Kupikir, punya sembilan nyawa akan membuatku menjalani hidup yang berkali-kali lipat lebih baik. Ternyata tidak juga. Aku tetap menemui hal-hal menyebalkan, salah satunya dan yang paling parah tinggal di desa dengan suara anak-anak yang tak pernah tahu kapan harus libur. Mereka berisik. Sangat berisik. Sampai rasanya, otot-otot berseliweran di telingaku yang biasa kugunakan untuk mengaktifkan mode senyap, apalagi saat mulut Gigi mulai berkicau, tak lagi berfungsi. Gigi berisik. Tapi sungguh, anak-anak itu jauh lebih berisik.
Desa ini kecil. Jalannya sempit. Lebih sempit dari jalan rahasia tikus-tikus nakal yang suka mencuri makanan di dapur Bubu Tua. Tikus-tikus bodoh yang sering masuk perangkap hanya karena potongan kecil tempe mendoan. Astaga, hanya tempe mendoan. Which is…bukan seleraku. Gigi dan Bubu Tua selalu heboh tengah malam kalau si gendut berhasil terjepit. Sungguh manusia tak berperasaan. Bagaimana mungkin kau begitu bahagia melihat makhluk lain bertaruh hidup dan mati? Ya, walaupun aku juga membenci tikus-tikus nakal itu, tapi tetap saja seharusnya kau memiliki sedikit rasa empati. Sedikit saja. Cukup dengan melihatnya terjepit dan kembali tidur.
Desa ini juga memiliki jalan besar yang ukurannya lebih lebar, tapi aspalnya membludak keluar, terpisah-pisah dari lemnya. Membuat paw pink cantikku tergores-gores saat tak sengaja menginjak batu yang tajam. Tapi jumlah anak-anaknya sangat banyak. Seperti kau menemukan mesin pencetak anak dalam bentuk desa kecil di pojok kabupaten yang jauh dari peradaban dan kemajuan zaman. Aku tak membual. Gigi sering berkeluh kesah soal susah signal karena hidup di pedalaman.
Di rumah perempatan jalan yang merangkap jadi toko kelontong kecil ada tiga. Aku hapal, karena ketiga anak itu selalu ribut setiap hari dengan ritme yang sama. Si paling besar berteriak, si tengah kelewat pasrah sembari tersedu-sedu, dan si kecil menangis keras seolah besok akan kiamat. Di rumah tepi sawah ada lima. Ribut bukan main. Mungkin karena rumah mereka paling ujung, lebih dekat dengan pemakaman umum dibandingkan tetangga sendiri. Semoga saja penghuni pemakaman tak segera bangkit karena tidur mereka diganggu tangisan bocah menyebalkan.
Aku melangkah pelan di pinggir jalan. Ekorku yang berbulu lebat dan disisir rapi kuangkat tinggi-tinggi. Ekor dengan perpaduan tiga warna—hitam, putih, oranye—yang memikat siapa saja. Simbol kebanggaan. Tak boleh kotor terkena tanah lengket bekas hujan semalam. Itu akan mengurangi keanggunanku. Dan tentu saja Gigi akan mengomel. Memaksaku mandi sore-sore. Belum lagi angin desa yang bertiup tak sopan. Seolah si makhluk tak terlihat itu tak pernah diajari sopan santun saat bertiup di sekitar penerus tahta dari trah bangsawan persia sepertiku.
“Eh, Omeng!”
“Omeng…Omeng….”
Aku berhenti sebentar. Bukan karena panggilan mereka. Aku hanya sedang mempertimbangkan dua rute kepulangan. Lurus lewat jalan lengket ini, lebih cepat sampai tapi harus beradu dengan kaki-kaki kecil dan bola peyot yang menggelinding. Atau naik ke atap rumah orang, menguji adrenalin dan ketangguhanku melompati atap berbunyi kriuk...kriuk…. Tapi esok pagi akan ada teriakan heboh atap bocor karena kucing sialan naik ke atap rumahku!