Tante Gigi

Natsu Hana
Chapter #3

2. Omeng si Kembang Desa

Menjadi berbeda berarti tak seperti kebiasaan. Tak mengikuti suara terbanyak. Dan sebagian yang tak mengerti akan menatapmu heran, karena kau tak biasa.

Begitulah aku dan aku bangga mengakuinya. Kau bisa mencatatnya baik-baik di kepalamu agar tak bernasib sama seperti kucing-kucing jantan kampung di desaku tinggal. Omeng adalah kucing yang tak biasa.

Karena tak biasa, jelas aku tak seperti kucing betina pada umumnya. Aku tak mudah jatuh hati. Apalagi pada jajaran kucing jantan kampung tak tahu malu. Aku masuk dalam jajaran wanita independen. Steril sejak umur enam bulan karena aku memilih child free dan aku bangga karenanya. Aku tak butuh pengakuan dari siapa pun, termasuk para jantan yang bisanya numpang di pagar rumah sembari mengeong-ngeong kelaparan. 

Gigi sering bilang kalau aku ini kembang desa. Apalah perempuan itu, suka asal bicara. Jelas-jelas aku kucing belang tiga dengan bulu ekor lebat penuh kehormatan. Kenapa pula dia bilang aku kembang?

Ayolah, aku bukan sejenis mawar merah merona yang punya duri di batang dan suka dikerubungi lebah penyengat kalau pagi. Untuk apa punya duri? Aku punya cakar cantik dan taring mengkilap yang kubersihkan tiap Minggu pagi. Dan dikerubungi lebah? Tidak. Aku Omeng si independent woman. Aku tak butuh dikerubungi siapa-siapa.                                   

Aku juga bukan sejenis bunga matahari yang mekar lebar dan kelewat bodoh karena terus tumbuh mengikuti sinar matahari. Hei, coba pikirkan ini, makhluk bodoh mana yang tahu bahwa matahari panas dan masih sempat-sempatnya tumbuh mengikuti sinarnya?

Tapi ngomong-ngomong, walaupun aku sudah berkali-kali menegaskan kalau aku tak butuh dikerubungi, tetap saja ada beberapa kucing jantan kurang kasih sayang yang rutin hadir ke rumahku. Ah, maksudnya, rumah joglo penuh debu milik Gigi. Rumah yang hampir roboh saking tuanya. Dan Gigi tak juga punya uang untuk membuat rumah yang lebih layak.

Jenis pertama, si trio oren. Ngomong-ngomong, ini yang paling norak. Geng kampung paling tak beradab yang setiap hari mengintai tak sopan seperti paparazi di pagar rumah.

Pertama ada si kampung Molly. Astaga, kenapa pula namanya Molly? Dia yang paling buruk di antara ketiga oren. Sudah lanjut usia dengan bulu yang mulai rontok. Sok memelas kalau di depan manusia. Tapi saat kau berkedip sebentar saja, dia akan langsung menyusup masuk ke dapurmu dan mencuri sarden dari balik tudung saji. Dia adalah peliharaan sepasang kakek-nenek. Pantas saja kan penampilannya seperti orang tua yang kusut dan mudah tersinggung.

Kedua, oren pendatang yang betah di sekeliling rumah. Saking betahnya dia mengira joglo tua ini adalah rumahnya. Akibatnya, halaman rumah jadi sering bau pesing gara-gara dia yang suka menandai wilayah seenaknya.

Lihat selengkapnya