Tante Gigi

Natsu Hana
Chapter #21

Epilog

Sore menjelang saat aku berada di teras. Tempat yang sudah kukatakan padamu sebelumnya, membuatku tampak seperti putri kerajaan yang sedang memperhatikan rakyatnya. Tapi kutahu, putri kerajaan akan didampingi prajurit di kanan-kirinya untuk memastikannya tetap aman. Bukan seorang perempuan dengan rambut diikat asal yang heboh membawa segelas teh hangat dan satu cup mie instan.

Jujur saja, aromanya menyerebak harum dan membuat hidungku berkedut. Pertama kali Gigi memakan mie yang mengulur-ulur itu di depanku, aku mengeong kencang, meminta. Tapi sekarang tidak. Rasanya tak enak, hanya aromanya saja yang menipu. Dasar manusia, bisa makan dan minum dari rasa yang bahkan tak bisa dinikmati oleh makhluk dengan standar seperti aku.

Dia duduk di kursi kayu tepat di sebelahku tanpa banyak suara. Tampak sangat menikmati sorenya. Sesekali menatap ke depan. Sesekali menyeruput mie-nya seperti manusia yang tak pernah makan membuatku melirik sebal. Benda keriting panjang tak enak itu, tampak sangat enak kalau Gigi yang makan. Aku sampai keheranan, dan berkali-kali mempertanyakan selera manusia yang begitu rendah.

Gigi menghela napas, menelan mie-nya dan berucap, “Hidup tuh…capek ya.” Dia mengangkat gelasnya, meneguk sedikit, lalu kembali menatap ke depan.

Aku meliriknya sekilas. Baru sadar? Selama ini ke mana saja sih, Nona. Hidup ini memang melelahkan. Kau lelah dengan hidupmu. Aku lelah dengan hidupku, apalagi kalau harus menerima kenyataan hidup di joglo reyot. Mungkin hidup orang-orang juga. Karena bisa saja memang begitulah cara hidup bekerja.

Dia tersenyum kecil. “Belum jadi apa-apa.”

Aku mengedip pelan. Memperhatikan lengkungan senyumnya yang terbentuk halus.

“Kerjaan masih gitu-gitu aja.” Dia mengangkat bahu. “Belum tahu mau gimana ke depannya.”

Aku menjilat kaki depan dengan santai. Mendengarkan perempuan berisik ini berbicara lirih belum begitu terbiasa untukku. Karena ya, kau tahu sendiri, dia berisik sampai ke tulang-tulang.

Lihat selengkapnya