Tap…tap…tap….
Langkah kaki Om Botak yang menjauh menyisakan keheningan yang panjang di joglo reyot ini. Angin yang biasanya merangsek masuk melalui sela-selanya bahkan turut diam, tak repot-repot ikut hadir. Entah kenapa setelah ledakan yang tak terkirakan, keheningan ini terasa ringan. Seperti saat kau baru saja membuang barang-barang tak berguna dari rumahmu, ada rasa lega yang membuat napasmu lebih panjang.
Aku masih diam di ambang pintu menatap Om Botak masuk rumahnya. Memastikan pintunya benar-benar tertutup rapat dan tak berniat putar balik untuk mendebat Gigi yang sekarang sudah masuk ruang kerjanya. Begitu kurasa aman, aku berbalik ke ruang kerja Gigi dengan level kepuasan yang cukup tinggi. Ah luar biasa. Ini bahkan lebih menyenangkan daripada guling-guling di halaman dengan tingkat kehangatan sinar matahari yang pas. Walaupun masih kalah jauh dengan wet food rasa tuna.
Gigi duduk di ruang kerjanya. Tak sibuk menekan-nekan tombol berjejer. Tak sibuk melihat layar ponsel. Dia hanya duduk, diam, tak bergerak. Seperti seseorang yang baru saja mengalami satu pengalaman paling berkesan di hidupnya, tapi karena terlalu asing, dia tak benar-benar sadar dengan apa yang dia lakukan.
Aku mendekat, mengamatinya. Siapa tahu kan dia tiba-tiba melakukan hal konyol.
Dia akhirnya bergerak. Mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Mengeluarkan suara berat seperti haaahhh….! lalu diam lagi.
Aku mundur selangkah, mengambil ancang-ancang, dan hap! lompat ke mejanya. Tak cukup untuk membuatnya menoleh. Sekadar menghentikan diamnya yang membingungkan.
Beberapa waktu berlalu, jujur saja aku tak tahu selama apa. Karena kucing tak suka menghitung-hitung waktu. Kami biasanya hanya makan, berak, berlari-lari mengejar kupu-kupu, berguling-guling di aspal hangat, dan tidur. Gigi menggerakkan tangannya lagi, mengusap rambutnya ke belakang, membuat ikatannya agak berantakan.
“Hah….” Suara itu keluar lagi. Aku menatapnya tak percaya. Astaga, benarkah dia hanya hah hoh sejak tadi?
Dia menatap kedua tangannya yang bergetar. Kedua tangan yang tadi terkepal saat marah. “Aku tadi…,” gumamnya lirih. Aku bergerak mendekat untuk menunggu dengan sabar dan penasaran apa yang akan dia katakan selanjutnya.
“Aku tadi ngapain ya?”
Demi Tuhan Anabul! Kau melupakannya? Hari bersejarah ini harus diingat selalu. Hari di mana dia, Gigi, si manusia berisik yang memiliki kelebihan kata-kata tak berguna karena lebih sering diutarakan di depan kaca, akhirnya memiliki muara yang cocok untuk mengutarakan. Beban di pundak akhirnya ditumpahkan. Debu-debu di pojokan akhirnya tersapu bersih. Bukankah melegakan?
“Tadi itu marah ya?”
Iya, Nona. Itu adalah kemarahan paling keren yang aku dengar. Setidaknya selama aku hidup bertahun-tahun di rumah reyot ini dan hanya mendengarkan dia membual soal kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Atau rencana revolusi untuk membela kaum wanita yang sudah ditindas sejak lama.
Kau tahu, kau cukup hebat. Hanya saja lebih hebat aku. Kalau saja kau bisa mengembangkan bulumu sepertiku dan mengeluarkan cakar atau memamerkan taring runcing nan panjang, itu akan lebih hebat lagi.
Gigi menghela napas panjang, seolah sangat kelelahan. Dengan wajah bodohnya yang kelewatan dia berucap, “Aku tuh keterlaluan nggak sih?”
TIDAK! Tidak ada yang keterlaluan!
Tidak sama sekali. Yang benar saja, astaga! Kenapa dia malah menanyakan hal konyol setelah melakukan sebuah pergerakan hebat? Justru karena kau lebih banyak menahan diri daripada meluapkan kekesalanmu, makanya kau berbicara sangat banyak dan tajam tadi. Dan itu bukan kesalahan. Kau melakukannya karena si botak yang memancing api. Kau tahu ada kalimat begini, tidak akan ada asap kalau tak ada api, kan?
Gigi melemaskan punggungnya ke sandaran kursi, masih kebingungan, “Tapi nggak seharusnya begitu kan?”
Apa kau bilang? Aku menatapnya tak percaya. Oh luar biasa, ini respon yang sangat jauh dari perkiraanku. Aku melangkah lebih dekat, duduk tepat di depannya. Menatap lurus ke matanya yang membulat. Kalau saja dia tidak sedang heboh sendiri, tatapan kami tampak beradu saling melotot.
Dengar ya, Nona Gigi yang kusayangi. Kau melakukan hal yang benar. Tak ada yang perlu disesali. Menjadi manusia yang sabar juga tak semestinya terus diam saat kau jelas-jelas diserang. Kalau kau diam saja, justru itu pertanda bahwa kau bodoh dan tak cukup bertenaga untuk melawan.
Dia mengusap wajahnya. Wajah yang terlihat…masih bingung. Benar-benar level kebingungan yang membuatku juga bingung. Kenapa dia harus setidak jelas ini kalau dia baru saja melakukan hal yang benar dan seharusnya? “Kok rasanya gini? Aneh banget.” Dia tertawa kecil.
“Aku tuh biasanya lebih milih diam walaupun dia berisik.”
Itu dia masalahnya. Kau memendamnya terlalu lama. Menahan diri untuk tak berucap benar padahal kau jelas-jelas tak terima. Lihat kan sekarang, kau jadi meledak.
Dia menatapku. “Aku tuh nggak niat marah, tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba ngomel gitu aja.”
Yak, Nona! Tak perlu memiliki niat. Seharusnya sejak awal memang kau marah. Manusia tak punya rambut itu sudah berkali-kali melakukan hal buruk, tak sopan. Kau tak mungkin terus-menerus memaklumi kesalahan yang tampak di depan matamu. Belum lagi dia tak tahu diri, malah seenaknya merendahkanmu. Itu masih beruntung tahu, seharusnya kau mempertimbangkan membungkamnya dengan sapu ijuk lain kali.
“Aku tadi tuh berisik banget nggak sih, Omeng?”
Demi penguasa alam semesta. Kau baru sadar? Ya ampun, ironis sekali. Memang selama ini kau kira kau pendiam? Kau setiap hari berisik, Nona. Berisik keterlaluan. Jadi saat pada akhirnya kau tahu di mana kau berisik, kau seharusnya bersyukur. Kau melakukan hal benar.