Tante Gigi

Natsu Hana
Chapter #16

15. Tangisan Gigi

Hari ini terlalu sepi untuk ukuran rumah ini. Gigi sudah pergi sejak pagi, entah ke mana. Dia rapi—membawa tas, memakai sepatu flat, dan rambutnya diikat kuda ke belakang. Persis tampilan orang-orang yang memang mau pergi.

Bubu Tua hanya pagi tadi menyirami tanaman dan tak ke kebun lagi. Tak ada teriakan marahnya karena kakinya tak sengaja menginjak kotoranku yang padahal sudah kukubur dengan baik. Dan si bocah nakal itu? Ah, tentu saja dia sekolah. Dia kan masih membutuhkan banyak ilmu agar tumbuh dengan baik dan minimal memiliki sopan santun untuk menghormati bangsawan sepertiku.

Sedangkan aku hanya mondar-mandir seharian. Kau tau, di hari-hari biasanya aku sedang bergulang-guling di kasur kempesku. Atau tiduran dan memandangi Gigi yang sibuk mengetik dari atas rak bukunya, sampai benar-benar tertidur. Tapi saat perempuan itu tak ada di rumah, jujur saja…terasa asing.

Aku sudah terlalu biasa dengan keberadaannya. Dengan suara tangannya yang menekan-nekan tombol-tombol berbaris itu dengan keras dan cepat. Dengan suara langkah kakinya di seluruh rumah. Dengan suara sumbangnya yang tak tahu diri tapi tetap bernyanyi sesuka hati. Tanpa memikirkan telinga makhluk lain yang mungkin terganggu.

Hari ini hanya tersisa harum parfum Gigi di udara yang dia tinggalkan sebelum keluar rumah. Oh, dan helaian rambutnya yang masih berserakan di sekitar meja riasnya. Rambutnya masih bermasalah padahal tak sekalipun aku melihatnya makan ikan asin.

Tanpa kehadirannya, entah bagaimana membuat tidurku tak nyenyak. Jadi daripada guling-guling dan tak juga memejamkan mata, aku memilih bangkit. Berjalan-jalan di seluruh rumah.

Asal kau tahu, aku lebih suka duduk-duduk di teras. Mataku lebih mudah menangkap sekitar rumah. Seperti putri kerajaan yang sedang memperhatikan kehidupan rakyatnya. Atau barangkali ada informasi terbaru yang kudapat hari ini. Keributan rumah sebelah atau apapun soal dunia luar yang dibawa Prutul dan Maling Ayam. Walaupun aku tak suka-suka amat dengan mereka, tapi mereka tetap berbaik hati sesekali membagikan informasi terbaru. Jadi aku tak terlalu ketinggalan zaman.

Aku sedang meregangkan punggungku saat Gigi melangkah masuk. Tanpa menyapaku. Hei, Nona kau tak melihat aku ada di sini? Keterlaluan sekali. Kau membiarkanku di rumah ini, pergi seenaknya, dan pulang tanpa sapa. Seharusnya kau tahu ada makhluk berbulu keturunan bangsawan persia di terasmu yang buruk. Tak sopan berjalan melewatiku tanpa menyapa.

Langkahnya tak seperti biasanya. Dia melangkah pelan, lelah, seperti ada sesuatu yang memberatkan pundaknya. Padahal dia tak menggendong apa-apa. Penampilannya masih rapi, tapi wajahnya jelas kusut, seperti lap kaki yang sering tak sengaja kupipisi. Lalu aku kena omel Bubu Tua karenanya. Padahal kalau sudah ingin buang air, siapa yang bisa menahan?

Ada sesuatu yang lain yang tak kupahami. Wajahnya tampak pucat. Jelas bukan karena dia kurang tidur. Ini pucat yang berbeda, yang membuat tatapannya tak fokus. Dia memang menatap ke arah depan, tapi aku tak yakin tatapan itu berisi seperti biasanya. Oh, dan di sana, di kedua pipinya yang tirus itu, ada sisa air mata. Apa dia baru saja menangis?

Gigi tak berhenti di ruang tengah. Tak mampir ke dapur untuk minum air putih. Seperti kebiasaanya setelah dari luar. Dia langsung ke kamarnya tanpa mengatakan apapun.

Aku jelas mengikutinya. Setelah kemarin hidungnya berdarah, jelas sekali aku ingin memastikan kalau dia baik-baik saja. Kau tahu, kalau dia sakit, siapa yang akan rutin memberiku makan? Bubu Tua pasti akan mengomel kalau aku mengeong lapar. Dan walaupun aku tak suka mandi, badanku akan lengket kalau tak mandi-mandi. Satu-satunya manusia yang bisa memandikanku di rumah ini ya Gigi. Aku mengalami banyak kerugian kalau sampai dia sakit.

Pintu kamar tak ditutup rapat, membuatku bisa menyelinap masuk dari celahnya. Aku tak membuat pintu itu terdorong terlalu banyak. Kucing itu cerdas menyesuaikan tempat, kami elastis seperti benda cair. Tak seperti manusia yang membutuhkan ruang terlalu banyak hanya untuk membuka pintu.

Gigi duduk di kursinya yang menghadap jendela kaca. Posisinya yang membelakangi pintu membuatku tak bisa melihat jelas ekspresi wajahnya. Dia hanya diam di sana, sesekali menghela napas panjang, membuat bahunya terangkat dan turun perlahan.

Lihat selengkapnya