Tante Gigi

Natsu Hana
Chapter #17

16. Gigi Saja Sudah Cukup

Sejak kemarin ada satu penghuni baru di joglo reyot ini. Seorang laki-laki tinggi dengan suara yang tidak berisik. Sangat berbeda dengan Gigi, Bubu Tua, dan Faya. Dia tenang. Tak meledak-ledak. Tak seperti Om Botak yang suka berbicara keras tapi kosong isi.

Dia datang bersama Gigi dan Bubu Tua yang sebelah matanya tertutup perban. Menggandeng Bubu Tua dan membantunya berbaring. Aku juga beberapa kali melihatnya membuka perban Bubu Tua, meneteskan sesuatu ke matanya, memperbaiki perbannya. Atau pagi tadi sempat diusap dengan kapas yang dicelupkan ke air hangat.

Satu pencapaian baik, aku tak membencinya. Biasanya aku tak suka dengan makhluk baru. Tapi yang kali ini berbeda. Dia tak berisik, itu catatan utamanya. Mungkin rumah ini juga membutuhkan satu makhluk pendiam agar suasana berisiknya menjadi netral.

Oh, laki-laki ini juga dekat dengan Faya. Walaupun Faya memang suka kurang sopan dan asal menempel. Seperti saat tiba-tiba menggendongku, menimang-nimang seolah aku bayi manusia. Faya terlihat nyaman saat bersamanya. Dan yang kutangkap lagi, laki-laki ini tak membawa aura negatif. Bagus, sejauh ini wilayah aman.

Sore menjelang ketika aku menemukan mereka di ruang tamu. Gigi duduk di lantai dengan laptop tertutup. Dia tak sibuk menekan-nekan deretan tombol. Tak ada juga ponsel yang biasa digunakan untuk melihat pria-pria tampan dari Korea. Dia hanya duduk diam, menatap ke depan. Laki-laki itu duduk di kursi. Tak bicara. Hanya sesekali menatap Gigi, menunggu si cerewet kembali cerewet.

Gigi menghela napas. Ya ampun, ini pasti ada yang menarik. Aku berjalan mendekat. Hap! lompat ke ambang jendela. Posisi yang sangat baik untuk mengais informasi sembari menikmati angin sore yang bertiup agak berlebihan sore ini.

“Minggu lalu aku ke sana, Mas,” ucapnya lirih. Pembukaan yang membuatku buru-buru mengaktifkan mode canggih di telinga. Ada nada getir yang tampak asing dari suaranya. Seperti kalimat yang akan diucapkannya bukan hal biasa, semacam punya beban moral yang lumayan. Gigi butuh keberanian lebih untuk melanjutkan.

Oh, namanya Mas. Si Mas ini tidak langsung menjawab. Dia mengangguk, memberi ruang untuk Gigi menyampaikan semuanya.

“Aku dihubungi setelah nelpon Mas Alam minggu lalu. Mbak ngamuk-ngamuk lagi,” lanjutnya. Gigi terdengar sangat kesulitan menyampaikan kalimatnya. “Mereka bilang, keluarga mantan suaminya datang lagi.” Gigi mendongak ke arah Mas, matanya sudah berkaca-kaca. Seperti anak kecil yang mengadukan hal buruk yang ditemuinya di sekolah.

Telingaku bergerak. Sejujurnya, aku tak terlalu mengerti apa yang sedang dibicarakan. Tapi dari nada dan wajah Gigi, ini jelas bukan hal baik. Namanya Mas Alam toh. Jadi ini si kakak yang sering disebut-sebut Gigi.

“Mereka datang bukan untuk tahu kondisi Mbak, Mas. Mereka ngomong macam-macam lagi.” Suara Gigi pecah sekarang. Dia menangis, walaupun suaranya tak sekeras suara biasanya. Dia menahan isakannya agar tak terdengar keluar dari ruang tamu. Mas menghela napas, menepuk bahunya menenangkan. Tapi dia belum merespon. Laki-laki ini sepertinya memahami bagaimana mendengarkan dengan baik.

Aku juga seperti itu. Saat aku sedang mengomel panjang, abangku Oren hanya akan ada dan mendengarkan. Tak merespon apalagi sampai menyalah-nyalahkan. Itu menyenangkan bagi perempuan yang hanya ingin didengarkan. Tapi sayangnya, makhluk bernama laki-laki, dalam banyak bentuknya kebanyakan tak paham hal sederhana ini.

“Mereka ungkit-ungkit soal perceraian.”

Gigi mengusap air matanya. Dia menghela napas, menenangkan dirinya yang kian tergugu. “Katanya Mbak itu nggak bersyukur. Katanya perempuan harusnya sabar, harusnya nurut. Nerima apa adanya. Padahal….” Suaranya bergetar, digantikan isakan tangis yang membuat Gigi tak bisa melanjutkan.

Mas Alam bergerak mengambil beberapa lembar tissue dan menyerahkannya pada Gigi. Gigi bergumam terima kasih atau apa tak terlalu jelas terdengar di sela tangisan.

“Nggak apa-apa, nangis dulu,” ujarnya lembut. Menepuk bahu Gigi yang bergetar dengan irama menenangkan. Gigi hanya mengangguk. Dia menunduk, menutupi wajahnya, berusaha menguasai dirinya yang terlanjur runtuh. Air mata yang sudah merembes keluar tak suka rela berhenti untuk memberinya waktu melanjutkan percakapan.

“Mas kan tahu sejak awal nikah Mbak nggak pernah dinafkahi,” lanjutnya dengan suara bergetar. Seperti ada begitu banyak hal menyebalkan yang ingin Gigi keluarkan karena sudah ditahan sendirian terlalu lama. “Utang di mana-mana. Bank. Orang. Semua. Bahkan waktu hamil Faya, Mbak masih harus ngumpet-ngumpet dikejar-kejar rentenir gara-gara suaminya nggak tanggung jawab.”

Gigi terisak lagi. “….dan yang bayar semuanya Ibu dan Mas.” Gigi menutup wajahnya dengan tangan. Menyembunyikan air mata yang sudah dipamerkannya sejak tadi. Mungkin dia baru sadar, wajahnya jelek saat menangis dan harus segera disembunyikan.

Lihat selengkapnya