Tante Gigi

Natsu Hana
Chapter #14

13. Keributan Rumah Sebelah

Beberapa hari ini hujan tak turun. Bubu Tua bilang, alam memang suka bercanda dengan manusia. Saat para perani membutuhkan panas matahari untuk menjemur padi mereka yang dipanen, alam suka sekali menurunkan hujannya. Sementara itu, saat musim tanam para petani membutuhkan banyak air, hujan tak kunjung turun.

Bubu Tua juga bilang kalau rezeki petani itu rezeki suci. Ditanam dengan baik, diusahakan dengan layak, lengkap dengan cobaannya yang macam-macam. Beruntungnya pak tani tak segera kesal dan mengusaikan usahanya. Kalau saja mereka memiliki emosi setipis emosi Gigi, sudah pasti lahan pertanian ditumbuhi rumput liar karena malas berusaha lebih keras.

Ngomong-ngomong, aku tadi terbangun di tengah ranjang Gigi. Dengan posisi yang jujur saja agak memalukan. Aku tidur terlentang, keempat kakiku terangkat ke atas. Untung saja aku tak melongo. Gigi tak mengusirku, tumben sekali. Tapi, walaupun tidurku tak anggun sama sekali, kualitasnya benar-benar menyenangkan.

Aku baru saja selesai sarapan. Biasa saja seperti hari-hari sebelumnya. Tapi sungguh terasa lebih nikmat. Sepertinya aku kelaparan semalaman sampai dry food dicampur wet food murah yang Gigi beli terasa lebih lezat. Sekarang aku sedang berjalan keluar rumah. Ah, ini karena kucing bangsawan sepertiku juga membutuhkan sinar matahari. Bukan karena aku ingin bermain dengan Prutul dan Maling Ayam yang sudah mengendap-endap di balik pagar. Hah, astaga, tahukan kenapa aku enggan bersosialisasi dengan mereka? Ya, mau bagaimana lagi, seekor bangsawan tak seharusnya mengikat pertemanan dengan makhluk yang kualitasnya…ekhem, meragukan.

Halaman depan sudah hangat terkena sinar matahari pagi. Tak terlalu panas karena ada rimbunan pohon durian di sekitar rumah. Aku memilih area di tengah halaman dengan tingkat kehangatan yang pas. Berguling pelan. Ke kanan…ke kiri…. Menjilati bulu-buluku yang indah. Ah ini menyenangkan. Kau juga butuh melakukannya sesekali. Bersentuhan langsung dengan alam begini akan mengurangi tingkat stresmu. Kala stresmu turun, wajahmu akan lebih cerah. Walaupun tentu saja tak akan secantik aku. Tapi lumayan lah.

Aku melompat naik ke pagar yang membatasi rumah Gigi dengan rumah sebelah. Duduk diam di atasnya. Sesekali terpejam menikmati cahaya hangat yang menerpa wajahku. Ekorku yang berbulu lebat nan cantik melingkar elok di sisi tubuhku. Ah astaga, ini sangat menyenangkan. Dan aku menolak diinterupsi dalam bentuk apapun kalau saja aku tak mendengar suara yang cukup menarik dari rumah sebelah.

Pintu dapurnya terbuka sedikit. Tak begitu lebar, tapi mampu membagikan suara-suara dari dalam sana. Apalagi kalau suara itu seharusnya dijaga pelan-pelan. Namun karena manusia tak begitu mahir mengolah amarah, ya lepas juga. Aku mengambil posisi lebih nyaman. Sepertinya banyak hal menarik. Oh, tentu saja bukan karena aku penasaran. Aku tak perlu penasaran pada kualitas hidup makhluk lain, apalagi manusia. Tapi kalau aku sudah duduk di sini dan tak sengaja mendengar suara-suara itu, ya mau bagaimana lagi.

“Listrik bunyi terus dari kemarin, beras habis, toren air juga kosong! Kamu masih mau tidur-tiduran begitu ha?!”

Oh, perempuan itu. Istrinya Om Botak. Aku tak tahu namanya. Jadi sebut saja Bu Botak. Walaupun sebenarnya dia punya rambut agak lebat di kepala, separuh sudah beruban.

Dia tinggal di sebelah rumah, tapi memang jarang terlihat. Hanya Om Botak saja yang sesekali ke area sumur dan menyalakan mesin air. Bu Botak lebih suka di dalam rumah. Dan sebenarnya aku juga tak sudi dekat-dekat dengannya. Berisiknya dia lebih menyebalkan. Selalu berteriak seperti kerasukan setan.

Tak hanya badannya yang membulat seperti ikan buntal. Suaranya juga tampak seperti bulatan besar yang keras dan kasar. Seperti batu besar yang akan menyakiti orang lain saat dilemparkan. Apalagi kalau kau cukup bersemangat melemparkannya.

“Sudah jam setengah sembilan belum bangun! Kondisi sedang susah, tidur terus! Mbok ya bantu Ibu sesekali, jangan maunya semua dilayani!”

Suara kursi dapur ditarik. Aku mendekat beberapa langkah untuk mengoptimalkan sudut pandang dan sudut dengarku. Supaya tak ada salah paham dan tak perlu repot-repot mengarang cerita sendiri.

“Aku harus bantu gimana, Bu? Ibu tahu perutku sudah membesar begini.” Perempuan muda menjawab. Suaranya lelah, seperti sering diteriaki. Seperti suara jelek Bu Botak adalah makanan sehari-hari yang membosankan.

“Masih tanya harus apa? Harusnya kamu mikir, suamimu tuh dibangunkan! Suruh kerja! Tidur-tiduran setiap hari! Rumah sedang begini, jualan Bapak sedang sepi, malah diam saja!”

Astaga, ini menarik sekali. Dari dalam rumah terdengar langkah lebar, berat, seperti sengaja menghentak-hentak saat berjalan. Tak lama, pyak…. Sialan! Perempuan bulat tak punya etika! Dia baru saja membuang sisa kopi, sebagian mengenai kaki dan bahuku.

“Manusia tak punya moral!” gerutuku sebal. Menjilati kakiku yang terkena noda hitam kopi.

“Manusia itu memang begitu setiap hari.” Maling Ayam menyahut. Dia ikut naik ke atas pagar yang membuatku mengernyit tak suka. Aku mundur beberapa langkah. “Tak usah dekat-dekat. Jaga jarak!” ucapku sinis yang malah membuat Maling Ayam menyeringai.

“Kau masih beruntung, Omeng. Minggu lalu aku hampir terkena lemparan piring terbang.” Prutul ikut menyahut dari bawah pagar.

“Toren air kosong. Mau masak pakai apa? Mau mandi pakai apa?” Suara dari dalam sana semakin tinggi. “Kamu dan suamimu, numpang terus! Makan, tidur kerjaannya. Sudah mau punya anak, mau lahiran gimana kalau suamimu nggak punya duit?! Minta ke Bapak lagi?!”

Lihat selengkapnya