Tante Gigi

Natsu Hana
Chapter #20

19. Apa Adanya Gigi

Malam hadir dengan kedamaian di joglo reyot Gigi. Tak banyak bising yang ditawarkan. Udara jauh lebih dingin dibawa semilir angin, terasa menusuk sampai ke tulang kalau kau tak punya bulu lebat. Suara jangkrik dan hewan malam lainnya mulai terdengar, tak lupa perempuan berambut kusut juga turut menyumbang suara.

Aku memilih rebahan nyaman di atas lemari. Menghindari tangan nakal Faya yang akan mencubit pipiku gemas. Gendongan bayi tergeletak sembarangan, dia gagal mengangkatku karena aku lebih sigap melarikan diri. Jadi dia mengalihkan fokusnya dengan mencoret-coret kertas dan membuat krayon berantakan.

“Tante lihat,” ujarnya ceria. Membuka lembaran buku gambarnya dan menunjuk ke dua bulatan berbeda ukuran yang tetap tak menyenangkan dipandang mata.

“Ini Mama,” katanya, menunjuk yang lebih tinggi. Diwarnai merah menyala seperti aroma kemarahan. “Ini Tante.” Tunjuknya ke yang lebih pendek. Berwarna krem lembut.

Aku menurunkan pandangan. Dengan mataku yang tajam dan sering kugunakan sebagai senter saat gelap, aku memeriksa gambarnya. Dan ya, seperti yang kau tebak, masih sama jeleknya.

Gigi mengangguk pelan. “Cantik,” katanya.

Aku mengernyit heran. Cantik apanya? Itu bahkan hanya dua bulatan cilok yang diberi coretan di atasnya sebagai rambut. Manusia kecil ini tak mengalami kemajuan dalam selera gambar. Tetap sama jeleknya.

Faya tersenyum puas. Dia tak tahu saja kalau Gigi hanya basa-basi memuji gambarnya. Lalu tanpa aba-aba, dia melanjutkan kalimatnya. “Mama masih belum boleh pulang ya, Tante?”

Pertanyaan biasa, diucapkan tanpa beban. Tapi jelas isi di dalamnya tak seringan kelihatannya. Manusia kecil ini memang tak perlu pusing-pusing memikirkan bobot dari setiap pertanyaan. Apa yang membingungkan, dia tanyakan. Apa yang tak dia ketahui, dia tanyakan. Bukankah seharusnya manusia dewasa juga melakukan hal yang sama?

Gigi menatap Faya yang juga sedang menatapnya. Menunggu dengan polosnya. “Mama masih harus istirahat,” jawabnya. Sebelah tangannya terulur, mengusap rambut Faya yang berantakan.

“Mama sakitnya lama ya, Tante?”

Gigi tersenyum pelan. “Mungkin Mama kecapekan sejak lama, jadi butuh istirahat lebih lama. Nanti kalau Mama sudah sembuh, kita akan sama-sama lagi.” Kalimatnya terucap jujur. Tidak menyimpan janji-janji berlebihan. Tidak memberi jadwal kapan pastinya. Gigi hanya menyampaikan yang mungkin memang begitu adanya.

“Oke, nanti kita sama-sama lagi.”

Di luar dugaan, Faya menerima begitu saja jawaban Gigi. Aku pikir dia akan mulai melakukan aksi berlebihan. Menangis manja, berteriak protes yang membuat telingaku pengang, atau hal menyebalkan lainnya yang sering dia gunakan sebagai senjata memperbudak orang dewasa.

“Sekarang Mama istirahat dulu sampai sembuh.”

Manusia kecil ini… ternyata lebih sederhana dalam hal penerimaan. Seperti gambarnya, dia selalu bisa menyederhanakan sesuatu yang tak cukup muat ditelan kepalanya.

Gigi menatapnya hangat. Jelas tak menyangka dia akan menerima jawaban yang kelewat sederhana dari kondisi yang…yah kau tahu sendiri. “Menunggu sedikit lebih lama, nggak apa-apa?”

Lihat selengkapnya