Langkahku terus menapaki jalan desa yang aspalnya sudah berhambur-hamburan, keluar dari lem perekat. Membuat beberapa batu tajam itu menusuk pawku yang pink menggemaskan. Awas saja kalau sampai paw imutku ini terluka!
Di kanan kiriku berdiri rumah-rumah manusia. Ada yang besar ada yang kecil. Berdiri berserakan sesuai keinginan maisng-masing. Berwarna kusam dengan lampu-lampu kekuningan yang membuat mataku pedih. Tak bisakah mereka menggantinya dengan warna yang lebih jernih?
Aku berhenti di depan rumah dengan ukuran yang tak terlalu besar, bahkan dapur joglo Gigi jauh lebih besar. Di halaman, ada tiga manusia kecil yang berlarian, saling kejar, saling sikut, dan suara mereka yang bersahut-sahutan heboh. Seperti anak ayam yang baru saja dikeluarkan dari petarangannya. Bedanya, manusia kecil ini keluar saat hari menjelang malam. Untuk apa coba?
Di teras, seorang manusia jantan—atau manusia sering menyebutnya laki-laki—sedang duduk diam di kursi bambu. Tak bergerak, tak terganggu dengan suara manusia-manusia kecil yang sepertinya hasil perbuatannya, saling menyahut dengan volume tak ramah. Tangannya sibuk memijat-mijat layar ponsel. Sepertinya si ponsel kembali masuk angin dan harus segera disembuhkan. Karena kutahu, jantan seperti dia tak mungkin menatap layar ponsel lama-lama untuk menonton laki-laki Korea dengan alasan mengurangi stress. Itu jelas hanya dilakukan oleh Gigi.
Salah satu berlari ke arahnya dengan wajah tak terima. Siap mengadukan perbuatan jahat saudaranya. “Pak, dia menarik-narik bajuku sampai begini,” adunya. Menunjukkan lengan sebelah bajunya yang melorot. Yak, padahal itu bisa dibenarkan sendiri!
Manusia jantan itu tak menoleh, sama sekali tak terganggu. Dia lebih tertarik pada layar ponselnya. Karena memang masalahnya mungkin tak begitu fatal. Si manusia kecil saja yang merepotkan.
Manusia kecil berikutnya datang. “Pak, dia nakal. Aku dipukulnya! Lihat tanganku membiru.” Dia menunjukkan lengannya yang katanya membiru. Tak terlalu jelas dari sini.
Tetap diam tanpa reaksi apa-apa. Dia tampak seperti sedang menjalani hening cipta untuk mengenang jasa para pahlawan yang biasa dilakukan anak sekolah saat upacara bendera di Senin pagi. Oh, tentu saja aku tahu. Mujaer yang menceritakan soal ini padaku karena dia sempat ikut upacara bendera di sekolah dasar ujung desa sana. Itu kamuflase klasik untuk melancarkan aksi pencurian tempe mendoan di kantin sekolah.
Bocah ketiga berlari dan astaga…dia terjatuh di tanah dan menangis keras. Suaranya benar-benar berisik sekali. Sudah tahu tanah licin, bekas hujan semalam, masih berlari-larian. Lagi pula ini sudah hampir gelap. Seharusnya mereka masuk, duduk di ruang tengah sambil menonton tv dan disuapi oleh ibunya. Seperti Faya yang akan telungkup di karpet sambil mewarnai. Cerita banyak hal dan hanya perlu membuka mulut karena Gigi akan menyuapinya makan malam.
Aku tak habis pikir, kenapa manusia sebodoh ini? Ayam saja tahu kapan harus membawa anak-anaknya keluar untuk jalan-jalan dan mencokeri tanah untuk mencari makan. Sedangkan manusia jantan ini tetap diam. Hanya sesekali menghela napas panjang seolah-olah kakinya terlalu pegal setelah mengais tanah untuk mencari makan anaknya.
Tak lama seorang perempuan dengan rambut berantakan keluar dari dalam rumah. Wajahnya tampak lelah, berkeringat. Ada bayi dalam gendongannya, sebelah tangannya memegang spatula. Di sebelahnya berdiri manusia kecil lainnya yang ukurannya lebih kecil dari yang di halaman. Dia berkali-kali mengusap hidungnya yang mengeluarkan ingus.
Sebentar…mari kita hitung. Satu bayi. Tiga anak berisik berlarian. Dan manusia kecil yang ukurannya lebih kecil. Lima! Lima manusia kecil yang bisa membuatmu mati muda.
Hey, yang benar saja? Dengan rumah kecil ini, mereka menyimpan lima anak?
Mari coba pahami bagaimana manusia yang katanya paling sempurna itu menggunakan otaknya. Ukuran rumah mereka tak begitu besar, bukankah seharusnya isinya tak usah banyak-banyak? Agar mereka semua bisa masuk tanpa berdesak-desakan. Misalnya dengan dua orang dewasa dan dua manusia kecil. Itu sudah akan membuat pergerakanmu tak bebas. Kau tahu, manusia kecil terkadang memakai bagian yang lebih banyak karena mereka tak bisa diam. Atau satu saja, yang sejenis Faya juga sudah membuat tidur siangmu terganggu. Atau sepertiku yang memilih tak memiliki anak. Steril sejak dini. Menjalani hidup yang damai dan bahagia.
Tapi cara manusia hidup sepertinya tak sesederhana itu. Mereka semacam punya jadwal dan target yang harus dicapai. Punya anak sebanyak yang kau bisa lalu kelelahan karena mengurusi anak-anak yang kau lahirkan. Benar-benar cara hidup yang bahkan kucing persia dengan darah bangsawan sepertiku saja tak mampu capai.
Aku menggeleng, sudah, sudah! Mengingatkan diriku sendiri bahwa itu bukan urusanku. Urusanku adalah mencari rumah orang kaya yang suka menimbun kekayaan. Aku menjilati kaki depanku sejenak, lalu melanjutkan perjalanan.
Beberapa rumah yang kulewati lebih terang. Sepertinya si pemilik rumah sudah cukup peduli pada kesehatan mata dan memilih warna lampu yang lebih jernih. Suara televisi terdengar keras sampai ke jalan. Suara orang sedang bertengkar. Itu tontonan khas ibu-ibu di daerah sini. Istrinya Om Botak juga penikmat nomor satu drama murahan yang tayang setiap sore.