Tante Gigi

Natsu Hana
Chapter #2

1. Joglo Tua dan Segala isinya

Berisik yang sama. Selalu suara ini yang menyambutku di pagi hari.

Ketukan panci peyot yang bertemu dengan sendok. Berisik, nyaring, dan membuat telinga pengang. Ini masih terlalu baik. Pagi lainnya, Gigi bisa membuat atraksi yang kelewatan. Kerumpyang…dan teriakan hebohnya menyusul kemudian, “Aduh panas, panci sialan!”

Aku menguap. Menjilati kaki depanku. Kuusak-usakkan ke wajah, menghilangkan belek di pinggiran mata. Sesekali melirik manusia paling berisik di joglo tua ini, panci peyot yang isinya berceceran di lantai, dan ekspresi marah Gigi yang tak tahu diri. Manusia memang suka menyalahkan benda lain akibat kecerobohannya sendiri.

“Sebelah sini bocornya sedikit, tapi yang di atas meja makan itu lumayan kalau hujannya deras, Gi.” Suara Bubu Tua datang dari area makan. Memperhatikan atap genteng yang remuk dan membiarkan aliran air hujan masuk, turut menginap semalam. Ah, sepertinya itu remuk karena terinjak kakiku saat lompat dari pohon durian. Tapi ya, jangan menyalahkanku sepenuhnya. Joglo kalian saja yang sudah reyot, tua, dan harus segera dibongkar untuk dibangun rumah yang lebih layak.

Maksudku, siapa yang masih mempertahankan rumah rongsokan ini tetap berdiri? Tak bisakah membuat rumah yang lebih nyaman? Minimalis, warna putih bersih, juga pintu geser yang mudah kau geser-geser.

Joglo ini…oh astaga! Demi penguasa alam semesta, bahkan angin yang berdesir, merangsek masuk saat malam bisa membuat suara mengerikan. Mirip suara perempuan berambut kusut panjang yang biasa terbang ke pohon durian di sebelah rumah. Aku nyaris jantungan di bulan-bulan awal kepindahanku. Langit-langitnya tinggi, dengan lampu zaman purba yang entah bagaimana masih berfungsi dengan baik. Saat Bubu Tua sedang kangen masa kecil di rumah Mbah Buyut menyalakan sentir di lampu itu. Aku nyaris buruk sangka kalau aku akan ditumbalkan demi membuat mereka kaya raya. Kayunya tak lagi mulus. Beberapa ukirannya masih tersisa, tapi tak ada kesan estetika sama sekali. Lebih mirip wajah nenek-nenek yang mudah marah hanya karena susah buang air.

Dan aromanya…Ya Tuhan. Jangan harap menemukan wangi lavender dari diffuser yang menyemprot dengan patuh seperti di rumah lamaku. Di sini kau hanya akan menghirup bau kayu lapuk—apalagi setelah hujan deras—asap dapur, dan kenangan masa lalu yang dibiarkan mengendap terlalu lama.

Itu masih bisa kuterima dengan tak lapang-lapang amat. Ada satu hal paling parah di rumah ini. Tak ada pasir wangi. Aku ulangi, tak ada pasir wangi.

Sebagai kucing persia dengan darah kebangsawanan yang kental, mengalir dalam dirku, ini adalah penindasan hak atas rasa aman. Aku dipaksa buang air di kebun. Kau tahu? Tanah basah, semut licik, dan iuh…cacing! Aku, Omega Fluffington II, yang dulu punya toilet pribadi. Bisa kering sendiri, dengan aroma vanilla impor langsung dari Jepang, kini harus menggali tanah basah untuk menyembunyikan kotoranku seperti hewan liar. Lalu, saat ada manusia malang yang tak sengaja menginjak kotoranku—yang padahal sudah kukubur dengan sangat baik—siapa yang disalahkan?

“Omeng nakal! Kenapa buang air sembarangan?”

Oh, tentu saja itu suara protes Bubu Tua, ibunya Gigi. Satu-satunya manusia yang betah berlama-lama di kebun. Menanam daun-daun, menyiramnya, memanennya dengan sepenuh hati, dan memakannya dengan bangga.

Bubu Tua adalah penghuni joglo yang paling tak menghargai aku. Dia pandai mengomel dan marah-marah. Mungkin karena dia satu-satunya yang sering menginjak kotoranku, membuat kakinya gatal-gatal. Tapi memang aku peduli?

Dulunya, saat Gigi masih kecil dan menggemaskan, Bubu Tua adalah pedagang ulung yang canggih dalam jual beli. Dia menjual apa saja yang dibutuhkan manusia. Dari sembako, hasil kebun, rempah-rempah, alat tulis sekolah, sampai sayur-mayur. Karena masih sedikit warung, Bubu Tua memimpin perdagangan di desa ini. Bekerja sama dengan pembisnis turunan Tionghoa untuk membeli cengkeh basah dan menjualnya dalam kondisi kering. Cengkehnya dijemur sampai memenuhi lapangan desa di dekat pemakaman sana.

Lihat selengkapnya