Terjadi lagi. Aku masih sangat ingat.
Dua bulan lalu saat pertama kali berkunjung ke rumah Bu Marni, kurang lebihnya dia melakukan hal sama.
Usai dari kamar mandi membersihkan wajah dan pakaian, Bu Marni tiba-tiba menghadang langkahku. Gelas berisi teh panas beralaskan nampan di tangannya sampai berdenting—bersenggolan, menyela waktu yang seolah sangat singkat.
Pertama kali didekati dengan ekspresi sulit kupahami, aku mengernyit menatapnya—wajah Bu Marni tepat di depan wajahku.
‘Kamu Ruli? Yang ditelepon kemarin, ‘kan, sama Heru?’
Suara Bu Marni serak berbisik, aromanya khas pasta gigi peppermint. Aku masih sangat ingat. Aku juga tertegun menatap matanya, tatapan mata yang sama seperti pertama kali kita bertemu—penuh curiga.
‘Benar, Bu. Kenapa?’
Bu Marni tak lantas menjawab. Netranya sesaat memindaiku dari kepala hingga ujung kaki.
‘Anak saya emang ganteng, gajinya juga lumayan. Sudah minta apa aja kamu sama dia?’
‘Hah? Maksudnya, Bu?’
‘Nggak usah pura-pura kamu! Kamu sering dibeli-beliin, ‘kan? Sama Heru?’
Dibeli-beliin? Dibeliin apa? Aku berpikir. Kenapa harus minta ke Mas Heru kalau aku saja bisa beli kebutuhanku sendiri?
Papa juga masih menjamin hidupku, sering mentransfer uang jajan meski aku nggak pernah minta. Lalu, kenapa aku harus meminta ke seseorang yang tak wajib menanggung hidupku?
Saat itu aku diam karena bingung mau menjawab apa. Tapi kediamanku sepertinya diartikan iya oleh wanita di hadapanku.
‘Emang nggak tau diri kamu, ya. Perempuan pembawa sial anak saya!’
‘Bu, saya nggak pernah minta ini itu sama Mas Heru. Kalaupun ada, itu nggak lebih dari makanan yang tidak aku minta. Mas Heru sendiri yang bawakan.’
‘Nah, bener kan! Itu sama saja! Kamu dibeli-beliin sama anak saya!’ Mengeratkan rahang, Bu Marni tampak sekali begitu kesal. ‘Dengar, ya, lain kali—’
‘Bu? Ruli? Kalian ngapain di sana? Kenapa ngobrolnya di sini? Masa sambil berdiri.’
Suara Mas Heru memotong ucapan Ibu sekaligus menjadi penyejuk hatiku yang seperti sengaja disulut api. Laki-laki dengan senyum sumringah itu mendekat merangkul bahuku serta Ibu bersamaan.
‘Harus banget, ya, ngobrol di sini?’ lanjut Mas Haru bertanya.
‘Enggak, Sayang. Ibu cuma sebentar pengen ngobrol berdua sama Ruli, dia ternyata lumayan cantik kalau dilihat dari dekat, kamu nanti bakalan nggak terlalu boros ngurusin bedaknya. Dia nggak dandan juga sudah cantik. Benar kan, Nak?’
Apa? Kita nggak membicarakan itu tadi.