Hidungku bergerak kala aroma asing menyeruak masuk dan mengusik tidurku. Ini bukan aroma tuna kualitas tinggi yang biasa diberikan untukku. Bukan juga diffuser lavender yang menenangkan. Tak mungkin juga diffuser tiba-tiba menyemprotkan aroma di dekat tempatku tidur. Diffuser itu di pasang di tembok, menyemprot setiap beberapa menit sekali.
Awalnya aku tak terlalu peduli. Mungkin aroma dari luar yang terbawa angin dan masuk lewat ventilasi. Tapi lama-kelamaan ada suara tak kukenali menyusul. Tak terlalu jelas. Seperti benda yang digeser pelan atau benda tua yang retak dan menimbulkan suara asing. Aku benar-benar tak ingin memedulikan itu kalau saja tidur nyenyakku tak terlanjur diganggu.
Aku membuka mata. Masih gelap. Aku menatap sekeliling, kondisinya masih sama seperti saat sebelum aku tidur. Tak ada yang berubah. Tak ada yang menjawab ketidaktahuanku atas sumber suara yang seenaknya mengganggu tidur nyenyakku.
Tiba-tiba suara itu terdengar lebih jelas, lebih keras. Kemletuk yang biasanya dihasilkan dari pembakaran sampah-sampah daun kering atau ranting kering. Tapi karena ini suaranya jelas, kemungkinan ranting besar dan daun-daun besar yang dibakar.
Astaga! Aku mengangkat kepala. Dua telingaku bergerak serempak, mencoba mendeteksi bunyi dan arah datangnya. Tubuhku belum benar-benar bangun sepenuhnya, masih ada sisa kantuk yang kupaksakan pergi. Ini situasi tak biasa. Dan asal kau tahu, kucing punya insting yang cukup tajam untuk mendeteksi bahaya. Terlebih saat udara wangi yang terasa seperti rumah menyebarkan bau berbeda. Terasa lebih hangat, seperti siang hari yang panas. Menyeruak perlahan ke arahmu. Membuat pernapasanmu agak terganggu.
“Ayah?” Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Tak ada siapa-siapa. Ranjang ayah dan ibuku kosong. Dan si oren sepertinya tidak tidur di ruang tidur kami. Semalam aku tidur saat dia belum kembali dari aksi memelototi kucing tetangga dari atap rumah. Mungkin dia ketiduran di atap.
Aku berjalan beberapa langkah. “Ibu?”
Tidak ada jawaban. Padahal biasanya akan ada suara langkah kaki mendekat. Disusul suara mengeong ibuku yang menenangkan. Tapi kali ini tidak.
“Ibu?” Aku berusaha memanggilnya lebih keras. Tetap tidak ada jawaban. Perasaan aneh mulai memenuhi dadaku. Campuran takut dan bingung, aku tak tahu apa namanya.
Aku berbalik. “Ayah?”
Aku melangkah lebih cepat sekarang. Mencari keluar kamar. Mengintip ke sudut-sudut tempat ayah dan ibuku biasanya bersembunyi dan mengagetkanku, bercandaan mereka memang kadang berlebihan. Tapi semua kosong. Tak ada yang sembunyi, tak ada yang sengaja ingin mengerjaiku. Rumah ini terlalu luas, terlalu lengang, dan terasa sangat asing. Padahal jelas-jelas aku mengenali setiap sudutnya.
“Kak?” Suaraku lebih lirih. Ada perasaan menyeruak yang terlalu jelas untuk diabaikan. Rasa takut mulai mendominasi. Kediaman yang tersisa membuatku kian mendeteksi bahaya.