"Bu-burungmu ada dua...? Bagaimana caranya memuaskan keduanya sekaligus?"
Pernahkah kau mendengar tentang pria yang memiliki dua anugerah sekaligus? Sebuah kelainan langka yang nyaris mustahil dipercaya, namun nyata adanya.
⚠️ PERINGATAN: KHUSUS DEWASA 21++
Cerita ini mengandung adegan yang menggugah gairah, penuh gairah yang membara, dan bahaya yang menyala di setiap sentuhannya.
"Jika kau sanggup memuaskan keduanya... kau akan kubiarkan hidup lebih lama dari yang lain!"
Inilah kisah Alessandro De Vito — mafia paling berkuasa, ditakuti di seantero Eropa, dan memiliki rahasia kelam yang nyaris merenggut nyawanya setiap malam. Ia menderita kondisi langka bernama Diphallia: memiliki dua kejantanan yang sama-sama aktif, perkasa, dan tak pernah lelah.
Rahasia ini dijaga mati-matian, bahkan disembunyikan dari orang-orang terdekatnya sekalipun. Sebab, setiap wanita yang pernah ia miliki dan mengetahui kebenaran tubuhnya... tak pernah ada yang selamat. Semuanya berakhir dingin di dalam peti mati. Bukan karena ia kejam tanpa alasan, melainkan satu-satunya cara baginya untuk melindungi harga diri dan kehormatannya yang mutlak.
Hingga akhirnya ia bertemu satu-satunya wanita yang berani menerima, memuaskan, dan membuatnya ingin berhenti membantai demi menjaga rahasianya...
*
*
"Jika salah satunya dioperasi, keduanya tidak akan berfungsi! Anda tidak akan bisa menikmati hidup sebagai lelaki, juga tidak akan memiliki keturunan!"
Kalimat itu terus terngiang di kepala Alessandro De Vito. Sudah belasan dokter ia temui di berbagai penjuru dunia, namun jawabannya selalu sama. Tak ada jalan lain—ia terpaksa menerima kelainan langka yang membebaninya seumur hidup.
"Argghhh...!"
Bahkan saat pasangannya sudah terkapar tak berdaya di bawah tubuhnya, Alessandro masih bergerak liar dengan gairah yang tak tertahankan. Ia adalah pria dengan anugerah sekaligus kutukan yang nyaris tak pernah terdengar di dunia: Diphallia. Namun di balik kondisi fisiknya yang luar biasa itu, tersimpan kecerdasan yang tak terukur, daya ingat yang tajam dan "terkutuk", serta kelincahan bertempur yang membuatnya bisa menghindar dan bermain senjata lebih cepat dari kedipan mata.
Sangat misterius, dingin, dan tak tersentuh. Apa yang ia inginkan pasti ia dapatkan, dan apa yang sudah pernah ia cicipi... tak akan pernah ia sentuh kembali.
"Tiga puluh empat tahun aku hidup, dan tak sekalipun aku menemukan seorang gadis yang masih suci!"
Hening kembali menyelimuti ruangan mewah itu. Di lantai, tubuh seorang wanita tergeletak tanpa daya setelah ia jungkirbalikkan dari atas ranjang. Alessandro mengikat dua kantong berisi benda buatan pengganti, lalu membuangnya begitu saja ke tempat sampah.
Mereka baru saja menunaikan percintaan yang membakar nafas. Namun baginya, sesaat setelah menjadi "pejantan" yang memuaskan, ia otomatis berubah menjadi malaikat maut bagi pasangannya.
"Sudah kuperingatkan," ucapnya dingin tanpa setitik pun rasa bersalah. "Berani tidur denganku artinya berani menerima kematian. Dan kau tak keberatan, bukan?"
Ia mengambil jarum suntik dari dalam laci, lalu menusukkannya perlahan ke pergelangan tangan wanita itu. Ibu jarinya mendorong pelan, membiarkan cairan kekuningan mengalir masuk ke dalam pembuluh darah. Tak lama kemudian tubuh wanita itu mengejang sejenak, sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya selamanya.
Alessandro mengenakan jubah mandi untuk menutupi tubuhnya yang telanjang, lalu menekan nomor panggilan. Tak lama berselang, seseorang datang menghadap dengan kepala tertunduk dalam, tak berani menatap tuannya maupun sosok yang kini sudah dingin tak bernyawa di sana.
"Ya Tuanku, aku ada di sini."
"Farhan..." suara Alessandro berat dan datar. "Lenyapkan dia! Hilangkan setiap jejak yang ada. Atur kematiannya agar tampak seperti kecelakaan, atau penyebab apa saja yang masuk akal."
Alessandro mengikat tali jubahnya di pinggang, lalu menyalakan sebatang rokok menggunakan korek ukiran naga yang mahal. Kepulan asapnya perlahan membumbung pekat, menyatu dengan aroma hawa nafsu yang belum sepenuhnya hilang. Selembar selimut ia lempar sembarangan menutupi tubuh gadis malang itu—akhir yang singkat, gelap, dan pasti di tangan iblis berwajah manusia.
Tak ada penyesalan, tak ada rasa bersalah di matanya. Hanya kekosongan yang dingin dan seringai tipis khas iblis yang puas.
Namun kali ini, Farhan tidak langsung bergerak melaksanakan perintah itu. Sudah hampir setiap minggu ia harus merekayasa kematian seorang wanita. Dan ini tidaklah mudah. Wanita-wanita yang naik ke ranjang tuannya bukanlah sembarang gadis jalanan—mereka adalah wanita kelas atas, cantik, dan berasal dari kalangan terpandang. Tuannya memang selalu memilih wanita berkualitas untuk dipuaskan, sebelum akhirnya dimusnahkan.
"Sampai kapan Tuan akan terus begini?" tanya Farhan dengan hati-hati, tak mampu lagi menahan rasa tak nyaman.
"Apa maksudmu?" nada Alessandro mengancam.
"Dua... bahkan hingga enam wanita Tuan lenyapkan setiap bulannya. Tanpa satu pun dari mereka bersalah nyata."
Alessandro tertawa dingin, suaranya menggelegar menegaskan otoritasnya. "Kau pikir berani tidur denganku itu bukan sebuah kesalahan, Farhan? Aku normal, aku butuh pelepasan. Aku kaya, aku berkuasa, dan aku bisa melakukan apa saja yang kuinginkan!"
Farhan mendekat, memeriksa denyut nadi gadis itu dengan dua jarinya. Sudah tiada. Meski tubuhnya belum sepenuhnya dingin, nyawanya sudah melayang jauh. Ia tahu asal gadis ini: dikirim oleh agensi khusus yang menjanjikan gadis-gadis yang bersih. Namun lagi-lagi, gadis itu gagal dan harus menanggung akibatnya.
"Tuan kembali melenyapkannya... karena dia tidak suci lagi, bukan?"
"Tentu saja! Kau hafal sumpahku, bukan? Aku hanya akan membiarkan hidup wanita yang kutiduri jika dia masih murni dan belum tersentuh orang lain."
Farhan paham benar. Selama bertahun-tahun, belum ada satu pun yang lolos.
"Tapi sampai kapan, Tuan? Bagaimana jika inspektur atau pihak berwenang mulai mencium kejanggalan dari rentetan kematian ini?"
"Untuk apa aku membayarmu? Mengurus hal sepele saja kau tak becus!" hardik Alessandro, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit melunak namun tetap tegas. "Kecuali ada rencanamu lain?"