TARUM TATU

Drs. Eriyadi Budiman (sesuai KTP)
Chapter #5

Podcast Bersama Khanza dan Tisna #5

Bagian 5

Podcast Bersama Khanza dan Tisna

 

Spasi 1

 

           “Asalamau Alaikum saudara-suadaraku dimana pun Anda berada. Baik di dunia maupun di akhirat hehehe ... Sampurasun! Selamat bertemu kembali dengan Saya, Syarif Hidayat, di Youtube Chanel Ecolitera, platform literasi berbasis lingkungan. Kali ini, podcast kita menghadirkan Ceu Khanza Auranti, aktivis lingkungan dari Kabupaten Bandung Barat. Banyak yang belum mengenal beliau, namun beliau adalah sosok hebat dibalik kesuksesan sang suaminya yang sudah sangat kita kenal, Yakni Kang Bujangga Manik. Sosok penggerak lingkungan yang sudah menginternasional dan juga aktivis Greenpeace di Indonesia. Selamat datang, Ceu ... Apa Kabar?”

           “Alhamdulillah ... baik, baik. Terima kasih sudah diundang modcast dengan Youtuber terkenal yang hampir menyaingi Deddy Corbudzier ...”

           “Wah, Ceu Khanza membuat saya tersanjung!”

           “Tersanjung episode ke berapa?”

           “Hahahaha ... Anda ternyata saingan berat Nunung Srimulat juga!”

           “Berat di ongkos Kang Syarif sayah mah, hehehe ...”

           “Oke. Nanti saya ongkosin pulangnya hahahaa ...”

           “Wah ... siap, siap!”

           “Begini, Ceu. Apa sih kegiatan terbaru di Bersih Citarum Foundaton?”

            “Masih meneruskan garapan yang sudah ada. Membuat tas dan tikar bulat eceng gondok, juga mengembangkan ecoprint.” (62)

           “Untuk lokal atau eksport?”

           “Dua-duanya. Ada pesanan dari Kalimantan, Bali, Jepang, Korea, juga beberapa negara di Eropa!”

           “Mantap. Bagaimana bisa seperti itu?”

           “Prosesnya tentu panjang, Kang! Lebih panjang dari Sepanjang Jalan Kenangan!”

           “Hahaha ... oke, oke ... apa pengaruh kenangan terhadap kerja saat ini?”

           “Kami, saya dan Kang Bujangga punya kenangan buruk, bagaimana banyak sekali masyarakat yang termiskinkan, karena gagal transmigrasi ketika Citarum dibendung. Mimpi buruk kami juga sama, yakni akibat limbah industri rumah tangga, penggundulan hutan, dan masifnya pencemaran dari ribuan pabrik tekstil dan yang lainnya. Kaki hingga kepala kami juga terkotori hingga banyak melahirkan mimpi buruk ...”

           “Tak ada lagi mimpi indah?

           “Itu tantangannya. Kami harus membuat mimpi indah. Tak Cuma buat keluarga Bersih Citarum. Eceng gondok itu gulma, misalnya. Kami olah menjadi keindahan baru yang bisa menarik minat masyarakat dunia. Sampah Citarum juga kita kelola, sehingga para pemulung punya harapan tangannya bisa meraih apa yang mereka angankan.”

           “Berarti diuntungkan oleh sampah, dong!”

           “Bukan begitu cara berpikirnya. Kalau tak di sampah, tentu ada kerja lain. Justru karena kami diberi musibah dengan melimpahnya sampah dari Citarum, maka kami berusaha membuat musibah itu menjadi berkah. Bernilai harapan. Kalau dibiarkan bisa kiamat, kita. Nilai ekonomi yang lahir, ya itu hanya akibat. Akibat pergaulan bebas kami dengan sampah ...”

           “Hehehe ... ya, bahkan akibat indah lain karena suami Ceu Khanza dianugerahi Pahlawan Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup RI, kan?”

            “Itu bonus. Kebahagiaannya juga kami bagi kepada masyarakat”.

           “Saya belum kebagian, lho!”

           “Tenang. Mau? Sampahnya masih banyak, kok!”

           “Hahahaha ... Rina Nose juga takluk, kayaknya ...”

           “Saya ini guru. Terbiasa memuliakan siswa dengan membuat mereka bahagia”.

           “Yayaya ... seperti para penceramah, tak ada humor tak ada jamaah!”

           “Saya hanya belajar dari Gus Dur. Guru Bangsa kita!”

           “Baik ... baik ... Sekarang mengenai nama. Dengan atau tanpa duri, Mawar tetaplah Mawar kata Mamang Shakespeare. Apa sih arti atau makna nama Ceuceu? Sepertinya nggak Nyunda, begitu!”

           “Ya. Menurut ayah saya, nama Khanza diambil dari Sirah Nabawiyah (63), yakni nama seorang ibu yang dengan ikhlas menyerahkan dua putranya pergi ke Perang Badar menemai Rasulullloh!“

           “Auranti?”

           “Ini yang unik. Ayah saya kan berasal dari Muslim India. Nenek moyangnya berasal dari bantaran Sungai Brahmaputra, Assam, dan Arunachal Pradesh, Timur Laut India. Tempat-tempat itu merupakan gudangnya Channa Aurantimaculata. Ikan yang terkenal cantik...”

           “Secantik Ceu Kahnza!”

           “Ya enggak lah! Saya kan bukan large mouth fish ... (64)”

           Syarif Hidayat tertawa renyah kemudian menyeruput kopi, dan mempersilahkan Khanza minum. Juru kamera juga minum. Pengatur audio menyeruput kopi sambil mengerat roti bakar rasa coklat bertabur saus kacang. Seekor, dua ekor, lalu tiga ekor cecak berkejaran pada dinding studio mini berhiaskan lukisan sembilan ekor ikan koi itu. Seiringan semut di sudut dinding, ramai-ramai memanggul sisa-sisa makanan.

           “Kita lanjutkan. Ngomong-ngomong, sudah divaksin?”

           “Baru dua kali”.

           “Tidak takut ada apa-apa, karena konon ini produk konspirasi?”

           “Teori konspirasi itu kan baru bisa dibuktikan kalau fakta-fakta pendukungnya sudah sahih. Secara hukum positif. In The Name of The Rose-nya Umberto Eco kan memperlihatkan itu. Saya percaya pada Tuhan saja, bahwa takdir itu selalu terhijab. Mungkin malah ada yang merasa lebih baik mati karena Virus Corona, daripada dimakan buaya atau pun tergilas kereta api ...”

           “Wuih, Ceu Khanza gemar buku sastra juga?”

           “Alhamdulillah saya punya TBM yang dipasok banyak bacaan bagus. Kang Gola Gong yang meresmikannya, saat dia menjadi Ketua TBM Indonesia!”

           “Hebat ... hebat. Tapi kan, tidak semua pengelola TBM sendiri gemar membaca!”

           “Itu soal lain. Akan ada perbaikan lah bagi mereka ke depannya. Penggerak minat baca juga kan harus melek baca. Gemar membaca!”

           “Apa saja kegiatan Taman Bacaan Masyarakat yang Ceuceu kelola ini?

           “Saat sudah berjalan satu tahun, kebetulan ada teman yang menjadi fasilitator Perpuseru. Beliau sahabat Kang Bujangga.”

           “Perpuseru? Seseru apa itu?”

           “Perpustakaan Seru. Itu program CSR dari CocaCola Foundation Indobesia atau CCFI yang menurut saya memang seru. Saya ambil programnya. Kami diberi pelatihan mengelola perpustakaan yang lebih baik. Ada bantuan tiga buah komputer juga, agar masyarakat pun melek teknologi dan kecakapan teknis digital lainnya. Ada pelatihan keterlibatan masyarakat juga ...”

           “Seperti apa?”

           “Sebenarnya sebahagian program itu telah kita lakukan. Pengelolaan sampah bersama para pemulung, pembuatan kerajinan eceng gondok, dan advokasi kepada para pengambil keputusan. Perpuseru lebih jadi penguat. Kami juga dievaluasi. UMKM-nya juga didorong, serta diapresiasi dalam bentuk pertemuan nasional dengan semua penggeraknya dari seluruh provinsi”.

           “Hmmm .. .baik. Tapi bukan berarti tidak banyak tantangan, kan?”

           “Tentu. Di awal mengelola sampah, ada juga yang tidak setuju. Ada juga teror dari pihak lain yang tak perlu saya sebutkan di sini. Koperasi yang pertama kami dirikan juga dibubarkan. Ada pengurus yang menerima bantuan dari Partai Politik, yang tidak kita setujui, karena juga ada perkeliruan di sana. Pokoknya banyak juga serangan!”

           “Termasuk Serangan Fajar?”

           “Itu dia. Ada saja masyarakat yang tergiur.”

           “Apa yang lebih berat?”

           Khanza Auranti menahan nafas sejenak. Meminum teh hangat. Menarik sedikit tubuhnya dari pelantang suara bundar ala penyanyi Blues ke punggung kursi setelah meletakkan cangkir keramik abu pupus yang baru disentuh bibir merahnya. “Satu saja, ya?!”

           “Boleh. Meski buat Kang Bujangga mah boleh 2,3 atau 4!”

           Khanza tertawa kecil. Penata kamera tersenyum. Cecak, semut, dan penulis novel ini juga pura-pura tersenyum sambil merokok dalam-dalam.

           “Saat Gary Banchegib, Youtuber Prancis sahabat kami yang bermukim selama tiga bulan di tempat kami, menayangkan pencemaran Citarum dari Majalaya, Baleendah, dan Dayeuhkolot, di kanal Youtube-nya. Kami, Gary sendiri, tak menduga tayangan itu diunggah ulang dengan versi masing-masing, hampir semua media digital nasional hingga internasional. Esoknya, ada beberapa oknum pemeritahan menyatroni kami. Marah-marah. Telunjuknya terlalu lurus. Suaranya mengalahkan salak anjing kampung. Pencemaran nama baik, lah. Mau dituntut ke pengadilan, lah. Mau dipoliskan, lah. Ya, dan macam-macam hal lain yang tak ingin saya ingat lagi.”

           “Innalillahiii ... lalu bagaimana lanjutannya?”

           “Berakhir sendiri!” Khanza meraih minumannya lagi. “Mereka, saya dengar malah dipecat. Bahkan Pemerintah Pusat justru mengalokasikan dana bantuan untuk perbaikan Citarum. Kata Sang Konon, WHO juga terperangah, ikut terncam, lalu mengirim dana hibah ”.

Lihat selengkapnya