
Selama jam pelajaran berlangsung, Dilya tidak konsentrasi. Pikirannya melayang-layang teringat kejadian kemarin. Oleh karena itu, ia permisi ke toilet. Setelah keluar dari toilet, Dilya berjalan menuju kelasnya. Namun tiba-tiba muncul sebuah ide saat lewat parkiran belakang. Maka ia langsung menuju ke sasaran idenya setelah melihat situasi sekitar sepi. Sesampainya di sana, Dilya langsung bereaksi.
“Hahaha…rasain loe! Gue kempesin motor loe. Biar tahu rasa!” kata Dilya yang ternyata sedang ngempesin ban motor Giyan.
“Loe apain motor gue?” tanya Giyan datar yang muncul tiba-tiba.
“K…kak Giyan?! Kok bisa ada di sini?” kata Dilya gelagapan.
“Bisa donk. Gue kan bisa nyium bau-bau orang yang lagi ngusilin motor gue.”
“Oh…gitu. Yaaa…ketahuan deh,” kata Dilya melangkah pergi.
“Eh…udah ngusilin motor gue, malah main kabur aja,” kata Giyan sambil menarik tangan Dilya.
“Lepasin!” kata Dilya sambil berusaha melepas pegangan tangan Giyan.
“Gak akan! Sebelum loe ngasih tahu kenapa loe ngelakuin hal ini.”
“Saya gak suka orang yang ngebut-ngebut di jalan. Makanya saya kempesin ban motor kakak, biar kakak gak bisa ngebut-ngebut lagi. Puas?!”
“Oh…gitu?!” kata Giyan seraya melepas pegangan tangannya. “Makasih loe udah cemas dengan keadaan gue,” kata Giyan sambil tersenyum.
“Siapa yang cemas?! Saya cuma gak mau bayar uang sumbangan kalau kakak mati minggu-minggu ini, karena saya lagi gak punya duit,” kata Dilya lalu pergi.
“Dasar cewek aneh,” kata Giyan sambil geleng-geleng kepala.
***
Sepulang sekolah, Giyan udah stand by di depan kelas Dilya. Dengan langkah gontai Dilya keluar dari kelas.
“Hei…gimana pelajaran hari ini? Bisa diserap dengan baik?” sambut Giyan.
“Ngapain kakak di sini? Kan bisa nanti ketemuannya.”
“Oh,, tidak bisa. Loe nanti kabur. Lagian loe kan harus tanggung-jawab karena udah ngempesin ban motor gue.”
“Gak lah. Saya gak akan kabur. Ya udah,,, ayo buruan! Sebelum saya berubah pikiran.”
“Berubah pikiran juga gak apa-apa, gue bisa kok pergi sendiri. Tapi ….” bisik Giyan di telinga Dilya.
“Ah…. jangan! Ayo cepat pergi dari sini!” kata Dilya sambil mendorong punggung Giyan.
“Dil…mau kemana?” tanya Shela.
“Penyelidikan.”
“Kok bareng kak Giyan?” tanya Shela heran sambil mengerutkan dahi.
“Dia…dia….” Kata Dilya linglung.
“Kakak mau numpang pulang bareng Dilya, dek,” kata Giyan tiba-tiba.
“Emang motor kakak kenapa?” tanya Shela.
“Ban motor kakak kempes, dek.”
“Kok bisa, kak?”
“Gak tahu. Ada yang jahilin motor kakak kayaknya, dek. Tuh, masih ada di parkiran belakang!”