Aku melanjutkan perjalanan. Maminya si abu tak masuk daftar manusia kaya raya yang kucari. Aku membutuhkan rumah besar dengan kekayaan yang nyata. Bukan hanya hasil utang untuk menyuapi gengsimu yang setinggi langit.
Manusia memang konyol. Untuk apa merepotkan diri sendiri sampai utang ke rentenir?
Oke, mari cari lagi yang lebih baik. Aku pasti akan menemukannya.
Krasak…krasak….
Yak! Suara tak elegan apa itu? Dan…bau apa ini? BUSUK!
Ini bukan jenis bau yang bisa dikompromi. Bukan juga bau busuk gas manusia atau kotoran hewan yang tertimbun di kebun samping rumah. Ini semacam timbunan masa lalu yang terus ditumpuk-tumpuk. Menjadi menggunung dan memamerkan baunya yang tak ramah bagi indra penciuman bangsawan sepertiku.
Asalnya dari jalan masuk kecil yang becek. Aku berjalan pelan ke arah sana. Begitu aku sampai…luar biasa. Selain konyol, manusia memang kelewat sinting.
Gigi pernah bilang suatu hari pada Bubu Tua untuk tak memarahiku karena menurutnya, otakku hanya sebesar otak manusia berusia 2 tahun. Jadi saat aku melakukan kesalahan cukup diberitahu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Ngomong-ngomong aku setuju dengan bagian dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tapi tentu saja aku menentang penyebutan otakku hanya sebesar otak manusia berusia 2 tahun. Bukankah itu penistaan terhadap bangsa kucing yang pernah memimpin dunia pada masanya?
Coba lihat sekarang, kalau memang otak manusia lebih bisa difungsikan daripada otak kucing, kenapa mereka bisa membuat pegunungan dari sampah begini? Astaga. Aku saja buang air di kebun dan langsung dikubur dengan tanah. Tidak bisakah mereka membuat alat atau semacamnya agar tak ada pegunungan sampah bau, kotor, menjijikan begini?
Krasak…krasak….
Kau dengar itu? Itu pasti suara perkumpulan kuman-kuman yang sedang mengerubungi pusat kotor. Kalau pegunungan ini dibiarkan begitu saja, mungkin kuman-kuman yang berkumpul bisa terus makan dan membesar. Mereka tak akan lagi seukuran kecil yang tidak bisa dilihat. Mungkin mereka akan semakin membesar, membesar, seukuran kucing, punya bulu, dan berwarna oranye.
Oh, ngomong-ngomong, aku benar-benar melihat makhluk berbulu oranye di depan sana.
Krasak…krasak….
Loh, “Prutul?”
Salah satu dari trio oren yang bulunya lepek—aku tak tahu sudah berapa lama dia tak mandi—dan aromanya yang membuat hidungku berkerut tak suka. Dia mendongak, matanya sipit seperti lampu yang hampir kehilangan dayanya. Entah karena kelelahan, entah karena dia sudah terlalu tua. Di mulutnya ada kresek yang sudah robek sana-sini. Dia mengeluarkan sesuatu berwana hitam, punya mata, dan bau. Itu kepala ikan asin. Ada beberapa tulang ikan juga yang tampak menggenaskan. Dia menatapku, matanya membulat, dan buru-buru melepaskan kepala ikan itu dari mulutnya. Dia berjalan mendekatiku dan astaga…baunya seperti kau tak punya masa depan.
“Omeng, apa yang kau lakukan di sini? Kalau mencariku, tak perlu sampai ke sini. Aku yang akan ke rumahmu nanti.”
Apa katanya? Bagaimana bisa dengan penampilan yang kumal dan bau dia bertanya tak sopan begini. “Heh, jangan asal bicara! Untuk apa juga aku mencarimu? Tak jelas sekali.”
“Tapi ngomong-ngomong, sedang apa kau di sini? Pantas baumu tak ramah di hidung, ternyata kau suka bermain-main di tempat seperti ini.”
“Aku tak bermain-main, ini area mencari makan kalau aku tak dapat makanan dari tempat lain,” jelasnya.
Aku mengernyit tak mengerti, mengedarkan pandanganku ke gunungan sampah yang berantakan dan kotor di mana-mana. “Makan apa dari tempat seperti ini? Kau tak akan menemukan tuna kaleng atau ayam suwir di sini.”
“Benar, makanan semacam itu tak akan ada di sini. Ini hanya pilihan cadangan kalau tak ada makanan dari tempat lain. Gigi juga tak menyiapkan apa-apa hari ini. Biasanya kalau aku dan Maling Ayam ke sana, Gigi akan langsung memanggil kami dan memberi makan. Siang tadi aku ke sana, rumah kalian sepi. Gigi tak kelihatan.”
Oh, pantas. “Penyakit pelitnya sedang kambuh. Snack siangku juga dipotong.”
Eh, tapi tunggu dulu. “Kau selama ini hanya makan dari makanan pemberian Gigi?”
Maling Ayam muncul dari balik gunungan sampah. Wajahnya tak bersahabat. Badannya sudah kotor sekali, ada kresek buruk rupa tersangkut di telinganya. Dia menendang sebal pada kaleng sarden kosong. “Tak ada sisanya. Manusia yang memakannya membersihkannya dengan sanga baik. Lihat!” tunjuknya pada kaleng bekas yang sudah tergelinding di depan Prutul. “Sambalnya pun tak tersisa. Mereka benar-benar mengalami kesulitan hidup sampai tak memberi sisa pada kami.”
“Kudengar barang-barang kebutuhan memang sedang naik harga,” sahut Prutul prihatin. “Oh, Omeng kami mendapatkan makanan dari banyak tempat. Tapi jujur saja, memang pemberian Gigi yang paling enak.”
Maling Ayam mendekat setelah berhasil melepaskan kresek dari telinganya. “Aku tak berburu lagi. Sebenarnya ayam-ayam kecil masih banyak, milik neneknya Molly juga baru menetas. Tapi minggu lalu Gigi menasihatiku saat memberi makan, katanya tak baik mencuri ayam milik tetangga. Takut kena azab.”
Prutul mengangguk-angguk setuju. “Itu benar. Aku juga pernah kena azab kan gara-gara mencuri ikan asin dari dapur manusia. Bulu bokongku rontok setelah disiram air panas. Kau tahu, itu menyiksaku berhari-hari. Kulitku jadi merah-merah, panasnya tak mudah hilang.”
Sungguh kucing-kucing malang yang tak ada gunannya. Keduanya sama-sama berprofesi sebagai maling, maling anak ayam dan maling ikan asin. Aku tak mengerti, di tengah hidup yang tak terlalu panjang ini, keduanya masih cukup berenergi untuk melakukan tindak kriminal. Tak tahukah berapa banyak yang dirugikan dari perbuatan mereka? Pantas saja kan sampai kena azab.
Kenapa juga mereka malah memilih keluar dari rumah? Padahal tinggal di rumah itu menyenangkan. Kau tak kena hujan, tak kena panas. Bisa tidur-tiduran sepanjang hari, apalagi kalau kau punya kesempatan bermalas-malasan di depan kipas angin. Mandi cantik menjilati bulu-bulumu agar tetap mengkilap juga menyenangkan. Ah, dan merobek-robek sofa sampai busanya menyembul keluar, itu yang paling seru!
“Pulang saja kalau begitu. Makan dari tempat sampah tak cukup sehat dan kalau kau mencuri kau bisa kena azab.”