TARUM TATU

Drs. Eriyadi Budiman (sesuai KTP)
Chapter #2

Chapter #2 Dendam Dan Sorga

Dendam dan Sorga

 

Saya lahir dan besar di sekitar Sungai Citarum. Saya sekolah di sekolah Negeri. Saya kuliah di kampus Negeri. Artinya saya hidup dibiayai oleh negara. Sehingga saya berprinsip tidak untuk mencari kerja, namun berprinsip bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan, karena saya dibiayai oleh negara. Caranya bagaimana? Yaitu dengan kembali ke masyarakat, dengan memberdayakan masyarakat agar hidupnya lebih maju lagi dari kondisi yang ada. Maka untuk generasi muda, kini bukan saatnya lagi menunggu peluang, namun menciptakan peluang. Dan peluang bisa diciptakan dari masalah yang ada.

-         Bujangga Manik Muhammad

-          

1.

Pada masa jayanya, sesuatu pasti terlihat sangat berkilau. Jaman keemasan. Saat sesuatu terlihat mendekati kesempurnaan.

Begitulah.

Maka di sebuah sungai paling panjang yang hanya menyepuh tubuhnya menjadi coklat saat langit menangis, di saat keemasannya masih ada, ia menjadi saksi bagi seorang bocah yang begitu mencintai sungai.

Bocah yang dadanya nyaris pecah karena kehilangan sosok ayah, saat tangan-tangannya masih terlalu kecil untuk menyentuh bebatuan raksasa sekitar sungai yang diberi nama Citarum.

Batu batu, yang bagaikan menhir, mencuat dari derasnya aliran naga bening itu. Tak ada tangan kekar yang memandunya mencuri cahaya matahari di riak gelombang. Tak ada tatapan lembut namun penuh kecemasan dari sepasang bola mata yang terbeliak lalu berteriak menahan langkahnya saat jarum-jarum hujan menikam bumi, di sungai tempat batu-batu dibuai kebeningan.

Saat itu, ayah dan bunda Bujangga Manik, memang masih ada, namun keduanya tak lagi di sisinya. Di persimpangan tanpa ingatan, mereka telah menempuh jalan yang berbeda. Mungkin karena jarak bahasa. Mungkin juga karena kasta.

Bocah sekecil itu belum paham bagaimana dongeng sebelum tidur, yang pernah disampaikan ayah bundanya, di suatu ketika, tiba-tiba tak lagi merayu mata dan telinganya.

Matahari menaikkan cahayanya. Menaikkan suhunya. Membuat bayangan apa pun menjadi lebih pendek. Ia terukir di bebatuan hanya sekelabatan, lalu akan terasa sebagai kenangan yang berulang.

Bujangga Manik terus mengendap di antara bebatuan besar, lalu merunduk mencari-cari ke tanah sungai dan sela-sela bebatuan. Ini memang saat tepat mencari udang dibalik Karees (6).

Bila musim kemarau tiba, akan banyak batu-batu hidup yang disebut Karees itu. Batu-batu kali yang bulat itu terhampar luas. Batu hidup adalah istilah untuk menyebut batu bulat kecil itu, bebatuan tempat udang-udang kecil ikut bersembunyi.

Dari rumahnya yang beratap ijuk berdinding bilik bambu, bocah kecil itu hanya tinggal membawa bekal garam yang ia masukkan ke batok kelapa. Menyimpannya di tepian. Perlahan, sambil sedikit menaikkan celana hijaunya, ia membuka batu-batu itu, lalu menangkap udangnya.

Udang-udang itu disimpan di atas batu kering lalu ditutupi satu batu lagi yang agak lempar, dan sekira lima belas menit kemudian, udang itu menjadi matang. Ya matang. Dimatangkan matahari yang memanasi batu, hingga udang di atasnya pun terkena aliran panas.

Ia lalu menaburinya dengan garam, dan memakannya dengan lahap. Mulutnya berkembang oleh kebahagiaan sederhana.

Menangkap udang dibalik bentangan karees, di balik bebatuan yang berkilau itu, masih sempat dinikmatinya hingga kelas 4 Sekolah Dasar, saat Citarum masih menawarkan beragam jenis ikannya untuk dinikmati masyarakat sekitar bantaran kali yang indah itu.

Memang, untuk melihat Citarum lama, di jaman Milenial, orang-orang masih bisa melihatnya dari ketinggian bukit tepi Sungai Cidadap (7), yang terletak di wilayah Kecamatan Gununghalu (8), kemudian masuk ke daerah pelosok Kabupaten Bandung Barat.

Airnya besar, deras, bening, dan dipergagah batu-batu besar yang seakan ingin memanjat bebukitan sekitar sungai. Di pinggirnya terdapat pesawahan berundak, kolam, pancuran air, huma untuk padi tadah hujan, juga kebun untuk kesukacitaan yang ranum bagi sejumlah tanaman rambat hingga pepohonan.

Sebuah pemandangan yang mengilhami para pembuat lukisan alam di daerah Jelekong, atau lanskap-lanskap lembut pelukis besar generasi Mooi Indie Bandung, Wahdi Sumanta.

Sungai ini kemudian akan menyatukan irama dan riaknya ke Sungai Citarum, nanti, di wilayah Cirata yang telah mendanau, seperti Romeo Kabayan yang menemukan Juliet Iteung-nya di persimpangan yang mempertemukan rambut-rambut hingga tangan sungai.

Di jaman keemasan Citarum, masih ada jutaan ikan mas berkecipakan memamerkan kulit kuning dan kemerahannya. Pun ikan lain. Ikannya memang beragam. Ada Jongjolong ( 9), Genggehek (10), Beunteur (11), Mujair, bahkan Sengal. Para penari gemulai dan warna-warni yang seakan mengukir air.

Ikan-ikan itu biasanya meletakkan nasibnya di sela-sela bebatuan. Pintu ajalnya akan terbuka manakala dia ditangkap dengan cara neger. Jika ada kata ditegerkeun, itu menunjukkan cara menangkap ikan lewat alat pancing yang dibiarkan lama berada di sungai, atau dalam waktu tertentu, tanpa ditunggui. Sang pemancing tinggal menegoknya di waktu lain.

Jika musim hujan, air akan menggenangi sungai dan menutup bebatuan. Mempersembahkan keheningan pada tahta alamnya.

Menangkap hingga melahap udang di kali Citarum yang masih bening itu, tentu dilakukannya bersama teman-teman berjiwa bening lainnya. Teman sekampung yang akan melindunginya dari pertanyaan neneknya, untuk mengatakan bahwa Bujangga, yang juga dipanggil Ujang itu, tidak ada di sungai. Mereka akan bersandiwara bahwa Bujangga hanya memainkan seruling atau menangkap capung.

Ya, jika saja neneknya tahu, apalagi sampai berenang, Sang Nenek akan menaikkan alis putihnya yang menjadi kontras dengan mukanya yang memerah. Sang nenek memang sangat menyayangi bocah kecil yang menjadi asuhannya. Tanggungjawabnya.

Nenek yang menjadi ibu sekaligus ayah bahkan kakeknya.

Di atas bebatuan besar yang datar, sehabis menikmati ikan-ikan kecil dan udang, Bujangga sering melemparkan matanya ke kejauhan.

Kadang terlintas di benaknya bayang-bayang ayah dan ibunya yang telah berpisah, berlabuh di masing-masing rumah baru mereka. Bujangga tak memahami alur yang diraskannya sangat aneh itu. 

Mestinya mereka ada di situ juga. Tersenyum di antara batu-batu. Atau melemparkan celoteh dan cerita tentang masa kecil mereka. Masa kanak-kanak yang dapat dibagi kepada anak mereka, Bujangga, juga adiknya.

Semua menjadi bayangan yang sering mengabur. Kesepian sering menjadi raja di hatinya, meski ada suara dan anggukkan ritmis tekukur, salak anjing kampung yang sesekali datang, juga suara lembut kambing-kambing bgersama teriakan gembalanya.

Tetapi kerinduan itu kemudian hanyut kembali, bersama sungai yang bercerita tentang ikan-ikan, nyanyian air saat kemarau dan hujan. Nyanyian yang hanya terdengar dalam hati, Dalam ingatan yang jauh tersembunyi. Dan sendiri.

“Jang ... Ujang ... hayu nyemplung!” (12)

“Iya Bujangga ... tong malaweung wae ... !” (13)

Tangan-tangan mungil temannya menarikan percikan cahaya pada air sungai. Hendi, Rahmat, Mahmud, Sarip, Yusep, Asep, Dadang, hingga Midun, membuat air di sungai itu hidup dalam darah dan kenangan mereka yang tak terlupakan. Terpahat pada memori kepala berambut klimis mereka.

Mereka berenang dengan bahagianya di sela-sela bebatuan yang airnya lumayan dalam. Air yang menggenang itu, sebahagian ada karena disengaja dengan membendung batu di atasnya, hingga tercipta kolam kecil. Bendungan mungil yang dibuat tanpa harus mencontek gaya arsitek.

Pada saat kemarau, memang saat tepat membuat air menerpa tubuh, karena air Sungai Citarum tidak terlalu besar, hingga aman jika anak-anak itu menyediakan tubuhnya menjadi ikan-ikan baru. Ikan yang benafas dengan paru-paru, bukan dengan insang.

Bujangga Manik mengangkat bahunya. Bayangan kemarahan neneknya masih membekas, saat dahulu ia ketahuan berenang.

Bagi Sang Nenek, Bujangga dianggap sebagai anak emas yang tidak boleh sembarangan melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya. Berenang tanpa pengawasan orang dewasa tentu dianggap berbahaya.

Sang nenek takut anak berayah ningrat itu mengalami kecelakaan.

Matahari terus bergulir menuju senja. Beberapa elang yang berputar-putar kini menjauh menyembunyikan mata dan cakarnya ke pepohonan. Burung-burung tekukur sudah lama mendengkur lembut di peraduannya.

Kadal-kadal yang telah merandeg untuk berdo’a, berlarian menuju lekukan tanah dan rerumputan, bersirobok dengan beberapa serangga yang membunyikan alarm kecilnya menuju bunga-bunga rumput tepi sungai, tepi undakan sawah menuju bukit-bukit kecil yang menjadi badan di lekukan sungai cukup besar itu.

Di tepi sawah dan tegalan, hamparan tumbuhan Tarum terlihat bergoyang, menyerupai para penari berkostum ungu dan hijau dalam sebuah upacara adat. Pancuran bambu yang termanggu di atas kolam, melepaskan kerinduan air dari aliran bendungan kecil tempat mereka berteriak kegirangan dari akar-akar pepohonan.

Lalu ada yang berteriak dengan nada lain. Mulanya kecil dan jauh. Lalu suara itu membahana, membesar, dan diteriakkan banyak mulut yang juga pernah menyimpan kata-kata lama yang menakutkan. Gaduh. Mebhana.

Banjir bandang.

“Awaaaaaas aya caah dengdeng ... !” (14)

Geura hanjat euy!” (15)

“Hoiiii ... awas air besar!”

Nafas Citarum mulai terengah. Ada gemuruh yang datang bukan sebagai nyanyian menjelang tidur, namun semacam dengkuran yang melumatkan impian.

Suara itu mungkin juga seperti jerit kereta api dengan masinisnya yang bengis setelah menelan peluit dan meniupkannya ke udara yang gelap.

Begitu bergemuruh.

Begitu cepat dan kelam.

Bujangga terhenyak. Ia segera menerjang udara dan nafas air. Meloncati bebatuan, menuju bibir sungai. Teman-temanya juga birat, berlarian cepat mencari pijakan yang aman lalu menembus jalur menuju daerah yang lebih berundak ke tepi hutan pinggir sungai.

Jauh di seberang. Bujangga Manik melihat beberapa anak kecil dan remaja juga mengayuh tangannya ke luar dari tubuh air Citarum, menuju dataran terdekat. Mereka pasti tidak akan kembali untuk menyeberang.

Mereka akan pulang lewat arah memutar, menuju jembatan besar dari besi peninggakan jaman Belanda yang seperti tergantung di udara.

Perjalanan terpaksa itu tentu akan melumat urat jarum jam lebih lama karena harus menempuh jalan melingkar melalui kampung lain. Kampung dengan perangai denting panday besi hingga para petani yang belum pernah mengenakan dasi.

Setiap sungai rupanya mempunyai rahasianya sendiri. Setiap nafasnya, kadang sulit diduga. Ia kadang membawa tawa, teriakan bahagia. Namun, dibaliknya, tersimpan pula maut yang membawa sayap hitamnya tanpa diduga.

Hujan.

Kebasahan menjadi baju bagi hamparan tanah dan sawah. Bentangan tanaman jagung siap panen mulai bergoyang seperti para penari kuda ronggeng (16). Bujangga mempercepat langkahnya, lalu berlari menghajar tangisan langit.

                                   .....

 

2.

Muram.

Tangisan langit berpindah ke mata-mata yang sembab di antara tubuh yang kaku. Jang Memen membeku. Remaja yang rumahnya tak jauh dari tempat Bujangga bermain kelereng itu, telah melemparkan nafasnya yang terakhir. Nafasnya tak dapat kembali ke mulut penuh lumpur dan air itu.

Memen bernasib malang. Saat berenang, rupanya ia tak mendengar deru air dari hujan di hulu sungai. Hari itu, tetangga yang baik itu, yang tadi sore berenang di tempat lain itu, dipanggil Tuhan, usai tubuhnya hanyut dan ditemukan di kampung lain.

Beberapa hari sebelumnya, hingga kemarin malam, burung pengabar kematian berkicau terus di atas dahan-dahan tinggi. Hal sederhana yang diajarkan alam, dan menjadi wejangan turun-temurun. Di sela isak tangis keluarga korban, para pelayat membawa beras hinga lauk pauk dalam baskom-baskom yang diikat kain.

Bantuan itu dikirim ke rumah duka, bersama uang yang diselipikan ke dalam amplop, sebagai sebentuk sobekan rasa haru untuk meringankan penderitaan, juga lambang kebersamaan bahwa: di bawah langit yang sama-sama tanpa penyangga, semua orang dapat ikut menanggung penderitaan orang lain.

Duka sesamanya.

Tetapi Ini bukan yang pertama.

Tentunya.

Pernah dikabarkan, dari mulut yang menghanyutkan kata-kata hingga di surat kabar, ada yang terpeleset dan hanyut menjemput kartu kematiannya di situ.

Biasanya mereka adalah orang-orang kota yang berdarmawisata, dan kurang mengenal medan yang berbahaya. Citarum seperti menyembunyikan jarum suntik yang dapat membekukan peredaran darah. Sewaktu-waktu.

Di sisi lain, Citarum mempunyai magnet bagi siapa saja yang memandangnya. Undakan sawah atau sengkedan membentuk terasering, sungai jernih berbatu besar, pepohonan perdu, bunga-bunga tarum dan lenggok bulu pirang jagung manis yang cantik, udara yang tak membawa batu, nyanyian burung-burung dan serangga hutan, menjadi orkestra serangkaian pesona yang sulit ditolak atau diabaikan.

Apalagi bagi orang-orang kota yang merindukan suasana yang tak bisa dibelinya di sana. Lanskap potongan sorgawi yang tak perlu dibeli dengan tiket. 

Lalu begitulah.

Maut punya jadwalnya sendiri. Ternyata.

Tak ada yang menyangka Memen akan seperti pelancong dari kota yang terpeleset itu. Bujangga Manik, dalam kesadaranya sebagai bocah sepuluh tahun, tentu memahaminya sebatas bahwa kesedihan bisa datang kapan saja. Bahkan kesedihan adalah sahabatnya yang paling dekat, akrab, namun mencekik.

Bujangga tersedu. Hanyut dalam duka mendalam keluarga korban. Jang Memen tentu tak merancang kesedihannya sendiri, merancang keriangannya yang harus hilang.

Bujangga Manik merasa bahwa ketakutan neneknya agar ia menghindari bermain di sungai, kini makin menemukan alasannya. 

Berhari-hari. Bahkan di beberapa tahun kemudian, terenggutnya Memen oleh nafas sungai Citarum, masih membekas di benak Bujangga Manik.

Dahulu, ada masa keduanya bersama-sama mencari rerumputan. Ngarit merupakan kegembiraan lain menjajal tangan mengayunkan arit pada leher-leher jenjang rerumputan. Kadang mereka bersama-sama membawa domba ke lapangan luas.

Teman-teman dari kampung yang sama maupun yang berbeda, sering juga membawa ternaknya ke tempat rerumputan tumbuh subur.

Bagi anak-anak kampung itu, menggembalakan domba, kambing, hingga kerbau, merupakan semacam upacara lain, atau cara lain menemukan keriangan.

Beban dan kelelahan mereka akan lenyap bersama tawa yang tercipta saat mereka mendekap hewan-hewan itu, atau memperagakan permainan adu domba hingga koboy yang seakan-akan ceria saat menembakkan timah panasnya di atas kuda-kuda yang perkasa. Atau menjadi Indian bermahkota daun-daun mangga yang melesatkan panah bambu. Atau pun tombak kertas yang dilesatkan karet gelang.

Sungguh.

Sesunguh-sungguhnya kemudian pada batang-batang rerumputan yang terinjak namun tak berteriak itu, anak-anak yang mengambil hiburan dari alam itu menjadikan persahabatan mereka sebagai jembatan untuk menciptakan tawa.

Keriangan yang selalu hadir dan mengalir saat mereka bersama. Saat tangan dan kaki mereka seia sekata untuk tujuan menghabiskan waktu yang mengharu biru.

Bahagia dengan hal-hal sederhana yang tersedia.

Tentu di suatu waktu yang tak terpahat dibatu-batu, mereka juga memanjangkan hari-hari bahagianya dengan bermain di petakan-petakan sawah.

Di kawah lelumpur untuk padi itu, jika ada lubang kecil pada lumpur coklatnya, berarti di sana ada Ikan Bogo (17). Bujangga memberinya Kacang Babi (18) . Kacang itu digosok-gosok dengan tangan mungilnya, lalu dimasukkan ke lubang itu.

Wow, ada yang kemudian meloncat. Ikannya menggelepar-gelepar ke luar, seperti melemparkan dirinya. Maka Bujangga mengambilnya. Memen dan teman-temannya yang lain juga melebarkan tawanya dengan cara seperti itu. 

Ikan Bogo memang sering menghabiskan masa petualangannya di kubangan lumpur. Di kubangan kecil. Daun Kacang Babi itu dikenal Bujangga sebagai rahasia turun temurun, rahasaia bagi semacam racun organik atau alami yang tidak merusak lingkungan.

Tentu tidak pula berbahaya jika kemudian ikannya ia makan.

Namun, kemudian, Bujangga Manik tak bisa lagi menggosokkan daun Kacang Babi itu bersama Memen. Tak bisa pula ia melihat Memen atau teman-temannya menaiki rakit dari batang pisang saat sungai meluap. Ia kehilangan teman yang membelanya dari kemarahan neneknya yang sangat protektif.

Samping kebat pupus bertabur rangkaian bunga-bunga yang diuntai benang telah menutupi tubun Memen.

Ketika tubuh yang berkapan dan berbalut kain batik kusam itu dibawa menuju pemakaman, hati Bujangga seperti tercabik-cabik. Meski ia belum sepenuhnya paham tentang makna hidup dan mati, ia tahu bahwa Memen tak akan dapat lagi bersamanya tumbuh sebagai anak kampung di antara bentangan karees.

Duh!

Waktu berlalu memanggul bandulannya bersama langkah-langkah jarum jam yang pasti. Semua berjalan kembali seperti biasa.

Bujangga Manik memang masih sering dibawa teman-temannya menghitung hari seperti ngarit atau mengambil pakan ternak untuk domba hingga menangkap ikan bogo. Sebagai keturunan ningrat dari pihak ayahnya, dia memang agak dipingit.

Namun ia sering punya gairah lain untuk bermain-main. Menjadi nakal sebagai bentuk sederhana penolakannya terhadap pencitraan ningrat yang tidak tepat. Bahkan ia pernah berdagang es lilin. Es dalam plastik sebesar lilin yang diambilnya dari pedagang kecil tak jauh dari rumahnya.

Es itu dibawanya dalam termos lebar, yang kemudian ia bawa keliling kampung, khususnya ke tempat penggalian pasir sungai di daerah Mekarmukti arah Desa Cililin. Tempat itu biasanya akan dipenuhi para kuli pengangkut pasir juga sopir-sopir truk dan kernet-kernet yang kehausan. Daerah itu memang dikenal sebagai pemasok pasir, untuk membangun rumah dan gedung-gedung di wilayah kota yang terus tumbuh.

Atau, terkadang ia berdagang makanan yang dijajakan ke atas mobil bus, atau berdagang secara asongan. Pada saat itu, ada satu bus mini, serta oplet Chevrolet benguk bertangga di pantatnya yang diganduli penumpang hingga atapnya, menuju ke wilayah Gununghalu hingga ke pasar atau terminal Kecamatan Cililin saja.

Ia puas dengan itu, dengan petualangan yang baginya dapat melebarkan senyum. Ya, saat itu ia memang sedang nakal-nakalnya. Sering ia berdesakkan di atas bus dengan pedagang kacang, wajit, ketan ulen, atau pun kuaci yang masuk ke mobil.

Pulang sekolah dari SD-nya, setelah berganti kostum, Bujangga Manik menjadi seperti kerasukan berdagang, karena di situ juga ia merasakan adanya kemandirian. Kenikmatan mendapatkan hasil untuk bertahan hidup dari keringatnya sendiri.

Dari beberapa kenakalannya itu, kenakalan yang kreatif itu, Bujangga tumbuh menjadi seorang yang toleran, setia kawan, berjiwa sosial, juga pandai bernegosiasi serta mempunyai jiwa dagang atau bisnis.

Ia, bocah kerempeng berkulit bersih ini, diam-diam ingin membantu meringankan batu nasib buruk yang menghimpit neneknya. Ia terbentuk menjadi jiwa mandiri yang tak mau menjadi beban bagi yang lain.

 Nenek dari ibunya Bujangga memang sangat teliti dalam memperhatikan cucunya itu. Rasa sayangnya nampak tercurah besar sehingga terasa sangat protektif. Kakek dari ibunya, suami neneknya sendiri telah meninggal, sehingga perhatian sang nenek pun lebih besar.

Bujangga tak mengenal nenek dari pihak bapaknya yang tinggal di Kotamadya Bandung, saat itu. Ia baru betemu nenek dari bapaknya saat ia dipanggil ke kota karena ia mengalami keajaiban di luar nalar.

Ada yang menyebutnya mistik.

Ya, saat itu, di suatu hari yang tak pernah direncanakan untuk dikenangnya, ia bermain di jalanan yang membelah perkampungan mereka. Jalan itu memang jalan utama. Sebuah jalan yang membelok dari jalan utama lainnya, yakni jalan raya Cihampelas - Cililin.

Jalan ini merupakan jalan tembusan dari daerah Cihampelas menuju Maroko. Nama yang aneh, unik. Sebuah kampung ujung jalan buntu yang berakhir di sebuah bantaran dari putaran lain sungai Citarum. Jalannya masih tanah dan bebatuan kecil yang kadang jahil. Jalan yang tak begitu banyak dilalui keriuhan. Tak ada tepuk mulut mobil besar apalagi sorakkan suara bibir motor beroda lainnya.

Sebatang pohon Kiara setinggi empat meter, berjarak sekira 10 meter dari bahu jalan itu, menarik mata Bujangga, dan menggatalkan kakinya untuk menaiki pohon berdaun lebar itu. Mahmud, sahabat dekatnya, bersetuju dengan hasrat Bujangga dan segera melesat menuju pohon tak jauh dari tepi jalan itu, yang tumbuh di antara rerumputan perdu.

Bujangga segera menaiki pohon itu, dan menemukan hatinya dipenuhi hasrat menyentuh langit yang saat itu mengapas di antara warna dasarnya yang kebiruan.

Ia terus memanjat. Kebahagiaan terkecil muncul tiba-tiba, saat ia menemukan tubuhnya dapat meraih dahan-dahan kecoklatan yang terus mengerucut, menciptakan ujung dedaunan perdu yang memikat hatinya. Juga pemandangan jalan yang tiba-tiba merendah, teman-temannya menjadi cebol, dan langit seolah-olah dapat diraihnya.

Tiba-tiba ia merasakan tubuhnya terguncang-guncang. Mahmud tertawa-tawa sambil menggoyang-goyangkan batang pohon Kiara yang tak terlalu besar itu dari bawah. Tawanya mengalahkan suara penolakan Bujangga yang nampak ketakutan.

Ia menjerit-jerit agar Mahmud mengehntikan kekonyolan itu.

Tapi, Mahmud bukannya menghentikan tangannya dari batang pohon itu. Ia terus menggoyang-goyangkannya seperti setan kecil yang diberi kebahagiaan saat tumbuh tanduk di kepalanya.

Lihat selengkapnya