Tanpa Restu

Risa Putri
Chapter #1

Chapter tanpa judul #1

Dibesarkan, terurus penuh kasih sayang dan cinta. Selama 22 tahun hidup pertama kalinya aku diperlakukan semena-mena. Tatapannya menculas seolah aku tak pantas mendapatkan cinta. Dan dia menyamakanku seperti hewan.


“Dek, ayolah, kenapa cemberut begitu? Ini hari bahagia kita, tolong jangan pasang wajah jutek kayak gitu.”


Suara Mas Heru membuatku menarik napas dalam, membuyarkan lamunan.


Aku tahu ini adalah hari bahagia kita, aku pun sangat bersemangat, sengaja berdandan rapi berpakaian sopan—dress lengan panjang dengan warna yang kupilih sangat hati-hati—warna yang lembut. Tapi rasanya, semua kesiapan ini terasa belum juga cukup.


“Dek, kamu dengar aku ngomong, kan? Kamu ngelamun terus dari tadi." Ucapan Mas Heru kali ini membuatku berpaling dari hamparan sawah hijau yang mengelilingi kami. Aku beralih menatapnya.


"Aku dengar, Mas.”


"Terus, kenapa malah diam aja?”


"Aku … aku cuma kepikiran sesuatu.”


Jujur, ingatan dua bulan lalu terus saja mengikis keberanian dan kesabaran meski sudah jutaan kali Mas Heru meyakinkan—mengubah arah pandangku—mengatakan kalau ibunya cukup baik.


Namun bagiku tidak, seember pakan ayam hampir saja melumuri badan kalau saja aku tidak segera menghindar, kejadian itu berputar seperti kaset rusak dalam kepala.


“Masih kepikiran tentang Ibu?” tanya Mas Heru. Menghentikan laju mobilnya hingga dia serius menatapku.


“Dek, kamu kemarin dengar sendiri kan, di telepon. Ibu ingin kita segera menikah. Ibu sudah lebih baik sekarang. Ibu sudah berjanji. Kamu jangan khawatir, jangan terlalu overthinking, gelisah seperti ini hal biasa dialami calon pengantin. Jadi kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh, ya?”


Aneh? Apa benar begitu? Aku yang terlalu berlebihan? Tidak. Memang waktu itu Ibu bilang tidak sengaja, tapi rasanya masih saja jangal. Terlebih, ada sesuatu yang tak bisa aku ceritakan kepada Mas Heru tentang ucapan Ibu.


Waktu itu, saat aku berkunjung ke rumah Mas Heru. Calon Ibu mertuaku berada di samping rumah. Aku dan Mas Heru tiba di sore hari, suasana sedikit redup—minim penerangan karena langit sangat mendung dan lampu pun tidak dinyalakan entah mungkin mati.


Aku bersama Mas Heru mendekat berdampingan. Suara langkah sepatu kami sesekali membuat Ibu menoleh dengan alis berkerut. Kemudian wanita berdaster jingga itu menoleh setelah Mas Heru memanggilnya Ibu.


Hening sesaat, Ibu menjeda kegiatan dan fokus menatap ke kami.


Mungkin karena pencahayaan yang kurang, jadi Ibu dari Mas Heru itu belum paham siapa sosok yang datang. Namun tiba-tiba, wanita yang ku tahu namanya Marni itu melempar isi embernya ke arahku.


Ke arahku! Benar-benar tepat ke arahku!


Kenapa aku sangat yakin dan kejadian ini begitu menekan—membekas di hati dan kepala? Karena Mas Heru yang diam di tempat saja tak sedikit pun terkena percikan isi ember, sementara aku? Jangan ditanya.


Aku shock berat saat itu. Entah terbuat dari apa sesuatu yang mengenaiku tapi jelas, baunya sangat tidak bersahabat.


Kita berdiri sebelahan, tapi isi ember tak mengenai Mas Heru sedikitpun. Beruntung aku bisa menghindar. Tapi tetap saja aku terkena percikan noda di pakaian dan wajah.


Kalau saja aku terlambat sedikit untuk menghindar, pakaianku pasti basah dan kotor. Aku pasti langsung menangis di tempat karena malu. Malu sebab hadirku seperti tak diinginkan padahal Mas Heru sudah bilang jauh-jauh hari atas kedatangan kami.


Memang Ibu bilang tidak sengaja, katanya aku tidak kelihatan. Kenapa bisa? Sebesar ini aku tidak terlihat? Aneh.


“Kepikiran dadak ayam?” tebak Mas Heru, menahan tawa.

Lihat selengkapnya