Tante Gigi

Natsu Hana
Chapter #11

10. Menurut Faya, Kami Keluarga

Brak….“Tante….”

Dasar bocah nakal sialan. Tak tahukah dia kalau di sini ada tururnan bangsawan persia yang sedang tidur siang? Seenaknya saja melemparkan tas sekolahnya yang warnanya sudah memudar dengan buku-buku di dalamnya yang tak beraturan. Persis rambutnya yang panjang dikuncir dua, kusut, dan membutuhkan banyak waktu untuk meluruskannya.

Memang dia kira aku tak tahu kalau setiap pagi Gigi mengomel soal betapa kusutnya rambut panjang itu. Gigi bahkan sudah seringkali menawari agar rambutnya digunting saja. Pendek. Agar mudah disisir saat pagi hari. Kau tahu, mengurusi anak-anak nakal untuk berangkat sekolah di pagi hari adalah hal yang sangat menyebalkan. Walaupun aku tak punya anak. Tapi melihat Gigi geregetan setiap hari membuatku tahu, kalau itu bukan hal mudah.

Belum lagi dia yang heboh lari-larian saat akan dipakaikan seragam. Atau sarapan yang tak dimakan-makan. Benar-benar bocah nakal yang menguji kesabaran. Padahal kesabaran Gigi tak sebaik itu. Tapi anehnya, bocah nakal itu tak pernah kena gampar. Kalau saja aku yang mendapat tugas mendandani, sudah pasti aku cakar dengan kuku indahku yang runcing. “Roarr.”

“Eh, Faya sudah pulang. Gimana sekolahnya tadi?” Gigi mendekat, berjongkok di hadapan si bocah yang sudah duduk lesehan di ruang tengah. Berusaha melepaskan sepatunya yang jelek dan kaos kaki yang tak usah ditanya sebau apa.

Demi Tuhan Anabul! Aku tak mengerti kenapa anak-anak itu beraroma sangat menyengat dan membuat pernapasanku terganggu. Bukankah mereka di sekolah hanya menyanyi, menggambar, mewarnai, dan tebak-tebakan ringan? Kenapa pula aromanya bisa menimbulkan pengar? Aku saja yang setiap siang mengejar kupu-kupu tak memproduksi cairan tubuh sebanyak itu.

“Tante kan sudah bilang, kalau copot sepatu di teras. Taruh sepatunya di rak. Bukan dibawa masuk,” ujar Gigi sembari membantunya melepas sepatu.

“Iya, Tante. Besok-besok nggak diulangi lagi.”

Cih, alasan anak nakal. Padahal Gigi sudah menasihatinya berkali-kali, tapi tetap diulangi. Memang anak-anak ini selain berisik, menyebalkan, kotor, juga pintar berbohong.

Dia juga sangat boros. Aku sampai berpikir mungkin jatah snackku dikurangi gara-gara uang Gigi banyak dipakai oleh si bocah untuk jajan. Bocah ini benar-benar tak karuan. Setiap ada penjual jajan keliling, dia yang sedang berlari-larian dengan kawan-kawannya, akan berteriak heboh dan berlari ke rumah, “Tante, dua ribuuu.” Dan itu tak hanya sekali. Dia bisa melakukannya sampai berkali-kali. Penjual apa saja dibelinya.

“Tante, Faya punya sesuatu untuk Tante,” ujarnya antusias. Dia berlari ke ruang tamu, membawa tasnya yang tadi dilemparkan seenaknya sampai mengganggu tidur siangku yang kelewat pulas. Tak tahukah aku sedang bermimpi tidur di kasur empukku, di dalam ruangan ber-ac, dengan piring makan penuh makanan? Dan gara-gara gerakan agresifnya, aku mendadak terbangun hanya untuk menghela lelah, aku masih di joglo reyot ini.

Dia mengeluarkan sebuah kertas penuh warna. Aku tak mengerti detailnya. Yang jelas itu adalah gambar yang sangat buruk. Empat buah cilok yang ditusuk lidi, berjejer, dengan lidi lainnya yang saling bergandengan. Tapi cilok itu memiliki tambahan di bagian atasnya. Dan di dalam bulatan ciloknya ada bentuk-bentuk yang menyerupai sebuah wajah. Bentuknya tak sama. Ada yang lebih besar, ada pula yang lebih kecil.

Ah, oke, sepertinya aku keliru. Itu jelas bukan cilok. Itu adalah gambar orang yang sangat buruk. Karena dibuat oleh bocah nakal bertubuh pendek dengan rambut panjang kelewat kusut. Belum lagi warna-warnanya yang jelek luar biasa. Tak bisakah kau memberi warna yang lebih baik? Kenapa tak jelas begini?

“Lihat! Ini Faya, Tante, Yangti, dan Mama,” jelasnya sembari menunjuk satu per satu gambarnya. Aku mendekat, menatap gambar itu lebih dekat. Tak mirip sama sekali. Gambarnya lebih mirip seperti rambutnya, sama-sama kusut.

“Ini rumah,” jelasnya lagi sembari menunjukkan gambar sebuah rumah di belakang gambar empat orang itu. Rumah yang sangat kecil, jelas tak muat untuk empat orang. Dengan tambahan pohon di sebelah rumah yang lebih mirip brokoli kukus.

“Dan ini Omeng.”

Eh, aku? Mana lihat!

Luar biasa, buruk sekali. Apa-apaan bocah ini! Kenapa gambaran untukku lebih buruk lagi? Ini hanya semacam dua lingkaran di sambung diberi empat lidi di bawahnya. Dan kumisku…kenapa panjang sekali? Dia bahkan meletakkan dua bulatan mata tak sejajar. Membuat wajahku tampak penyok sebelah.

“Bu Guru bilang ini adalah keluarga. Dan keluarga harus saling menyayangi,” ujarnya ceria. Memamerkan giginya yang tanggal semua. Entah ke manalah perginya gigi-gigi itu.

Lihat selengkapnya