Tante Gigi

Natsu Hana
Chapter #12

11. Suara Kosong di Pagi Hari

Menurutku manusia itu makhluk paling aneh. Mereka berlomba-lomba mencari uang, lalu kebingungan sendiri membagi-bagikan uangnya untuk kebutuhan. Padahal di waktu yang sama, mereka juga mengambil daun-daun dari tanaman dan telur dari ibu ayam. Mereka membuat rumah dan repot sendiri untuk membersihkannya. Mereka membangun keluarga dengan banyak anak, hanya untuk mengeluh karena banyak anak membutuhkan banyak makanan. Kalau tidak kau akan mendengar tangisan, teriakan, rengekan, sampai protes marah anak-anak yang berisik.

Oh aku tahu, aku sudah mengulang-ulang pembicaraan ini di hari-hari sebelumnya. Dan kau tak diperkenankan untuk protes. Kau tahu kenapa? Karena kucing memang suka mengulang-ulang hal yang sama. Jadi terima saja. Mau bagaimana lagi. Sudah menjadi kebiasaan bangsa kami.

Ngomong-ngomong, di atas semua keanehan manusia aku paling membenci manusia yang suka menggunakan suaranya secara berlebihan. Bukan untuk menangis seperti anak-anak. Ya namanya juga anak-anak, memang merepotkan! Bukan juga yang merencanakan revolusi dan mengulang-ulang orasinya di depan kaca. Itu masih bisa kuterima. Sedikit banyak aku sependapat dengan bagian sebagian laki-laki hanya mau enaknya saja, tanpa bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya. Karena di bangsa kucing juga ada jantan yang hanya mau enaknya saja. Ayahnya anak-anak Mora contohnya. Dan ayahnya anak-anak si Momoy yang baru melahirkan 3 bulan lalu tapi kembali dihamili.

Yang paling mengganggu adalah suara bising yang digunakan untuk merendahkan orang lain. Kau tahu di mana letak menyebalkannya? Sudahlah kau bising, masih pula merendahkan orang. Benar-benar sinting. Lebih sintingnya lagi, pagi ini suara itu hadir kembali. Bising!

“Saya tuh heran sama kamu ya, Gi. Sudah dikuliahkan sampai Jogja, kampusmu katanya termasuk kampus favorit. Tapi ya percuma kalau setelah lulus malah di rumah saja. Untuk apa ijazahmu?”

Tak perlu menebak-nebak, aku langsung tahu orangnya. Siapa lagi yang ahli dalam hal ini kalau bukan Om Botak. Manusia yang rambut kepalanya tak sudi tumbuh karena dia menyebalkan.

Aku meregangkan tubuh dan hap! naik ke ambang jendela. Area strategis untuk memperhatikan apa yang terjadi, tapi cukup jauh untuk disadari. Gigi masih menyapu area garasi samping joglo dengan sapu ijuk. Garasi yang diisi mobilnya si botak.

Saat aku baru dibawa ke sini, kupikir mobil putih murahan itu milik Gigi. Karena Gigi yang selalu menyapu area garasi. Tapi akhir-akhir ini kutahu itu milik si botak karena dia yang selalu menggunakan. Gigi hanya kebagian membersihkan garasinya.

Si Botak berjalan mendekat. Kedua tangannya di pinggang. Sok jadi mandor menyebalkan yang suka asal memerintah. Gigi tak menoleh sama sekali. Masih sibuk mengumpulkan debu. Ah menyebalkan! Ini pasti akan panjang.

“Katanya kerja di rumah. Kerja apa? Nyapu, ngepel, nyuci baju, dan piring? Ah, itu sih nggak butuh ijazah sampai Jogja juga bisa,” ujarnya tertawa meledek. “Kerjaanmu aja nggak kelihatan. Cuma ngetik-ngetik di laptop. Zaman sekarang banyak yang bisa ngetik-ngetik begitu.”

Aku mengibaskan ekor. Kalimatnya mulai melantur dan terlalu sia-sia kalau tak kau dengarkan sampai akhir. Aku penasaran akan sejauh mana mulutnya berisik seenaknya.

Gigi hanya tersenyum sekilas. Tak berniat bersuara, menjelaskan, atau melemparkan sapu ijuknya ke mulut yang berisik itu. Atau apalah hal normal lainnya bagi seseorang yang jelas-jelas sedang diremehkan. Kalau itu aku, jelas sekali sudah kucakar kakinya yang berbulu itu, kucabik-cabik sampai dia berteriak kesakitan.

“Iya, Paklik,” jawabnya tanpa menoleh.

Aku berhenti menjilat kaki. Iya, Paklik hanya itu? Perempuan ini kehilangan tombol bunyinya kah?

Lihat selengkapnya