Bagian 4
Ini Dongeng Dari Mangrum
I.
Duh, betapa aku tersanjung. Bahagia yang tak perlu didefinisikan lagi, tentu.
Ya, ia memberiku nama yang manis. Mangrum. Cocok sekali. Sesuai dengan takdirku yang cuantik (atau syantik, ya?).
Mangrum, ya ... tentu bukan mangrove (56). Mangrove justru ledekkan dari Si Jin Sun, sebutanku untuk Si Jin yang pernah menyunat Bujangga Manik Muhammad saat kecil itu.
Ya, Si Jin Sun. Akronim yang sangat menjelma menjadi rasa Tiongkok, atau jangan-jangan juga Korea,ya? Soalnya saat aku masuk ke dalam imajinasi penulis novel ini, di negerinya, tengah ramai Drakor (57) yang menggila.
Si Jin Sun atau kadang kutulis Jinsun, memang suka jail. Tapi, baiklah, mari lupakan dahulu dia!
Aku memang cantik. Setidaknya jika aku bercermin, aku menemukan sosok yang lebih keren daripada Teddy Bear (58) yang suka disandingkan denganku oleh Mella Jaarsma (59), tuanku. Tuan Putri-ku yang sangat jelita, Blasteran Holland dan Sunda.
Aku memang hanya sebuah boneka. Boneka berhidung mancung, dengan rok kotak-kotak hitam yang serasi. Sebelum bernama Mangrum, nama yang diberikan Khanza Auranti, yang kelak akan menjadi istrinya Bujangga Manik itu, namaku adalah Alice.
Tentu aku menyukai nama itu. Mella Jaarsma memang memanggilku dengan sebutan itu, yang ia andaikan bahwa aku secantik Alice in Wonderland (60). Dara jelita di negeri dongeng. Dongeng yang indah. Dongeng yang mengispirasiku menjadi pendongeng juga. Hidupku memang penuh dongengan.
Aku hidup dalam satu hingga jutaan dongeng.
Akulah dongeng itu.
Aku tinggal di sebuah rumah kuno warisan Junghuun (61), yang didiami oleh keluarga Mella. Rumah itu bercat putih dengan tembok dinding dan lantainya yang tebal. Keramik dengan ornamen Eropa yang kental, menghias lantainya, yang pada ujungnya, ditahan lembut sepasang pintu kayu jati yang besar, bersenyawa dengan keramik sewarna bata. Merah agak gelap.
Namun pada teras, lantai itu berubah menjadi batu-batu templek yang disusun tanpa arah namun membentuk kesatuan yang indah. Komposisi yang cantik. Batuan yang diambil dari alam itu, juga memenuhi pinggul rumah itu setinggi satu meter dari tanah bercampur batu-batu sungai kecil. Lebih besar dari kerikil dan tidak dekil.
Seluruh jendelanya tampak elegan. Ini karena selera arsiteknya terhadap kaca patri juga tumbuh, sehingga dari luar, kaca-kaca yang membentuk beragam ornamen simetris hingga non simetris, menjadikan rumah itu seperti dibawa jin kepunyaan Nabi Sulaiman dari arsitektur rumah-rumah Eropa.
Baiklah. Kau mungkin berpikir kenapa aku secerdas ini ya? Ya, maksudku dapat mendeskripsikan keadaan seperti itu, akan membuatmu keheranan atau tak percaya. Baiklah. Tak apa-apa. Bacalah terus apa yang kuungkapkan. Kau akan tahu sendiri apa sebabnya.
Ayah Mella adalah mandor Perkebunan Teh Malabar. Pria jangkung dengan rambut gondrong ini juga blasteran antara Nederland dan Sunda, lalu menikah dengan Nyai Malati Nu Wangi, trah Sunda asli yang konon masih keturunan Raja Padjajaran, dan masih berhubungan darah biru dengan keluarga Kerajaan Tarumanagara. Darah biru ibunya Mella memang terlihat dari kejelitaannya, serta sikapnya yang santun dan lebih cerdas dari para staff perkebunan, apalagi dengan para pemetik teh yang sangat hormat padanya.
Jangan tanya lagi bentuk tubuhnya yang sangat ideal bagi perempuan. Sebetulnya ia tentu berhak menyertakan pangkat Raden Dewi di depan namanya, namun ia jarang memakainya. Ya, setidaknya hanya petugas kependukan dan catatan sipil di Kaki Bukit Malabar itu yang tahu.
Nyai atau Raden Dewi Malati lah yang menjadikanku sebagai kesayangan Mella. Aku menyebutnya Neng Mella. Aku sendiri lupa kapan aku dilahirkan secara tepat dari pabrikku.
Konon aku berasal dari India, yang kemudian terdampar di sebuah toko mainan di Jalan Braga, jantung Kota Bandung. Mella merengek pada ibunya agar ia punya teman baru. Lalu jadilah aku sahabat Mella. Di kamar tidur, ruang tamu, ruang belajar, teras, halaman, hingga jok mobil VW Kodok hitam kepunyaan keluarga itu, menjadi tempat aku dan Mella menghabiskan detak jam, denyut waktu, juga udara yang dihabiskan rindu hingga ke akar-akarnya.
Bersama Neng Mella, setidaknya karirku sebagai boneka mencapai ketinggian yang menakjubkan. Aku diberi keajaiban menikmati hektaran tanaman teh yang membuat mataku sejuk. Hatiku juga damai. Pohon-pohon kina juga menyediakan lukisan impresionisme yang kuat.
Paduan warna kuning kehijauan yang terkelupas, bersanding dengan kulit kayu coklat mudanya yang kadang seperti menajam oleh gesekkan angin juga kesedihan cuaca dingin. Aku banyak menikmati lukisan-lukisan klasik dan impresionis itu dari buku-buku yang kadag berserakan, saat ayah Mella suntuk membaca-baca buku-buku setebal bantal itu.
Junghuhn memang menanam pohon-pohon Kina itu berselingan dengan tanaman teh yang dapat menguatkan tanah.
Dari pegunungan dan Danau Cisanti hingga ke Gunung Wayang, pepohonan kina itu menjadi pasak-pasak raksasa bagi dataran yang kemudian sering dihajar gempa dan longsor itu. Semacam neraka juga bagi para jin penunggu villa di hutan-hutan.
Jika hari cerah, dan Minggu menjadi tanggal merah yang nampak menjadi merah muda hingga magenta, aku melesat dihela VW hitam legam dan megkilat itu bersama bayangan pepohonan sepanjang jalan berliku dari Pangalengan hingga Kota Bandung.
Sepanjang jalan, tentu aku menyukai dataran yang konon diciptakna saat Tuhan sedang tersenyum itu. Pebukitan penuh pohon vinus, lalu bentangan teh, serta huma-huma di atas bukit yang lebat dan ranum oleh tanaman jagung dengan topi berumbai di ujungnya.
Inilah serpihan sorga yang jatuh itu.
Lalu, jalanan sepanjang Braga juga menghiburku. Mella mendekapku terus. Aku diajaknya berbincang. Ia memang pintar. Cerdas seperti ibunya. Baik hati seperti ayahnya. Sayang, Mella hanya bermonolog, karena aku hanya mampu berkata-kata dalam hati kain dan wol-ku saja.
Yup.
Nah. Hingga di sini, Kau tahu, kan. Aku memang berharap Kau menyukai dongengku.
Lalu?
Lalu musibah itu datang mengajak nasibku berdansa. Menari dalam detak kematian.
Ya, ini terjadi pada suatu hari setelah ayahnya membaca sajak Priangan Si jelita karya Ramadhan K.H. Pada mulanya aku bermimpi menjadi manusia. Menjadi gadis berambut ikal panjang dengan tubuh jenjang. Kukira itu mungkin semacam gambaran Mella ketika besar nanti. Ketika kegadisannya tumbuh lebih ekspresif daripada pohonan kina berkulit halus dan licin meski tidak kehijauan.
Aku merasa memakai baju satin putih agak keperakan, dengan tubuh berbalut jaket dan tayet hitam hingga tudungnya. Namun sedikit lebih modis, pada pinggiran tudung hitam itu ada tiga buah garis putih agak lebar membentuk setengah lingkaran.
Yang aneh, aku merasa dalam sebuah dunia slow motion. Aku berlari, kurasa sepatuku berwarna kelam. Dalam hati aku sangat ketakutan, namun tubuhku seperti kapas saja yang hanya meloncat sangat perlahan.
Namun sialnya, dalam bayangan ini, aku bertemu dengan sekelompok orang (kukira laki-laki) yang juga mengenakan pakaiaan olahraga hitam-hitam, bahkan juga topi mereka. Namun topi itu mempunyai semacam kap mobil, berwarna hitam bening dengan garis garis vertikal.
Aku berlari. Seperti dalam sebuah kawasan pabrik, dalam gudang mereka yang penuh pipa-pipa memanjang, kaca-kaca setinggi hingga dindingnya yang bertemu dengan balutan baja segi empat memanjang.
Lalu ketika aku mampu melalui pintunya yang juga terbuat dari kaca, aku dapat berlari kencang. Bobotku menjadi lebih berat dan terasa menyobek udara.
Para lelaki berbaju hitam itu, juga kehilangan tubuh ringan mereka dan sama-sama menemukan bobot lebih jelas untuk mengejarku. Pada sebuah pojokan, mereka dapat menjebakku, menahan langkahku. Lalu yang paling depan, melemparkan bola hitam yang sepertinya terbuat dari logam, namun bisa terbang.
Bola logam seukuran bola voli itu menghampiriku. Aku melihat bola ini mempunyai biji mata berwarna keunguan. Bola itu bergerak kemana pun aku melangkah. Lalu tiba-tiba aku menemukan kekuatan besar untuk meloncat, bersalto, lalu berlari sekuat tenaga.
Bola logam terbang dan orang-orang berbaju hiutam-hitam itu lalu mengejarku terus, hingga aku merasa lelah dan putus asa. Tapi aku terus berlari seperti mendapat kekuatan entah darimana. Aku pun tiba di sebuah dataran luas, berbatu-batu, berbukit-bukit dengan jurang-jurang yang sangat dalam. Terjal. Pejal. Menantang kelembutan apa pun.
Lalu, dari berbagai celah dan lubang gua-gua bukit dan lereng batu itu, muncul mahluk-mahluk baru seperti para pemburu yang masih mengejarku. Mereka kemudian bersatu mengepungku dari berbagai penjuru. Aku terus berlari hingga tiba di bibir jurang yang sangat terjal.
Aku tak berkutik.
Keringatku deras menetes, namun justru itu yang tiba-tiba membuatku terpana. Keringatku seperti tersedot dan berkumpul di titik tengah huruf M pada telapak tanganku, lalu membentuk gumpalan bening. Refleks kuhentakkan tangganku, dan gumpalan bening sebesar kelereng itu lalu melesat menghantam beberapa pengejarku.
Terjadi ledakkan, yang membuat para penyerangku terpental, meledak di udara, dan orang-orang itu berubah menjadi serpihan benda-benda seperti termos, sandal, payung, botol plastik, patahan kayu, bunga, genting, batu, celana, kacamata, meja marmer, kopiah bekas, sarung sobek, panci bolong, kursi patah, gayung pecah, katel hitam, kompor kotor, pecahan piring dan gelas, pisau bengkok, golok buntung, kasur yang terburai isinya, hingga benda-benda kecil seperti korek api hingga jarum.
Ledakkan-ledakkan itu kian menjadi ketika aku terus melemparkan bola bening yang terbentuk dari keringat di tepalak tanganku. Aku terpana. Antara gembira dan terkejut. Semua benda-benda itu kemudian terjun menuju sungai yang menganga di bawah jurang.
Penyerangku yang terakhir, meledak bersamaan dengan bunyi petir yang membahana dari arah utara. Lalu langit perlahan menjadi gelap.
Awan-awan itu berjalan sangat cepat ditiup angin yang tiba-tiba menghantam pegunungan penuh batu itu. Aku segera melihat penyerang terakhirku yang tubuhnya menjadi serpihan handuk, lap, serbet, dan keset melayang-layang menuju mulut sungai yang kehitaman.
Aku terantuk sesuatu. Kepalaku terbentur sesuatu. Sesuatu yang membangunkanku. Benturan itu membuatku segera menyadari bahwa aku sudah keluar dari pintu mimpi kelamku. Aku melihat wajah pucat Mella, juga suara hujan deras di antara derum VW kodok yang dikemudikan ayahnya.
Ledakkan lagi. Namun kini bukan lagi penyerangku yang kemudian meledak dan menjadi serpihan benda-benda. Suara itu memang suara petir di samping gemuruh guntur sepanjang jalan menuju Pangalengan.
Kesadaranku memang belum pulih, ketika benturan lebih keras membuatku lepas dari genggaman Mella. Lalu suara jeritan, seperti biola yang tersayat, meningkahi kayu patah, besi yang berdentang.
Lalu kerajaan sunyi tumbuh.
Aku terlempar bersama pintu mobil yang terbuka cepat. Aku melayang. Dalam gelap. Dalam deras hujan. Dalam paduan suara petir. Dalam basah yang membuatku tergigit dingin.
Aku sakit, basah, lemas, dan terhempas entah ke mana. Entah di mana.
Sampai di sini, Kau tahu ini bukan lagi dongengan. Aku tak mampu lagi membuaimu dengan cerita-cerita yang memukau. Aku sepenuhnya air mata. Kesedihan yang tanpa tanah air itu. Tanpa darah dan impian.
Apakah menurutmu aku sudah tak mampu lagi mengatakan apa pun?
Ya. Aku kehilangan kata-kata yang tak lagi tumbuh di imajinasiku sekali pun. Kenangan telah patah, mungkin. Aku hanya pasrah. Menyerahkan pelukan nasib dan takdir yang mengantarkanku ke pemakaman tanpa tanah, bahkan tanpa air mata dan isakan.
Aku hanya merasa. Ya merasa pingsan. Itu pun barangkali. Entah apa sebutannya. Hanya perasaanku berkecamuk dengan basah dan dingin pada seluruh tubuhku.
Telingaku rasanya telah hilang sebelah. Ya, entah terkoyak di mana. Mungkin terbentur batu, terobek sayatan kayu dan ranting pohonan yang patah, atau entahlah. Pedih. Perih. Terbuang. Tersia-sia.
Pada jam hingga hari ke berapa aku hanya mengikuti aliran air deras yang membuatku timbul tenggelam. Hanya sesekali aku melihat matahari. Selebihnya air kotor bercampur lumpur yang membuatku seperti tangki bensin yang akan meledak.