Hari yang lain dengan perasaan yang sama. Membosankan! Aku membuka mataku, menggeliat anggun, dan menghela napas pasrah. Harus menerima kenyataan bahwa lagi-lagi aku terbangun di joglo reyot Gigi dengan segala hal-hal buruk yang mengusikku.
Eh tapi, ada yang aneh pagi ini. Bantalan tidurku tak keras. Ini empuk. Punggungku yang ditumbuhi bulu tiga warna mempesona tak butuh olahraga ringan yang mengeluarkan bunyi kretek…kretek…yang sungguh tak anggun itu. Aku masih tidur di kasur Gigi.
Sepertinya perempuan itu ketakutan atas kepergianku kemarin dan memutuskan untuk berlaku lebih baik padaku. Buktinya, dia tak mengusirku dari kasurnya. Padahal biasanya Gigi akan berisik pagi-pagi. Mengomel bahwa bulu-buluku yang panjang nan halus layaknya sutera menempel banyak di sepreinya dan dia harus membersihkannya. Kalau tidak buluku dianggap mengganggu kebersihan kamarnya yang sempit ini.
Nah, karena aku masih terdampar di kasurnya yang buruk tapi empuk, aku jelas tak buru-buru bangun. Mari bermalas-malasan sebentar, sembari menjilati kaki depanku yang kemarin berjalan terlalu jauh.
Oh astaga, kakiku yang cantik. Bagaimana mungkin kaki pendekku ini memiliki noda dari luar? Hitam arang. Mengganggu estetika putihnya bulu sehalus suteraku. Tapi jelas mau sebanyak apapun noda dalam diriku, tak akan mampu menghilangkan kecantikanku yang sudah mengakar. Ya mau bagaimana lagi, aku memang ditakdirkan untuk cantik sejak dilahirkan di dunia ini.
Hooaamm….
Aku beranjak, meregangkan tubuhku sejenak. Punggungku melengkung apik, kaki depan lurus, ekor terangkat tinggi dengan sudut yang tepat. Kalau kau cukup mahir dalam perhitungan matematika, kau akan terkejut dengan keseimbangan yang menjadi bagian dari bangsa kami. Dan kau tahu, ini adalah ritual wajib bagi kucing jenis apa saja. Agar kau siap bangun dan menghadapi segala standar manusia yang tak jelas itu.
Kruyuk…kruyuk…. Oh, baiklah. Mari mulai hari ini dengan sesuatu yang realistis untuk semua makhluk hidup di bumi, makanan. Banyak hal sekaligus menyambut langkahku yang sampai di dapur—suara panci yang bertemu dengan tutupnya, aroma hangat makanan, dan lantai dapur yang dingin dengan Gigi yang sudah berdiri di depan kompor.
Di kursi meja makan, Bubu Tua duduk tenang, memakai pakaian hangat. Wajahnya tampak lebih putih dari biasanya. Orang tua ini biasanya sudah di kebun, menanam, memetik daun-daun, memberi kompos, atau berteriak karena tak sengaja menginjak kotoranku sembari memaki-maki aku. Padahal salahnya sendiri menginjak kotoranku. Aku kan sudah menguburnya dalam-dalam. Ah sudahlah, bukan urusanku. Hak atas perut tetap yang utama.
Aku mengeong dengan intonasi yang tepat, agak panjang di bagian tengah. Itu adalah bahasa yang kami gunakan untuk meminta makan.
“Iya, Meng. Sebentar ya.” Gigi menjawab tanpa menoleh. Dia masih sibuk di depan wajan yang secara berkala mengeluarkan bunyi sreeeng…sreeengg….
Sebentar! Hah, itu artinya dia tak bisa melakukannya sekarang. Dengan kata lain aku harus sabar menunggunya sampai dia punya sedikit waktu untuk menuruti permintaanku. Baiklah, karena aku persia beradab aku duduk, menunggu dengan sabar. Seperti kucing-kucing orang kaya yang menunggu sarapan dengan manis.
Gigi membawa semangkuk daun-daun yang diberi air ke meja di depan Bubu Tua. “Makan dulu, Bu, mumpung masih hangat.”