Tante Gigi

Natsu Hana
Chapter #4

3. Penindasan Hak Asasi Omeng

Pagi yang lain, di rumah yang sama. Bersama manusia yang sama dan suara kicauannya yang selalu sama.

Aku baru membuka mata saat suara panci bertabrakan dengan tutupnya yang diletakkan terlalu keras oleh Gigi. Mulutnya tak berhenti mengoceh. Melantunkan sebuah lagu yang itu-itu saja setiap harinya. Selalu sama. Berisik. Sumbang. Membuat telingaku pengang.

Hoaamm….

Tidurku semalam tak terlalu nyenyak. Hujan deras dengan suara petir yang menyambar-nyambar membuat jantungku berdebar kencang. Aku lebih suka tidur di rak buku dekat meja kerja Gigi, tapi karena semalam hujannya mengerikan, aku terpaksa, sangat terpaksa numpang tidur di kamar Gigi. Di lantai tentunya. Di kolong ranjangnya. Perempuan berisik itu tak pernah rela berbagi ranjangnya yang sempit. Padahal selimut bulu merah muda yang dia gunakan cukup nyaman. Aku bisa tidur lebih nyenyak kalau menempel diam-diam saat Gigi sudah pulas.

Aku meregangkan kaki depanku yang pegal. Tak langsung beranjak. Aku punya kebiasaan baik setiap bangun tidur. Membersihkan buluku yang mengkilap agar awet cantik dan halus. Kuku-kukuku yang meruncing panjang. Harus tetap rapi dan elegan. Kuku yang kujaga baik-baik, tetap tajam, mampu menyakarmu dalam-dalam. Tapi tenang, aku tak suka menyakiti makhluk lain. Bukan karena aku baik. Hanya saja sayang kukuku yang runcing cantik ini kalau harus menyentuh benda lain.

“Eh, Omeng. Sini makan, Meng.” Suara lengkingan Gigi menyambutku saat kakiku menapaki lantai dapur yang dingin. Lebih dingin. Di bagian pojokan dapur terlihat genangan yang belum kering. Hah, dasar rumah joglo tua. Reyot di mana-mana. Hujan sedikit langsung bocor sana-sini.

Sarapan pagiku sama, dry food dan wet food yang dicampur. Ini akal-akalan Gigi agar tak keluar uang terlalu banyak. Harga wet food lebih mahal. Padahal aku suka varian rasanya. Apalagi yang tuna kalengan. Tapi selain berisik dan menyebalkan, perempuan ini juga pelit. Terlalu perhitungan.

“Nah, perbandingannya sudah pas. Komposisi ini paling pas buat kamu biar nggak mencret lagi, Meng.”

Demi Tuhan Anabul! Apa-apaan perempuan ini? Kapan aku mencret?

Aku tak pernah terkena penyakit laknat yang melunturkan keanggunanku itu. Aku hanya pernah sedikit sakit perut dan mulas ringan. Tak sampai mencret…seingatku begitu.

Itu semua gara-gara Gigi yang terlalu antusias setelah membeli wet food baru. Tanpa dosis yang tepat dia langsung memberiku setengah kaleng. Dan aku? Hey, aku kucing cerdas. Diberi banyak ya kumakan semua. Kenapa harus menolak saat makanan terhidang cuma-cuma di hadapanmu?

Untuk hari-hari setelahnya, Gigi sibuk mencampur-campur makananku dengan perbandingan yang tak kupahami. Terkadang wet food lebih banyak, terkadang dry food yang lebih banyak. Dan akhir-akhir ini, dia menemukan porsi yang tepat. Terserah dia saja lah, asal perutku kenyang dan dia masih memikirkan porsi makanku.

“Siang nanti terakhir dapat camilan ya. Camilannya habis dan belum beli lagi.”

Ck, memang dasar pelit! Kan dia yang mengecek stok makananku setiap hari. Kenapa bisa sampai camilan habis dan tak membeli lagi? Aku ini memang korban di sini. Selalu mengalah dan harus menerima kalau porsi makanku dikurangi.

Lihat! Di meja makannya saja penuh. Dari aromanya ini jelas telur ayam dadar, ada hijau-hijau oseng, ada yang direbus juga, dan ada sambal cocolan. Itu kerjaan Bubu Tua yang selalu memetik dedaunan di kebun samping rumah.

Manusia memang serakah. Dari telur hewan sampai daun-daunan ditelan semua. Sedangkan aku, lagi-lagi hanya bisa menghela napas karena makan dry food yang sama dan wet food varian tuna yang rasanya tak seenak produk sebelumnya.

“Nanti biar Ibu yang panggil tukang, Gi. Tapi kalau memang belum ada uangnya nggak apa-apa belum dibenerin. Cuma dapur yang bocor kok. Pun bocornya kalau hujan.”

Lihat selengkapnya