Tante Gigi

Natsu Hana
Chapter #5

4. Revolusi Terkeren Omeng

Sore yang muram. Bukan cuaca atau langitnya yang muram. Matahari masih bersinar terang. Langit biru seharian mulai berubah oranye. Yang muram hatiku.

Kau tahu, saat hatimu muram, mau secerah apa hari itu akan tetap tampak muram. Karena yang berada dalam dirimu adalah hatimu, bukan cuacanya, bukan langitnya.

Demi Maling Ayam yang bahkan bisa makan kenyang dan bergizi—walaupun kurang higienis karena dia makan ayam mentah. Sungguh, aku tak mengerti kenapa manusia itu hidupnya terlalu menyusahkan diri sendiri?

Mereka membuat rumah besar-besar dan sangat lebar hanya untuk diperbaiki saat gentengnya bocor. Belum lagi bau kayu lapuk karena tak diperbarui sejak lama. Membiarkannya berdiri, menua, tanpa perbaikan.

Mereka sibuk mencari yang namanya uang karena ada yang namanya uang bulanan. Sungguh, ini paling tak masuk akal. Untuk apa lagi mereka harus pusing-pusing seperti Gigi sampai matanya menghitam hanya untuk uang bulanan, kalau sebenarnya mereka serakus itu?

Coba ingat-ingat makanan yang terhidang di meja. Gigi dan Bubu Tua selalu makan semuanya dari makhluk lain. Telur dari ayam. Maksudku, ya ampun untuk apa kau mencari uang banyak-banyak untuk sebutir telur? Ayam saja tidak membutuhkan lembaran uangmu. Lalu daun-daunan itu juga dipetik seenaknya dari tanaman-tanaman di kebun. Aku tak pernah melihat Bubu Tua memberikan lembaran uang pada tanaman katuk di sebelah rumah. Lalu kenapa harus memusingkan yang namanya uang?

Sepertinya manusia memang bernasib kurang baik. Entah karena mereka terlalu bodoh mengatur uang-uang yang terus mereka cari. Entah karena mereka terlalu rakus, apa-apa ditelan.

Ya ampun, mengabsen deretan dosa manusia memang membuat otakku bekerja lebih keras. Dan saat otak cantikku ini berputar lebih dari yang seharusnya, perutku jadi lapar. Coba kita lihat, apakah Gigi sempat beranjak dari kursi kerjanya sekadar mengecek wadah makananku.

Demi penguasa alam semesta, belum diganti!

Hanya ada beberapa butir dry food yang sudah dicicipi oleh semut. Iuh, aku tak suka berbagi. Bukan karena aku pelit. Tolong ya, yang pelit itu Gigi, bukan aku. Aku hanya tak suka jika area kekuasaanku yang seharusnya untuk aku sendiri harus dibagi-bagikan ke makhluk lain.

Ngomong-ngomong aku sering berpikir bahwa semut ini adalah makhluk yang suka ikut campur. Mereka suka mengerubungi apa saja. Gula di toples teh Bubu Tua, tetesan madu di meja makan, sampai bekas tulang ayam yang Gigi kumpulkan untuk dibuang. Mereka kecil, tapi selalu rombongan. Tak sepertiku yang independen. Semut selalu mengajak koloninya untuk hal apapun, termasuk bergotong royong mengambil beberapa butir dry food-ku.

Tak…tak…tak….

Mari kita tunggu, apakah perempuan berisik itu mendengar seruanku? Ayolah, aku lapar dan tak sudi menghabiskan makanan bekas semut.

Gigi tak terlihat juga. Apa soal gaji itu belum selesai?

Kuletakkan kaki depanku sekali lagi di pinggiran tempat makanku yang cantik higienis. Tak…tak…tak….

Tak ada jawaban. Luar biasa! Jadi benar perempuan itu lebih memilih mengabaikanku. Aku baru saja ingin mengetuk sekali lagi saat suara lain muncul dari arah kamar depan. Suara kecil. Serak. Mengganggu. “Tante….”

Oh, tidak! Bocah nakal itu. Kenapa kali ini? Mau minta dua ribu untuk beli cilok? Atau es kado? Atau siomay?

“Tante Gigi, aku mau sama Mama.”

Rengekannya panjang, memelas, dan manja. Persis seperti anak kucing lahir kemarin sore saat ditinggal induknya minum air keran. Terdengar menyedihkan dan menyayat hati kalau saja aku tak sedang kelaparan. Tapi kali ini aku lebih setuju bocah itu berisik, berlari-larian dengan teman-temannya yang kukunya hitam. Tak bisakah dia merengeknya nanti saja?

Lihat selengkapnya