
Beberapa saat kemudian, Giyan memberhentikan motornya di depan sebuah rumah yang cukup besar. Kemudian Giyan masuk ke dalam rumah itu. Dilya memarkirkan motornya di pinggir jalan yang jaraknya agak jauh dari rumah yang Giyan masuki. Yang pasti, walaupun jarak mereka agak jauh, pergerakan Giyan di luar rumah masih terpantau dari jarak pandang Dilya.
Beberapa saat kemudian, Dilya melihat ada seorang cowok keluar dari rumah itu. Dilya menajamkan pandangannya.
“Cowok itu siapa? Kok……… kayak kak Giyan?! Dari postur badan, mirip kak Giyan. Cara jalannya, juga cara jalan kak Giyan. Tapi… masa itu kak Giyan?” kata Dilya ragu.
Beberapa kali Dilya mengucek-ngucek matanya.
“Kalau emang itu kak Giyan.… kenapa dia gak pake kaca mata? Dan… gaya macam apa itu? Kenapa gayanya gaul banget? Rambut dan bajunya juga berantakan,” kata Dilya sambil menggosok-gosok kepalanya yang tidak gatal.
Kepala Dilya masih bergerak-gerak mencari angle terbaik dalam pengintaiannya.
“Duh… tapi gak jelas mukanya. Heummmh,,, gue jadi makin penasaran. Siapa sih cowok itu?!”
Dilya melihat cowok itu menaiki motor dari dalam garasi. Motornya berbeda dengan motor yang digunakan oleh Giyan tadi. Kemudian cowok itu melajukan motornya tanpa memakai helm. Cowok itu melaju ke arah jalan yang berlawanan dengan jalan yang ditempati Dilya untuk mengintai Giyan.
Maka setelah melihat cowok itu mulai terlihat agak jauh, Dilya pun segera mengejar cowok misterius tadi. Kejar-kejaran terjadi. Namun jarak antara mereka agak jauh karena cowok tadi sangat ngebut.
Beberap saat kemudian, cowok itu ngerem motornya di antara motor-motor di jalan sekitar hutan lindung yang sepi. Di sana ada beberapa orang cewek dan cowok. Orang-orang itu menyambut cowok tadi dengan heboh. Dilya hanya memandangi cowok tadi dengan heran.
Beberapa saat kemudian ada sebuah motor melintas di samping Dilya. Orang yang melintas itu menatapnya sekilas. Dilya tersadar. Kemudian ia melihat sekelilingnya. Dan karena takut terjadi apa-apa, Dilya langsung menyalakan motornya dan memutar arah untuk kembali pulang.
Orang yang melintas dan menatap Dilya tadi menghampiri kumpulan orang dimana cowok misterius mirip Giyan berada.
“Eh, bukannya itu seragam sekolah loe ya? Siapa anak itu?” tanya orang yang melintas tadi pada cowok misterius itu.
Mereka pun menatap ke arah Dilya yang mulai samar-samar terlihat.
“Iya, siapa itu? Loe kenal sama dia?” tanya cowok yang lain.
“Gak tahu. Ntar gue samperin dulu,” kata cowok misterius itu lalu pergi dari kumpulan itu, kemudian ia naik ke motornya dan tancap gas untuk mengejar Dilya.
Cowok misterius itu sangat ngebut, jadi gak perlu waktu yang lama untuk menghadang Dilya dari depan. Dilya sangat kaget dengan kahadiran cowok itu. Cowok itu pun nampak kaget saat melihat Dilya, tapi ia mencoba menyembunyikan rasa kagetnya itu.
“Eh, loe siapa? Ngapain loe datang ke area tongkrongan kami?” tanya cowok itu.
Dilya mencopot helmnya dan meletakkannya di kaca spion. Ia menatap lekat wajah cowok itu. Cowok itu sudah merasa diperhatikan oleh Dilya. Tapi ia tetap berusaha terlihat tenang.
“Haaah,,, udah deh, gak usah pake acting! Kakak tahu kan siapa saya? Pake tanya lagi, padahal barusan ketemu,” kata Dilya sambil menggeleng-gelengkan kepala dan mengibaskan tangannya.
Cowok misterius itu hanya diam.
“Eh…… kak, saya bener-bener gak nyangka kalau kakak yang begitu diidolakan itu ternyata aslinya seperti ini,” sambung Dilya pada cowok itu.
“Maksud loe apa? Gue gak ngerti.”
“Alah……… udah lah, kak. Kakak ini kak Giyan kan? Udah,,, ngaku aja!”
Cowok itu berdehem.
“Kenapa loe bisa berpikir gitu?” tanya cowok itu datar.