Tante Gigi

Natsu Hana
Chapter #6

5. Rumah Abu

Langkah demi langkah menyusuri jalanan tanah yang agak lembap. Jejak kakiku tercetak sempurna di permukaannya. Aku tak mengerti, jejak kakiku saja telihat sangat anggun dan tegas. Sangat aku.

Ini pasti akan membuat Gigi menyesal sepanjang hidupnya. Telah menyia-nyiakan aku, Omega Fluffington II, persia dari trah bangsawan yang kebetulan nyasar dan terdampar bertahun-tahun di rumahnya. Sebenarnya aku sangat menyayangkan keputusannya yang memilih mengabaikan aku. Kalau dia sedikit saja lebih baik, tentu aku tak akan kabur begini.

Oh, ayolah. Kabur dari rumah. Terdengar sangat dramatis bukan? Tapi saat penindasan jelas-jelas menindasmu sampai di lini terkecil—jatah snack siang misalnya—kau akan memiliki hak untuk memperjuangkan harkat dan martabatmu.

Aku pernah mendengar kalimat ini dari seorang manusia bermata sipit yang sering Gigi dengarkan lewat ponsel bututnya. Ngomong-ngomong, ponsel Gigi itu keluaran lama. Merk murah. Tak pernah mengikuti perkembangan zaman. Bagian belakang ponselnya bahkan sudah bergaris memanjang. Seperti akar serabut tanaman leunca di kebun samping rumah yang sering dicabut paksa oleh ayam-ayam tetangga. Setelahnya Bubu Tua akan mengomel panjang pada ayam-ayam itu. Untuk selanjutnya lagi-lagi, aku, si makhluk berbulu paling sabar di dunia, yang terkena omelannya. Bubu Tua bilang, “Seharusnya kamu mengejar ayam-ayam itu, Omeng, supaya ada kerjaan. Bukan malah makan tidur nggak ada gunanya!”

Jujur saja itu penindasan paling menyakitkan. Sudahlah jatah makanku dipotong. Tak ada lagi snack siang. Lalu manusia keriput yang lebih suka menggulung rambutnya dengan karet gelang itu mau memperbudakku sebagai pengejar ayam. Bukankah itu keterlaluan?

Oh ya ampun, kenapa pula aku harus membahas dua manusia penindas itu? Baik, ayo kembali ke manusia sipit yang suka muncul di ponsel Gigi. Aku mendengar kalimat soal, kita hanya boleh bersabar saat terkena ujian yang memang ditakdirkan untuk kita. Tapi saat jelas-jelas kau menerima penindasan atau ketidakadilan, kau punya kesempatan untuk melawan dan memperjuangkan harga dirimu.

Ngomong-ngomong, aku setuju dengan kalimat itu. Maka dari itu mari kita mencari manusia yang punya banyak uang. Atau manusia yang menyukai makhluk berbulu halus lebat indah sepertiku. Bisa juga manusia yang cukup bodoh untuk mau menyisihkan banyak waktu, tenaga, dan hartanya untuk menghidupiku.

Ah itu dia. Rumah dua lantai menghadap barat dengar pagar depan yang tak begitu tinggi. Rumahnya maminya si abu. Kau mengingatnya kan? Si persia manja yang juga menyukaiku tapi kutolak. Karena aku tak suka anak manja atau kucing manja atau makhluk manja lainnya. Sungguh, manja itu merepotkan.

Dari segi tampilan rumah sepertinya ini mencerminkan banyaknya harta yang mereka timbun. Ini layak menjadi salah satu kandidat. Aku melangkah masuk dengan santai, anggap saja rumah sendiri. Semakin kau percaya diri, akan semakin baik.

“Loh, Omeng.”

Oh abu, “Hi.”

“Apa yang kau lakukan di rumahku?”

Ini kesempatan emasnya. Abu menyukaiku. Dia bisa merengek pada maminya untuk menampungku juga. Begitu maminya tak tega melihat wajah gempalnya yang penuh lemak itu, aku akan diizinkan tinggal di sini. Untuk setelahnya, aku akan mencari mukaku yang hilang karena terlalu lama memendam rasa menyebalkan di joglo reyot itu. Begitu mukaku berhasil kutemukan, aku akan menjadi kucing paling disukai si mami. Selanjutnya aku akan merencanakan proses pengusiran abu agar aku menjadi satu-satunya kucing di sini.

Ide brilliant bukan? Jelas sekali. Omeng ini selain anggun juga mampu menggunakan otaknya dengan benar.

Ngomong-ngomong kalau kau tanya, kenapa harus mengusir abu dan menjadikanku satu-satunya? Jelas sekali karena aku tak suka berbagi makanan.

Tentu saja aku akan memperburuk citra Gigi. Manusia bodoh yang tak menjalankan kewajibannya sebagai makhluk terpilih untuk merawat kucing persia trah bangsawan sepertiku. Tega memotong jatah snack dan jatah makanku. Lalu aku kelaparan dan memutuskan keluar dari rumah itu.

Tentu saja aku juga menyembunyikan perutku yang menyembul di balik kaki depanku. Memasang ekspresi sememelas mungkin. Tujuannya agar abu mau menyampaikan pada maminya kalau aku butuh tempat tinggal.

“Aku pergi dari rumah,” ujarku jujur. Harus terang-terangan. “…dan sedang mencari tempat tinggal.”

Lihat selengkapnya