Tante Gigi

Natsu Hana
Chapter #15

14. Gigi, Sebenarnya Kau Kenapa?

Hoaammm….

Siang yang membosankan. Aku bahkan sudah menguap tiga kali semenjak memanjat menaiki rak buku Gigi yang isinya tak seberapa. Udara terlalu panas membuatku malas keluar rumah. Kupu-kupu juga malas berterbangan di tengah terik yang menyiksa ini.

Terik dan terlalu tenang. Tak ada suara langkah heboh Faya yang meminta dua ribu untuk beli cilok. Bubu Tua juga sedang tidur siang setelah pagi tadi sibuk merawat daun-daun favoritnya. Hanya ada satu bunyi yang konsisten, ketukan jari di atas tombol-tombol yang berjejer rapi, menyambung dengan laptop Gigi. Juga kipas angin yang setia berputar-putar di depan Gigi.

Perempuan itu memang kadang keterlaluan. Terus menekan-nekan tombol-tombol dan membiarkan kipas berputar tanpa istirahat. Dan asal kau tahu, dia juga terkadang keterlaluan pada dirinya sendiri.

Gigi berhenti dari kegiatan menekan-nekan tombol itu. Laptopnya masih menyala dengan jejeran tulisan yang tak kumengerti. Bahasa manusia itu memang bodoh dan agak tak berguna. Terlalu banyak kosakata untuk menjelaskan banyak hal. Maksudku, kalau kau bisa menggunakan satu kata untuk menjelaskan banyak hal, kenapa harus menggunakan banyak kata?

Bangsa kucing sejak zaman Mesir Kuno sampai sekarang hanya menggunakan satu kata, meong! Kau hanya perlu mengubah panjang pendek dan penekanan pada setiap hurufnya untuk menggantikan maksudnya. Kami semua bisa berkomunikasi dengan baik, tetap waras, tak merugikan banyak makhluk, tetap ada yang beranak pinak. Dan yang jelas tak perlu merisaukan atas pilihan hidup yang salah.

Tak seperti manusia yang hidupnya terlalu semrawut. Sama seperti rambut Gigi karena terlalu sering digaruk akibat pusing menghadapi realita hidup yang menggenaskan. Juga wajahnya yang tampak lelah tapi dia tak membiarkan sejenak dirinya beristirahat. Hah, memang keterlaluan!

“Iya, Mas. Minggu depan.” Dia sedang bicara dengan seseorang di dalam ponsel. Entah siapa, aku tak melihat bentuknya.

Suaranya tak sekeras orasinya di depan kaca, ada nada penahanan di sana. Aku bergerak turun dari rak buku, duduk di sebelah kursinya. Mencari posisi strategis untuk mendengarkan percakapan dan mencoba menangkap suara di ponsel.

Oh tentu saja bukan karena aku tertarik. Sebagai kucing, kami memiliki kegiatan-kegiatan seru lainnya dan tak ada waktu untuk tertarik pada kehidupan manusia yang membosankan. Aku hanya sekadar memastikan, tak ada yang melanggar batas toleransiku. Kau tahu, semenjak mendengar nada-nada buruk dari rumah sebelah aku jadi terganggu dengan banyak hal. Termasuk suara dari dalam ponsel yang tak jelas wujudnya.

“Iya, kata dokter udah nggak bisa ditunda lagi,” lanjutnya. Punggungnya melemas, bersandar di kepala kursi. Dia memejamkan matanya sebentar. Mungkin dia kira itu bisa melepas lelah. Hei, perempuan berisik! Kau perlu tidur seharian kalau lelah.

“Dokter udah bilang sejak tiga bulan lalu sih, tapi Ibu belum mau kan. Tensinya juga dulu masih tinggi. Tapi sekarang Ibu udah rutin minum vitamin.”

Ada jeda sejenak. Suara dari ponsel merespon dengan volume yang tak bisa kutangkap. Astaga, padahal telingaku canggih, kenapa pula perempuan ini tak menambah volume supaya aku mudah menangkap informasi?

“Sekarang Ibu sendiri yang bilang siap. Jadi ya…kita jalanin aja.”

Aku menatapnya sinis. Berapa banyak nada suara yang dia punya sih? Pintar sekali menjaga intonasi agar suaranya tak goyah.

“Iya, kalau Mas bisa pulang ya bagus,” katanya lagi. “Operasinya Kamis.”

Lihat selengkapnya