersisa hanya peran tentara, padahal aku ingin peran yang bisa dekat denganmu. Si Adam itu, kenapa pula mau dipaksa sama Ibu Gempal."

Lihat selengkapnya