Tante Gigi

Natsu Hana
Chapter #9

8. Dunia Mengerikan di Luar Sana

Helaan napasku mengeluarkan asap tipis yang menandakan udara mulai mendingin. Bintang-bintang berkelipan. Terlihat jelas di sela-sela atap seng tua dari rumah-rumah manusia.

Suasana seperti ini selalu membuatku rindu. Masa lalu yang indah dan nyaris terlalu sempurna. Layaknya kerlipan bintang yang hanya memberimu waktu sesekali untuk mengenang indahnya. Namun tidak dengan kembali menyusuri masa itu. Karena aku sekarang berdiri di sini, di tengah jalanan desa yang buruk rupa. Di antara rumah-rumah warga yang kusam dan reyot.

Hah, sudahlah. Tak ada gunanya menyisakan waktu untuk mengenang apalagi sampai menangisi masa lalu. Itu tak akan membantuku menemukan rumah orang kaya yang suka menimbun kekayaan. Orang yang benar-benar kaya. Bukan hanya yang sok kaya ternyata hasil utang untuk menyuapi gengsimu yang ketinggian.

Aku melewati sebuah rumah dengan pagar bambu. Lantainya masih tanah. Lampu halamannya menyala kekuningan, seperti cahaya kunang-kunang. Tapi yang ini bisa membuat matamu belekan. Dari dalam rumah terdengar suara bayi menangis. Tangisan yang membuatmu sesak saat mendengarnya. Bukan sekadar rengekan manja yang biasa bayi gunakan untuk memperbudak manusia dewasa. Ini lain.

Perempuan berambut berantakan keluar, dengan bayi dalam gendongannya. Wajahnya lelah. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Tapi dia masih sabar menimang tubuh kecil itu dengan hangat. Tak peduli dengan kelelehannya sendiri.

Tak lama seorang manusia kecil ikut keluar. Wajahnya tak kalah suram. Dia menatap khawatir pada si bayi yang masih menangis. Perempuan itu duduk perlahan di kursi teras, mengusap kepala si manusia kecil dan tersenyum hangat. “Sebentar lagi ya. Pak sampai sebentar lagi.”

Benar saja. Tak lama, seorang manusia laki-laki datang. Berjalan kaki, wajahnya lelah, pakaiannya kotor. Kehadirannya membuat perempuan dan manusia kecil itu tersenyum.

Laki-laki itu memberikan sekantung kresek pada manusia kecil. “Makan dulu dengan Ibu. Adik sama Pak dulu,” ucapnya. Dengan sigap dia mengambil alih si bayi dan secara ajaib tangisannya berhenti. Oh, bayi itu rindu ayahnya.

Aku tak mengerti mengapa aku rela menyisakan waktuku yang berharga untuk menatap mereka. Jujur saja, ini hal baru bagiku. Benar-benar sesuatu yang langka.

Di rumah suram dengan cahaya lampu yang tak kalah suram, tampaknya orang-orang di dalamnya tak begitu suram. Mereka saling tersenyum, saling membantu, saling berbagi kelelahan. Laki-laki itu tampaknya memang menjalani hidup yang suram, tapi memilih tetap bertanggung jawab. Seperti kucing jantan yang berburu tikus atau mencuri ikan asin dari tudung saji milik orang. Tak apa kena pukul, tak apa bokongnya kena siram, asal anak istri bisa makan.

Aku masih di sana untuk beberapa saat sampai mereka masuk ke dalam rumah. Menyisakan suasana hangat yang entah merambat dari mana.

Ngomong-ngomong aku suka suasana hangat yang ditimbulkan. Tapi tentu saja, rumah ini masih belum layak menampung bangsawan persia sepertiku. Walaupun mereka tampak tak punya bakat berteriak saling menyalahkan, sepertinya uang mereka tak begitu banyak. Tak ada tanda-tanda mereka gemar menimbun kekayaan. Mungkin saja, kalau semua rumah memiliki aura hangat yang sama dengan rumah suram yang baru saja kulihat, desa ini tak akan begitu berantakan.

Aku melanjutkan perjalanan. Berbelok ke gang yang lebih sempit, dan oh…ini gelap. Hanya ada satu lampu yang menggantung dan tampak sudah sangat lelah menahan dayanya untuk tetap memancar. Untung saja aku kucing. Punya mata jernih yang bisa digunakan sebagai senter saat kondisi tak memungkinkan begini.

Aku baru saja hendak melompati selokan ketika suara keras muncul dari kegelapan. Langkah kaki yang membara dengan omelan yang semrawut dan tak ramah untuk telinga aristokrat sepertiku. Di belakangnya ada seorang perempuan yang mengejar. Which is, bukan gayaku.

Apa-apaan mengejar laki-laki? Astaga. Wahai manusia perempuan, berbalik dan tak usah mengejar-ngejar laki-laki. Duduk saja di rumah atau cakar-cakar sofa!

Lihat selengkapnya