Siang yang begitu tenang. Jenis tenang yang sangat kusukai. Udara di luar panas. Tapi di ruang kerja Gigi, aku sedang berbaring di meja kerjanya. Menghadap kipas angin yang berputar-putar tak pernah pusing. Anginnya yang bisa diatur lebih cepat atau lebih lambat sangat pas sebagai pengantar tidur siang.
Bubu Tua sedang berbaring nyaman di kamarnya. Sejak pulang dengan sebelah mata tertutup beberapa hari lalu, rumah memang jauh lebih sunyi. Bubu Tua yang biasanya memanggilku dengan nada tak pantas, kini tak boleh banyak bicara. Itu aturan yang Gigi buat, yang katanya untuk mempercepat penyembuhan. “Istirahat saja, Bu. Jangan banyak bicara, jangan memikirkan apa-apa.” Begitu yang Gigi ucapkan berkali-kali beberapa hari ini. Ajaibnya, Bubu Tua kali ini menurut. Tak mencuri waktu untuk memetik daun-daun di kebun.
Faya tentu saja sedang bermain dengan geng kampungnya yang punya kuku hitam. Dia mungkin berisik, berlarian, bermain bola, main petak umpet, apapun lah asal tak berisik dan mengganggu tidur siangku.
Mas Alam sudah tak terlihat sejak dua hari lalu. Dia kembali pergi jauh, membawa tas punggung besar, dan sempat berpamitan pada orang rumah. Ditambah memberi segepok uang pada Gigi dengan satu pesan tambahan, “Bilang Mas kalau ada apa-apa, jangan dipendam sendiri.”
Dan Gigi…oh, dia baru saja keluar dari ruang kerjanya. Mungkin mengisi air karena air minumnya habis.
Aku baru saja akan memejamkan mata, menikmati suasana surgawi yang sangat jarang kurasakan di rumah ini. Tapi gagal total gara-gara langkah kaki berisik yang tak pernah belajar pelan-pelan itu terdengar. Disusul pintu depan yang dibuka, tanpa mengetuk, tanpa menunggu sang pemilik rumah datang untuk membukakan. Manusia itu tak pernah repot-repot membiarkan pemilik rumah memberi izin.
“Assalamu’alaikum!” Salam pembuka yang terdengar terlalu keras. Setidaknya untuk rumah ini yang sedang membutuhkan ketenangan sementara.
Hoaaamm…. Dasar manusia sialan! Kenapa manusia-manusia di sini tak mengenal sopan santun sih? Tak bisakah sesekali membiarkanku tidur dengan tenang?
Aku beranjak. Meregangkan tubuhku dengan posisi setengah lingkaran yang melengkung apik. Aku harus memastikan aku siap menghadapi manusia yang bahkan rambut kepalanya saja enggan tumbuh.
Aku melompat turun dan mengikutinya malas. Dia seenaknya masuk ke ruang tengah, ke kamar Bubu Tua. Hei, Botak! Tak tahukah Bubu Tua sedang dilarang bicara banyak-banyak?
Pintu kamar terbuka lebih lebar sekarang. Bubu Tua jelas terkejut dengan kehadiran si botak yang selalu datang tanpa diundang. Aku saja heran, dia ini sebenarnya benar manusia atau sejenis boneka pemanggil roh? Tiba-tiba datang, tiba-tiba senyap. Bedanya, boneka pemanggil roh itu perlu dipanggil, sedangkan botak tidak sama sekali. Sepertinya dia memang punya tingkat kepercayaan diri yang terlalu tinggi. Datang seenaknya!
Dengan gerakan pelan dan hati-hati Bubu Tua beranjak. “Eh…Paklik,” suaranya lirih. Mencoba menyapa dengan sopan walaupun menurutku si botak tak perlu diberi sopan santun. Dia saja tak punya sopan santun. Bubu Tua bahkan mencoba tersenyum. Astaga, mau-maunya.
“Gimana, Yu? Sudah baikan?” tanya Om Botak terburu. Dia bahkan langsung menarik kursi dan duduk seenaknya di sana. Aku mengernyit heran. Dia ini sebenarnya makhluk apa sih? Tak sekolahkah dulu? Faya saja menurut saat Gigi menasihatinya untuk tidak mengganggu Bubu Tua karena sedang masa pemulihan.
“Alhamdulillah…sudah agak mendingan.” Bubu Tua menjawab lemah. Jelas masih hati-hati. Dia sepertinya mendengarkan nasihat Gigi dengan baik. Dan ini adalah indikasi bahwa Bubu Tua belum bisa diajak bicara terlalu panjang dan kau sebaiknya buru-buru angkat kaki dari sini!
Oh, tapi tentu saja si botak tak peduli. “Iya, iya syukur, Yu,” katanya. Mengangguk-angguk sok mengerti. “Saya ini sebenarnya mau ngomong penting, Yu.”
Benar kan? Manusia ini memang perlu mendapatkan sedikit pelajaran sopan santun dan menghormati sesama makhluk hidup. Dia pikir tanah yang diinjaknya milik siapa? Seenaknya!
Bubu Tua menghela napas. Tak usah dijawab! Biarkan saja si botak bicara sendiri! Biar tahu rasa!
“Ada apa ya, Paklik?”
Astaga, perempuan tua ini! Tak bisakah diam saja sesuai anjuran Gigi? Haish, panjang urusannya kalau begini!
Aku menjilati kaki depanku, melampiaskan kekesalan. Sebenarnya aku bisa saja menerjang kaki berbulu si botak dan mencakarnya. Kebetulan Gigi belum sempat memotong kukuku yang cantik nan runcing. Akan kubuat cakaran panjang yang membuatnya berteriak kesakitan dan akan menyiksanya sewaktu-waktu kalau terkena air.
“Itu…sertifikat rumah sama tanah sini….”
Apa katanya?
Aku menatap si botak tak percaya. Maksudku, seriously? Kau menanyakan hal semacam ini pada perempuan tua keriput nan galak yang suka berteriak, saat dia baru saja sembuh dan masih membutuhkan banyak waktu istirahat? Kau tak lihat sebelah matanya masih tertutup perban?
Aku saja menahan diri terlalu banyak. Membuat diriku tak berada dekat-dekat dengan Bubu Tua karena takut Bubu Tua akan mengomel panjang dan memarahiku. Padahal Gigi memintanya untuk tidak banyak bicara.
“Iya.”
“Iya, itu,” ucapnya cepat. “Saya lagi butuh uang, Yu, untuk tambahan modal. Usaha saya lagi seret. Utang yang lama juga belum lunas, saya butuh tambahan uang lagi untuk cicilan.” Nada suaranya lebih menekan, penuh paksaan terselubung.
“Daripada nggak dipakai kan sayang, mendingan dipinjam saya dulu.”
Ya ampun, manusia ini memang tak punya cukup pikiran untuk mengutarakan kemauan. Tak tahukah dia konsep berusaha untuk meraih apa yang dimau. Bukan malah memakai hak orang lain untuk kepentingan sendiri.
Bubu Tua menggeleng. Bagus! Memang sudah semestinya ditolak. “Seharusnya Paklik ke sini waktu Alam di rumah. Bicara langsung sama Alam. Apa yang saya punya juga punya anak-anak. Saya sudah tua, kalau diambil pahitnya ada apa-apa kan jadi anak-anak tahu sejak awal.”
Tawa meremehkan itu terdengar lagi. Persis seperti saat dia merendahkan Gigi. “Loh, Mbakyu ini gimana sih? Justru jangan sampai Alam dan Gigi tahu. Sertifikat yang lama saja belum saya kembalikan. Alam ngamuk nanti.”
Dia agak merendahkan suaranya. “Saya ini kan keluarga, Yu, adik kandung Mbakyu sendiri. Masa sama adik sendiri susah begitu. Mbok ya saling tolong-menolong.”
Aku menggeram pelan. Manusia ini kelewatan karena terlalu lama dibiarkan. Hidup seenaknya, bicara seenaknya, tanpa memikirkan perasaan lawan bicara. Lalu saat butuh bantuan dia seenaknya membawa-bawa status keluarga. Keluarga macam apa yang tertawa meremehkan anggota keluarganya yang lain?