Jurus Jin Sun dan Pacar Indianya
Jin.
Jin!
Jin?
Ya, jin, bukan jeans.
Akulah jin yang menyunat farji Bujangga Manik Muhammad saat ia masih kecil. Aku sunat dia ketika menaiki pohon Kiara saat temannya mengguncang-guncang batang pohon itu sambil tertawa-tawa. Tak akan kujelaskan mengapa ini kulakukan, namun yang jelas tentu ini sudah sepengetahuan para malaikat.
Aku memang Jin Islam, Jin Muslim. Aku bersyahadat mengakui keesaan Allah serta kerasulan Muhhammad, nabi akhir jaman yang sangat kukagumi. Maka aku diijinkan untuk menyunat Bujangga karena itu salah satu takdir yang harus kujalani.
Kasihan?
Tentu. Aku trenyuh juga saat Bujangga menjerit-jerit kesakitan karena perbuatanku. Namun aku juga bangga, sebangga ibu dan neneknya saat mengetahui kelamin Bujangga Manik sudah bersih, sudah menjadi muslim yang resmi.
Apalagi saat berita itu menyebar ke seantero kampung Babakan Cianjur
Peristiwa itu juga membuatku lebih sering mendampingi Bujangga. Tepatnya mengamati saja. Aku tak menampakkan diriku, tentunya.
Aku hanya mengamatinya bagaimana kalau dia sedang makan sendirian tanpa ayah dan ibunya. Makannya juga sederhana. Hanya ikan asin, tahu, dan tempe yang pasrah tergolek di piring tembaga atau seng berkarat.
Itu menu yang paling sering terhidang. Ya terkadang ada juga sekerat kecil goreng ayam atau gule sapi dan kambing yang kuahnya banyak bercampur tulang, namun itu pun sangat langka.
Di bawah rumah pangung neneknya, terdapat ayam ternak, yang akan disembelih kalau hari raya Idul Fitri. Kadang, sehari-hari aku lihat dia lebih banyak memakan nasi campur jagung, pisang, dan oncom.
Makan mewah rakyat kecil yang terkucil dan dekil.
Seringkali, lama aku tak menemuinya, mengamatinya. Ya, karena aku juga punya pekerjaan lain, kehendak lain.
Yang paling kusuka adalah jika pada malam-malam sehabis ngaji di pesantren, Bujangga dan kawan-kawannya tak lalu berangkat mendarat di kasur kapuk mereka yang sudah lepek, namun tetap buka mata.
Mereka ngobrol ngalor ngidul, baik tentang kehidupan kemudian juga tentang pelajaran agama. Terus terang aku juga ikut menyimak pembicaraan mereka. Aku belajar dari mereka mengenai pemahaman keagamaan.
Bujangga memang beruntung. Ia punya kawan-kawan senior yang suka berbagi ilmu. Beberapa sahabatnya yang mengaji ataupun menjadi guru ngaji di pesantren itu, adalah para mahasiswa yang aktif di kampusnya. Ada yang dari ITB, IKIP, IAIN Sunan Gunung Jati, Unpad bahkan dari Universitas Kristen Maranatha.
Selain berdiskusi antar mereka, para senior sahabatnya itu, juga memperbolehkan Bujangga mengikuti diskusi santai tapi serius itu. Yang paling disukai Bujangga Manik tentu saja juga nasi liwet yang akan terhindang di tengah malam bersama ikan asin, jengkol, lalap singkong maupun daun pepaya muda.
Selingannya adalah deungeuna (46) tahu dan tempe. Bujangga pun membaca buku-buku yang mereka bawa.
Tentu aku pun kadang-kadang duduk di pundak Bujangga atau tengkurap di rimbunan rambutnya yang tidak terlalu gondrong dengan kaki mengacung, sedangkan mataku ikut membaca buku.
Itu kalau aku sedang mengecilkan diri sebagaimana para Liliput.
Waktu SD, anak yang kusunat di bawah pohon Kiara bertahun lalu itu memang suka membaca-baca buku sains, juga biografi para penemun seperti Newton, Einstein, juga pengetahuan praktis seperti membuat pompa dari bambu. Itu pun suka dipraktekkannya sendiri. Termasuk membuat kertas indah dari bubur kertas, serta aneka kerajinan.
Semua dipraktekkan. Ia juga senang melukis dengan pensil, seperti menggambar tokoh Soekarno, Teuku Umar, Sisingamangaraja, Diponegoro, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, Kartini, dan para pahlawan lain.
Kadang aku ingin menampakkan diri agar digambar Bujangga, namun keisenganku itu tentu malah akan membuatnya seperti pedagang kaki lima yang disusir Tibum alias petugas Ketertiban Umum.
Karena di sekolah maupun di rumahnya fasilitas alat musik tidak ada, Bujangga lebih suka bernyanyi. Mewakilkan suka duka, bahagia dan deritanya kepada nada-nada peramu lagu.
Ketika masa sekolah menengah hingga mahasiswa, ia menyerahkan rasa sukanya, kekagumannya, pada lagu-lagu Koesplus, hingga Ernie johan.
“Ibu saya suka mendengarkan lagu itu!” ujarnya saat suatu hari ia ditanya seorang wartawan. “Belajar sambil mendengarkan musik itu enak. Di rumah juga ada radio kuno yang besar berwarna biru, dan terdapat anteneu untuk menangkap gelombang” lanjutnya lagi, sambil tersenyum mengenang masa kecil dan remajanya.
Dahulu, aku sendiri pernah menemani Bujangga menonton Televisi. Warnanya masih hitam putih. Kami menontonnya di rumah orang lain, karena nenek dan ibunya tidak mempunyai TV saat itu, yang dianggap sebagai barang ‘luks’. Sebagaiman barang langka paling harum yang juga dijadikan ‘sabun kecantikan bintang-bintang film’.
Biasanya mata kami dibelai film-film dari TV saat hari bertanggal merah. Minggu yang kadang dicetak warna biru pada kalender beraksara hitam.
Oh, ya tentu saja Bujangga tidak tahu bahwa aku juga menyukai film yang disukainya, seperti film Tarzan, Ivanhoe, RinTinTin, hingga film kartun Popeye, Tom and Jerry, juga Woody Woodpacker.
Jika sedang galau, aku kadang melompat dari jembatan besi di BBS Cihampelas itu sambil berteriak seperti Tarzan.
Kebahagiaanku sebagai Jin Muslim, mulai terusik saat Sungai Citarum dibendung. Citarum menjadi mahluk yang tak lagi ramping dan cantik. Ia berubah menjadi gemuk dan penyakitan. Bahkan menjelma kuburan.
Warnanya yang dahulu bening, tempat aku dapat mengambil air wudhu, berubah menjadi lebih hitam daripada dedak kopi atau pun pantat kastrol bekas nasi liwet. Bersamaan dengan itu, makin banyak Jin Kafir serta siluman yang menghuni sepanjang bantara Citarum. Mereka bahkan sering berkelahi karena berebut lahan istirah atau wisata mereka.
Mereka bisa bertengkar hanya karena memperbutkan sepotong tulang yang dilemparkan para pedagang bakso lokal maupun urban dari Solo. Apalagi Jurig Jarian (47). Mereka membentuk komunitas yang beragam dan kian banyak.
Maklum, Citarum kemudian menjadi toilet raksasa, tempat yang menjadi sangat indah bagi mereka. Mereka umumnya akan berpesta pora saat hujan deras.
Karena saat itu jutaan liter limbah B3 yang sangat berbahaya dan sulit diurai biasanya dialirkan dari pabrik-pabrik. Mereka akan menyiapkan jamuan mewah, dengan mengundang para Jin Kafir lainnya dari berbagai negara.
Jika sedang kesal, bersama kawan-kawan Jin Muslim lainnya, kami bertempur mengusir mereka. Kadang kulemparkan mereka hingga terayun-ayun lemas di atas jembatan besi yang menghubungkan Desa Selacau dan Desa Cihampelas di Kecamatan Batujajar.
Namun kami lebih suka mengalah.
Bukan karena tak kuat melawan mereka, namun tak kuat menghirup udara toilet raksasa bernama Citarum. Apalagi saat kemarau, banyak para Jin Muslim sahabatku lebih memilih tingggal di gunung-gunung atau air curug, seperti ke Curug Malela (48) maupun Curug Jompong (49).
Aku sendiri kadang lebih suka tinggal di perkebunan kopi atau pun teh di wilayah Malabar yang dihias pohon-pohon kina yang diprakarsai Junghun.
Aku suka keharumannya yang menyegarkan.
Hingga di tahun 2018, saat lahan tepi Citarum yang dibeli Bujangga dari hibah Baznas (50) aku masih sering mengamatinya. Ia memang lebih menyukai kesendirian. Ia sering merenung.
Setiap hari banyak sekali tamu yang datang ke Saung Eceng Gondok yang dibangunnya. Ia Sering menghabiskan waktunya di saung yang bilik serta hiasan depan pintunya dibuat dengan anyaman eceng gondok.
Namun ia lebih sering melahap buku-buku di sebuah perpustakaan yang terbuat dari kontainer.
Sehabis sembahyang Isa di surau yang ada di komplek itu, baru ia pulang ke rumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari kompleks Saung Eceng Gondok dan perpustakaan yang merupakan bagian dari layanan Taman bacaan Masyarakat (TBM) yang ia dirikan, meskipun lebih banyak dikelola oleh istri cantiknya, Khanza Auranti.
Bagi lelaki yang mempunyai warna favorit hijau botol, warna yang soft atau lembut itu, musik lembut Keny G, hingga Dave Kozz, sering menemaninya saat malam-malam ketika ia menulis.
Ia memang suka menulis catatan-catatan tentang pemikirannya di bergabai bidang yang ia sukai. Kadang ia menyimpannya di laptop, imel, atau mengunggahnya ke laman fesbuknya.
Ia pun menyukai musik yang keras seperti heavy metal. “Saya tidak takut ada pengaruhnya ke jiwa! Itu tergantung niat kita!” ujarnya datar, saat dicandai KH. Achmad Faisal Imron, penyair yang memiliki pondok pesantren dan sebuah galeri seni rupa di kawasan Ciparay, Kabupaten Bandung arah Selatan.
Saat merenung, kadang aku mencoba menembus pikirannya. Kadang aku menduga-duga, apakah ia ingin mempunyai pesantren?
Pesantren dahulu tempatnya menimba dan memompa ilmu, memang masih ada. Hanya tentu sudah jauh berubah. Sepertinya memang ada yang tak lagi utuh. Pesantren itu telah kehilangan generasi penggagasnya.
Dahulu memang ramai saat ustadnya masih hidup. Kini, putranya, juga menantunya yang meneruskan, sudah meninggal. Ada beberapa anak Pak Ustadz, namun mungkin passionnnya sudah lain.
Memilih berbeda arah.
Kadang-kadang, seperti diceritakan kepada teman-temannya, atau para donatur ke Yayasan Bersih Citarum, Bujangga sering menceritakan masa-masa yang indah di pesantren. Waktu membangun mesjid, membangun kelas untuk pesantren, meminta sumbangan ke rumah-rumah, atau melakukan semacam fund rising, waktu ia memakai kopiah dan mengetuk tiap rumah.
“Itu luar biasa. Unik. Ya memberi proposal untuk membangun pesantren!” senyumnya.
“Ada yang sedikit tragis. Saya pernah minta sumbangan menemani senior saya yang tegas itu. Rendi Alvianysah. Di sebuah rumah yang bagus, sesudah mengetuk pintu, tuan rumah ke luar, dan mengatakan bahwa dia tadi sudah memberi sumbangan kepada yang datang.
Rendi kaget, karena untuk daerah mencari sumbangan sudah dibagi per wilayah. Ia pun bertanya, Siapa? Katanya. Yang punya rumah plingak-plinguk. Rupanya dia tidak mau memberi sumbangan tapi dengan cara yang salah seperti itu.
Rendi Alvianysah pun marah-marah, dan hampir mau berkalahi dengan sang empunya rumah!” tawa Bujangga mengenang seniornya yang suka neugtreug (51) itu.
“Namun sebaliknya juga ada. Saat meminta sumbangan di sekitar Kampung Pataruman, dekat Desa Cipatik, kan ada mesjid tuh di sana, dekat jalan, sekarang yang jadi Puskesmas, di sebelah kirinya banyak bapak-bapak berkumpul di bengkel mobil. Nampaknya habis menyabung ayam. Saat disodori sumbangan, salah seorangnya berkata, Wah ini mah buat mesjid, katanya, lalu meminta yang lainnya untuk udunan.
Jadi ada yang kaya namun menolak menyumbang, namun ada juga orang seperti preman yang malah memberi sumbangan,” kenang Bujangga, kepada temannya yang datang untuk ngobrol di saungnya.
Kalau tidak salah, kukira itu tahun 1990. Aku mengamati Bujangga mengikuti bimbel dan berada di rangking 20. Ia juga sibuk di pesantren, sambil melakukan kerja sosial. Sejak kecil hingga remaja, sudah terbangun jiwa sosial pada dirinya.
Kepedulian pada derita sesama sudah lama ditanamkan para seniornya. Aku juga suka terharu melihat orang pintar tapi tak bisa melanjutkan sekolah. Di negeri kami, hal itu juga terjadi. Jin yang tidak sekolah atau tidak mau belajar di mana saja, cenderung menjadi Jin Kafir. Jin nakal yang sering berduyun-duyun ke bisokop di kota yang memutar cerita hantu.
Mereka ikut di antrian. Lalu duduk di mana saja, sambil berbisik halus kepada masangan yang sedang dimabuk asmara. Atau meniup bulu kuduk penonton yang tengah tegang, sehingga bulu kuduk mereka menegak. Merinding. Ada juga yang gemar masuk geng motor terbang, membuat angkasa bergemuruh.
Maka, aku juga meniru apa yang dilakukan Bujangga dan para seniornya itu. Ia berpikir bahwa mereka harus diberdayakan niat dan tata ekonominya. Dia berkata bahwa di pesantren juga harus ada pemberdayaan. Dibangun tata ekonominya.
Bujangga Manik Muhammad dan para seniornya yang mengecap pendidikan di luar pesantren, memang berharap ada pembaharuan di pesantren tempat mereka menimba ilmu. Namun kadang ditentang oleh sang ustadz.