Citarum(1). Naga kotor yang meliuk ratusan kilometer itu, menampakkan tubuhnya yang tergenang. Coklat, hitam, abu gelap, campuran warna-warna dalam mimpi paling meyimpan tangis. Horor dengan mesin gergaji tajam di setiap halamannya.
Di tubuhnya yang penuh sisik sampah dan lidah tanah berlimbah, muntahan kemarahan oran-orang miskin yang tak punya jamban layak, hingga kecongkakkan pengusaha dan penguasa serakah, semua membatu.
Menimbun kegaduhan.
Menenggelamkan luka berduri hitam, berdarah kelam. Malam-malam jahanam, tertanam dalam-dalam. Kecantikannya yang dahulu merona, kini menghamparkan luka yang jelas terlihat dan terasakan.
Juga mimpi-mimpi paling liar siapa pun, sehingga Citarum meregang setiap detik. Nyawanya bergasing layaknya putaran jarum jam yang segera akan dipatahkan, atau taman kota tua menyedihkan yang segera akan ditikam apartemen dan mall-mall yang membawa batu-batu menjadi baja anti karat yang lebih berat.
Ada tembok bagaikan setengah potong martabak telor raksasa di beberapa bagian pinggangnya, membentuk pinggiran kali berundak penahan sempadan. Tanggul-tanggul yang diramu dari kawat pola sarang madu dan batu-batu hampir sebulat telur burung unta itu, berundak-undak, membentuk empat baris undakan seperti bangku panjang di teater kolosal zaman purba.
Ya, seperti amphiteater yang merekam kisah cinta paling tragis layaknya Romeo and Juliet, kesakitan dan kecemasan setragis King Lear, siasat licik dan intrik politik sekelam Spartacus, juga luka mendalam pengkhianatan dalam derita Hamlet.
Ya, tembok yang malang. Penahan kemalangan para petani pinggiran Sungai, yang bisa panen jika banjir tak meluapkan Sungai. Menghanyutkan akar hingga pucuk termuda singkong mentega, ubi jalar, jagung, batang pisang, atau pun cabe dan tomat, yang ditanam atas nama lahan tidur tak bertuan.
Di atas tanggul itu, lima puluh meter dari jalan raya Dayeuhkolot – Banjaran, di belakang jejeran gedung tinggi toko, bank, pabrik, hingga supermarket, terlihat pantat-pantat gubuk dari kardus dan triplek yang dilukis angin dan cuaca. Semacam interior dari arsitektur kesedihan, yang menampakkan jutaan borok lalu disepuh warna-warna kusam.
Sesekali ada semburan air dari bekas cucian beras hingga pakaian, muncrat menghitamkan paras tanggul, lalu meludahi tubuh sungai yang makin keruh.
Jika beruntung, dari pintu pantat gubuk itu, juga akan ada pemandangan anak kecil membuka celana dan menembakkan air kencingnya, seperti pistol air mainan dari plastik warna cerah. Dan itu tidak mereka tiru dari sebuah pasar malam atau pun karnaval dalam sebuah festival.
Berselang dengan rumput-rumput gajah yang seperti ingin menjangkau tepi langit, beberapa orang tengah mencangkul lahan tanpa tuan, dan menanaminya dengan potongan pohon singkong yang akan tumbuh beberapa bulan kemudian ketika banjir diperkirakan tidak akan bertandang.
Tubuh-tubuh mereka yang tak lagi kekar, dengan rambut keperakan, mencoba menggerus hari-hari mereka yang seperi tanpa masa depan. Bau sengak nafas sungai, menjadi semacam makan siang gratis yang disediakan penguasa-penguasa local yang gemar menabung bencana.
Sebahagian lagi mereka menanaminya dengan pohon jagung, ketela rambat, kacang-kacangan, dan ubi jalar, selain pohon pisang. Di lahan tak bertuan, tinggal tangan yang rajin yang tak akan mendapat saingan untuk bertahan dari rantai kehidupan yang kian keras dan berkarat.
Letaknya pun biasanya agak curam, karena pinggiran kali yang relatif datar dan bagus, biasanya segera diserobot menjadi rumah kayu atau tembok yang tak memberikan nafasnya untuk pepohonan yang telah ditumbangkan.
Ya. Pohon-pohon perdu sepanjang badan sungai juga telah berkemas menuju rumah Tuhan. Jutaan nadi dan detak nafas daunan yang belum sempat gugur, telah berganti menjadi pintu dan jendela-jendela yang menyematkan pelangi dari bahan kimiawi penghias rumah-rumah tepi sungai itu.
Beberapa senti meter dari hidung rumah-rumah yang tumbuh menjamur itu, terjulur jalanan yang sudah tua. Jalan alternatif yang telah bungkuk dan terlihat dekil. Aspalnya banyak yang terkelupas, menjadi sejenis kusta jalanan, menjelma pula genangan jika hujan.
Konon, dahulu, dari bacaan buku-buku tua dari sebuah perpustakaan penuh debu dan kecoa putus asa, jalanan itu masih sejengkalan tubuh kuda, hanya tanah dan batu, ketika jalur tepi sungai menjadi bagian dari sejarah terbentuknya kampung-kampung sepanjang tepi sungai dan badan hutan larangan.
Mungkin ada yang pernah mendengarnya dari seorang tua, tentang pasukan perang berkuda Pangeran Dipati Ukur (2) yang membuka kota baru, setapak demi setapak menuju Batavia.
Namun Bujangga Manik Muhammad tidak sedang mengenang Pangeran Dipati Ukur, ketika pikirannya sedikit menggenang antara kedataran emosi, dengan hal baru yang tengah ia jalani. Ia tak membayangkan bahwa ia akan terbawa arus pemikiranku. Si Gary Benchegib ini, untuk menyusuri tubuh sungai Citarum agak ke hulunya.
Ya, panggil santai saja: Gary. Takdir menulisku sebagai bocah kelahiran Francis berusia 23 tahun saat ini, saat seorang penulis novel yang menemuiku di bantaran kali Citarum ini merebut otakku, imajinasiku, mungkin juga rohku, untuk memasuki alam kata-katanya.
Kalimat-kalimatnya.
Paragraf demi paragraf di luar nalarku, Dimana kemudian aku menjadi budak yang tak dapat menolak jalan ceritanya.
Aku dimintanya untuk memulai cerita semacam novel biografi Si Bujangga Manik dari sisi sudut pandangku. Sebelumnya, Aku telah ia minta untuk masuk ke dalam sebuah cerita pendek agak panjang, yang kemudian tidak terlalu memuaskan hasratnya. Hanya menjadi sepenggal cerita yang alurnya berbeda.
Wow! Ini membuatku telah diseretnya ke dalam arus imajinasi yang deras, seperti gerusan arus banjir yang bahkan tidak hadir dalam impianku.
Bersama Sam Benchegib, adikku yang selalu menyimpan emosinya dalam kamera video buatan Jepang, kami membawa kano yang terbuat dari susunan botol-botol plastik bekas air kemasan.
Saat pertama kali melihatnya di sebuah rumah aktivis lingkungan di Kota Bandung, Bujangga tersenyum kecil memandang kano atau semacam perahu kayak buatan Indian berjala penuh botol plastik itu.
Kayak yang telah diterbangkan dari Pulau Bali setelah bersemayan dalam penerbangan Panjang di tubuh Garuda itu, memang tak memakai sayap atau penyeimbang di tubuhnya. Kano sepanjang tiga meter ini hanya menyimpan lubang di lambungnya untuk satu penumpang.
Teradang ini mengingatkan pada para Indian yang dengan kegagahan alamiahnya, menyusuri sungai deras berbatu. Menyusuri ketenangan cagar alam sepanjang tubuh sungai besar, sebelum peluru dan mesiu para bajingan dari negeri jauh, menjarah tanah dan jiwa mereka.
Dengan balutan jala penangkap ikan, botol-botol yang disusun membentuk kayak itu menjadi nyawa baru yang terapung saat menyentuh wajah air.
Perahu mungil dari botol air kemasan bermerek terkenal itu, kubuat bersama Sam dan para pelajar sekolah menengah di Bali. Para anak muda ramah dari Pulau Dewata itu, merangkainya secara penuh suka cita.
Seperti bersekutu dengan bumi yang telah berkeringat sejak matahari telah mencapai jantung hari, angin keras yang tercipta dari besutan badan mobil yang mengikuti perjalanan kami, menampar wajah Bujangga Manik - aku sering menyebutnya Kang Ujang -, yang seperti tak mengenal lelah.
Sesekali ia membetulkan topi laken kulitnya yang nyaris terbang. Topi koboy buatan lokal, yang akan membuatnya serasa menjadi para pemburu kuda, atau penyanyi country yang diupja para gadis generasi bunga. Matanya mengintip terus dari balik mata beningnya.
Ini memang hari terakhir proyek yang dijalankan oleh aku dan Sam, untuk menyusuri kali Citarum dengan perahu botol plastik yang kami buat di Kuta, Bali itu. Jadi, Kang Ujang meski pasang badan paripurna untuk menerima ledakkan hasrat kami membesut Citarum. Dibutuhkan fisik yang kuat. Yang tak mudah masuk angin atau mudah lemas karena kurang gizi, atau kurang olah raga karena kemalasan yang dibuat-buat.
Beberapa hari lalu, sekira empat atau lima kali putaran jam, aku kaget bercampur haru melihat tubuh Citarum yang telah sewarna dan nyaris sepejal aspal.
Dari sunggingan bibir sungai, dari sempadan tanah yang berganti dengan lapisan-lapisan potongan kain industri sepanjang Desa Majalaya hingga Dayeuhkolot, Kang Ujang mungkin melihat aku dan Sam seperti anjing pelacak yang mencium bom waktu.
Tentu telah kusimak data-data Citarum sebelumnya. Aku trenyuh. Sudah lima tahun terakhir ini aku berkonsentrasi pada pencemaran lingkungan.
Aku telah membaca data-data yang diberikan seorang rekanan dari Greenpeace, juga data akurat yang diberikan Kang Ujang saat kami mulai berkorespondensi.
Aku memilh Kang Ujang karena sepak terjangnya sesuai dengan kapasitasku sebagai manusia yang memang tak menyukai keburukan terjadi di sungai-sungai, khususnya.
Aku pun bersahabat dengan beberapa rekan lain yang punya pikiran sama, seperti dengan kelompok Zero PLastic, Byebye Plastic, Ecovillage, hingga Joerig Runtah. (3)
“Artinya Hantu Sampah!” senyum Kang Ujang
Aku terkekeh. Yang jadi hantu itu sampah atau orangnya, ya?