Bagian 6
Hai, Jangan Kau Telan Sungai Itu
Jangan 1.
Setangkup keremangan, menggenangi ruang baca di kontainer yang disulap menjadi perpustakaan itu.
Eddi Koben, relawan literasi berambut gondrong yang sudah hampir satu tahun merelakan waktunya di TBM Harum Tarumanagara, masih anteng mengikuti wawancara sastrawan Joni Ariadinata dengan seorang Kyai di kanal Youtube Basabasi TV.
Sesi ‘bercerita’ ini menguraikan tentang pengalaman Joni bersama sastrawan sufi Danarto mengenai salah satu sahabatnya yang sangat kaya raya. Terlalu kaya untuk dilupakan. Beliau datang ke sana untuk menyampaikan bahwa rumah pemilik warung depan kampus yang pernah menolong mereka, telah rubuh. Namun saat diminta bantuan, sang sahabat yang konglomerat itu enggan menolong ibu asuh, pemilik warung itu, yang pernah menganggapnya anak, saat sang sahabatnya itu masih miskin dan kelaparan.
Sepulang dari rumah super mewah itu, Danarto sampai menangis.
Meratap.
Sesunggukan.
“Joni! Catat baik-baik! Jika orang itu mati, arwahnya tak akan diterima oleh tanah. Seminggu kemudian, di Kompas muncul cerpen berjudul Mayat Yang Melayang-layang Di Udara. Danarto!” tutur Joni dengan suara hampir tercekat.
Eddi Koben mengelus janggutnya yang enggan tumbuh. Lalu mengelus dada kerempengnya yang tersembunyi dari kaos oblong bertuliskan Kata Adalah Senjata. Ia Menghela nafas, memandang ke arah jajaran meja bulat dan kursi depan setengah potongan kontainer yang berfungsi sebagai jendela.
Malam telah tumbuh menjadi sangat dewasa dan gelap. Ia membayangkan bagaimana ada mayat yang melayang-layang di udara. Bergidik. Ia nyaris jatuh dari kursi. Sebuah novel Korea yang ingin dibacanya, terjatuh. Ia memungut, lalu meletakkannya di rak.
Yang sudah lama ia tunggu, Bujangga Manik, kemudian tertangkap matanya menuju ke arah perpustakaan. Eddi beranjak, lalu bergegas menemui Bujangga.
“Kang, tadi Mang Udung ke sini! Ia minta saya mengangtarnya ke bawah, ke bantaran Citarum. Katanya takut ada perahu yang terbawa arus!”
Bujangga mengangguk, duduk, menyimpan tiga buku tebal di meja kayu bulat. “Aku ketiduran saat hujan deras tadi. Ya, kamu cepat saja menyusul Mang Udung! Nanti aku juga ke sana! Telepon saja kalau ada masalah!”
Kaki Eddi Koben nyaris terpeleset, saat ia bergegas ke luar halaman perpustakaan. Ia memperlambat gerakan tubuhnya di antara tanah becek menuju bantaran kali Citarum.
Udara seperti membawa tusuk sate. Bujangga mengetatkan jaket kulit coklat lusuhnya. Sederet kabut dingin menelusuri kakinya, setelah hampir membekukan sarung kotak-kotak yang menutupi celana jeans biru lusuhnya.
Sambil bersedekap, bersandar pada kursi kayu perpustakaan, ia memejamkan matanya di antara nafasnya yang terasa sesak. Gerimis datang, menggelinjang tersorot lampu neon. Di saat bersamaan, Pak Menteri Kelautan juga terpejam menikmati laju cepat kendaraan dinasnya di Jalan Tol Cipali; Pak Presiden memangku cucunya sambil memandang air hujan yang merayap pada kaca jendela depan Istana Kepresidenannya di Bogor;
Seorang Youtuber dari Fayz Fishing Adventure mengayuh perahu kano di antara rawa sungai sekitar Pangkalan Bun, Kalimantan, menemani penombak ikan Toman dan Channa Red Pangkalan Bun; Penyair dan Pelukis Acep Zamzam Noor menyalakan tembakau pada padudannya, sambil menikmati pembacaan puisi dari peserta Lomba Baca Puisi FLS2N 2020 di layar komputer yang dikirim panitia;
Raja Salman memandang beberapa orang yang tengah berthawaf di Mesjidil Haram sambil menjaga jarak dan mengenakan masker; Valentino Rossi menjajal motor balapnya yang baru di sebuah tempat yang dirahasiakan; Grup K Pop Blackpink dan BTS menyelesaikan pembuatan videonya; Presiden Amerika tengah menjawab telepon Presiden Korea Utara, entah apa yang mereka bicarakan;
Pelukis Nasirun terus menggoreskan sapu lidi pada cat yang menempel di kanvas raksasa yang hampir menututpi sebahagian studio barunya, dan tengah ditoton perupa Agus Suwage, cerpenis Agus Noor, penyair Joko Pinurbo, dan penari Melati Suryodarmo;
Gubernur Jabar menggerus jalanan terjal dengan motor besarnya bersama sang istri cantiknya di antara hujan lebat menuju pemukiman terpencil; sedangkan penulis novel ini terus berpikir sambil menikmati sayatan biola maut Idris Sardi, sayatan nasibnya juga.
Bujangga Manik, merasakan malam yang aneh. Pikirannya seperti membuka sulaman masa lalunya. Folder cinta di memori kepalanya membuka file saat ia terjebak dalam konflik besar di beranda rumah keluarga besar Khanza Auranti.
Hajatan kecil lamaran itu baru setengahnya berjalan. Usai jari manis Auranti menerima ikhlas cincin pertunangan dari Bujannga Manik, tiba-tiba di luar halaman terdengar deru mobil mengeras lalu berhenti dengan suara ban mencicit.
Semua terkejut.
Ayah, Paman, Pak Ajengan, dan Khanza Auranti bergegas menuju beranda. Bujangga Manik menyusul dari belakang.
Sesosok bayangan muncul usai menutup keras pintu mobil, dan menendang pintu kayu halaman rumah. Sosok berseragam tentara itu berjalan cepat sambil mengacungkan pistol. Adegan ini membuat gemetar tubuh Ayah dan Paman Khanza, serta memucatkan paras Khanza. Bujangga Manik tertegun dan merasakan jantungnya bertalu-talu, seperti direngkuh tangan traktor sampah yang buta. Beberapa tamu perempuan dan tuan rumah terpekik, lalu menutup mulutnya.
Lelaki bermuka serona senja dari Negeri Senja-nya Seno Gumira Adjidarma itu, terus berjalan. Mulai tenang. Tapi matanya dingin. Tajam.
“Mana Bujangga? Ke sini kalau dia laki-laki jantan!”
Bujangga menelan ludahnya yang mendadak pahit dan panas. Kejantanannya terusik. Sambil menahan getaran dadanya, ia mencoba berjalan tenang, menyeruak di antara tubuh berkeringat hebat calon mertuanya. Pipi Khanza Auranti makin memerah.
Lelaki yang nampak tegang itu mengarahkan pistol pada dada Bujangga, saat mereka berhadapan dalam jarak empat meter.
“Kau bajingan itu, rupanya!” suara laki-laki itu seperti salak anjing penjaga yang kelaparan.
“Sopan sedikit! Kamu mau apa?” Bujangga balas menatap, sedikit lunak.
Khanza menuruni tangga beranda, melepaskan pegangan tangan ibunya yang dibasahi laut keringat.
“Kamu melamar pacarku, goblok! Itu pengkhianatan!” laki-laki itu bergerak perlahan sambil tetap mengarahkan pistol pada Bujangga yang bergerak menyamping. Laki-laki itu mengikuti gerakan Bujangga Manik. Memperpendek jarak.
“Simpanlah pistolmu! Semua peluru takan bisa tembusi tubuhku!” Bujangga tersenyum, sedikit bergetar. Ketenangannya mengherankan semua yang ada di situ, juga satu dua kepala tetangga jauh yang diam-diam terusik mengintip di balik rimbunan pepohonan dibalik pagar halaman.
Khanza menggulung kain kebaya bordil putih pada lengannya. Berusaha menggerakkan kakinya yang agak kaku. “Tenanglah! Jangan ribut!” pintanya memelas.
“Pembohong!” laki-laki itu melirik, terus bergerak memperdek jarak, melihat gerakan Khanza yang mendekat. Lalu ia mencoba mengarahkan pistol itu ke tubuh Khanza.
Secepat kilat, Bujangga menangkap kesempatan emas. Tubuhnya mencelat dan kakinya dengan telak menghantam tubuh laki-laki itu. Meski keberatan, akhirnya tanah menerima dengan kesal tubuh laki-laki itu yang rubuh dan berteriak menahan sakit.
Bujangga tersenyum getir mengenang serat-serat perjalanan cintanya dengan Khanza. Ia membuka matanya lebih lebar untuk menahan kantuk. Peristiwa bertahun lalu itu berakhir dengan larinya sang pecundang, usai laki-laki yang mengaku pacar Khanza itu menerima pukulan telak dekat buah jakunnya, saat ia hendak mengambil pisau di pinggangnya, setelah pistolnya meledak dan terlepas.
Sejak itu, Bujangga hanya mendengar beberapa kabar buram. Ada yang mengatakan bahwa lelaki itu dipecat lalu menghilang. Ada juga kabar lain bahwa laki-laki itu dipenjara, karena juga terlibat menjadi beking pengusaha tekstil yang mencemari Citarum. Kabar yang tidak meyakinkan juga mengatakan bahwa ia dikirim ke medan perang di Afghanistan. Yang lebih tidak meyakinkan, muncul cerita bahwa lelaki itu bertapa di sebuah goa paling angker, untuk memperdalam ilmu kanuragan.
Ya, sudahlah.
Waktu terus berlenggang tanpa mengganggu bandulan jam.
Bujangga mengeluarkan rokoknya. Saat menyalakan gas, ia menangkap suara salam yang tak dikenalnya. Sesosok tubuh lusuh berseragam orange memasuki halaman perpustakaan. Ia memarkir sepedanya, sepeda onthel tua, lalu meraih tasnya berjalan ke arah Bujangga Manik.
“Bapak ini, siapa?” Bujangga berdiri dan menjabat uluran tangan tamunya.
“Bapak suka puisi atau cerpen?” pria tua itu malah balik bertanya.
Bujangga tercenung, lalu menjawab sekenanya,”Dua-duanya saya suka.”
“Kalau begitu, Seno Gumira Adjidarma pasti Bapak kenal!”
“Hanya namanya. Ada apa?”
“Perkenalkan, saya tokoh pengantar surat dalam cerpen Tukang Pos Dalam Amplop, yang dikarang Pak Seno!”
Bujangga menggaruk-garuk tak gatal kepalanya. Mungkin ia orang gila, pikirnya. Lalu menghembuskan asap rokoknya yang memenuhi udara. Ia menerima amplop hitam dari sang pengantar surat misterius itu. Nama dan alamatnya tertera jelas. Tapi tanpa identitas pengirim.
“Silahkan duduk dahulu, Pak Pos! Mau Kopi, teh, susu, atau...”
“Terima kasih, Pak! Saya harus kembali. Tak sedetik pun Pak Seno menyuruh saya istirahat. Saya harus mengantarkan satu lagi surat terakhir!”
Bujangga Manik melongo, “Memangnya, Pak Pos ini mau ke mana?”
“Ke ujung dunia, Pak Bujangga!”
Amplop hitam di tangan Bujangga makin terasa hangat, saat tukang pos itu menaiki sepedanya kembali, membunyikan bel besi, dan menghilang di lidah malam. Bujangga duduk kembali, menyimpan amplop itu di meja sambil dipandanginya dengan masygul. Kenapa hitam dan tanpa identitas pengirim? Pikirnya.
Bujangga meluruskan punggungnya. Matanya beredar memandang buku-buku, kursi-kursi, sudut kontainer, laptop Eddi Koben yang menyala tanpa suara, lalu mematung di antara nyala lampu neon yang membisu.
Hening.
Gerimis yang tak diundang mulai menderas.
Sepi.
Di kolam tepi kontainer, katak-katak seperti enggan bernyanyi.
Tiba-tiba, mata Bujangga Manik menangkap sekelebatan kabut gelap menghampirinya. Lalu matanya seakan-akan ditutupi kegelapan. Gelap sekali. Bujangga Manik tergagap-gagap. Jantungnya mengencang. Kepalanya seperti ditanami ombak banyu. Berdenyut dalam tempo tak teratur hingga membuatnya seperti dalam kapal yang akan karam di tengah badai.
“Astaghfirullohhaladzim!” mulutnya setengah berteriak. Dalam keadaan antara sadar dan tak sadar, ia teringat sesuatu, lalu membacakan sebuah wirid.
Sesaat, rasa terguncang itu mulai mereda. Puncak kecemasannya yang tiba-tiba tumbuh, perlahan mulai mereda. Kabut hitam itu seperti perlahan memudar, lalu lenyap entah ke ujung arah yang mana. Penglihatanya kembali normal. Instingnya bergerak cepat.
Bujangga berdiri lalu setengah berlari menuju kran air dekat kontainer. Mengambil wudhu. Lalu secepatnya masuk ke perpustakaan, menggelar sajadah.
Cukup dua rakaat.
Bujangga mengusap mukanya, lalu mulai membacakan wirid lagi.
Ia merasa beruntung, saat kegelapan yang tadi tiba-tiba menyergapnya, ia teringat ucapan kyai yang pernah dikenalnya. Tiga hari yang lalu, sehabis shalat Jumat, saat ia berjalan di depan rumah Pak Kyai Bahaudin, tiba-tiba dari pintu rumahnya Pak Kyai melambaikan tangan, memintanya singgah.
Meski membawa sebongkah rasa heran, karena sudah lama ia tak berjumpa dengan Pak Kyai yang sering melanglang ke berbagai wilayah itu untuk ceramah, ia menyeret langkahnya menemui Pak Kyai.
Usai sedikit basa-basi, Kyai Bahaudin yang dikenalnya sebagai murid Kyai Mama Cangkorah, sesepuh para ulama di wilayah Kecamatan Batujajar, memberikan secarik kertas.
“Bacalah ini, jika kamu merasakan kejanggalan, atau sesuatu yang berbahaya! Lalu cepat sembahyang sunat dua rakaat!” tuturnya lembut.
Saat itu, Bujangga hanya mengangguk. Turuti saja, karena Pak Kyai pasti mempunyai niat baik, pikirnya. Yang mengherankan, mengapa hal itu terjadi seperti sebuah garis nasib yang harus ia terima secara tanpa rencana.
Usai shalat sunat dan membacakan wirid, Bujangga menyandarkan punggungnya pada lambung kontainer besi yang ia sulap menjadi perpustakaan. Kiriman siapa dan dari mana kabut hitam pembawa maut itu datang, tak terpeta dalam pikirannya. Buram. Sukar diurai. Yang penting ia bersyukur mampu selamat dari tangan-tangan hitam tanpa hati. Namun otaknya terus memeras ingatatannya ke masa-masa penuh tikungan dan jeram.
Tiba-tiba ia teringat mayat Susanti, yang terapung di bendungan bebatuan saat pembukaan Festival Citarum akan dimulai. Itu dua tahun lalu. Tahun-tahun yang sering mengganggu tidur dan jaganya.
“Kematian yang msiterius. Tak wajar!” ungkap Dokter Faisal, ahli forensik Di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Kematian yang mempertemukannya kembali dengan sahabat kecilnya, yang ternyata menjadi dokter. Waktu itu.
Janda tanpa anak yang kemudian diketahui hamil muda saat kematiannya itu bukanlah mahluk manis yang terbang dari negeri asing. Bujangga Manik lebih dari sekedar mengenalnya. Pertemuan pertamanya justru di perpustakaan ini.
Susanti datang sebagai tamu tanpa undangan, dan mendadak meminta beberapa jawaban setelah mengenalkan dirinya sebagai wartawati sebuah situs berita dari Kota Bandung. Bagi Bujangga, melayani awak media adalah hal yang sama dengan memimum kopi dan menikmati rokok. Ia sering menjadi narasumber.
“Kau tetap sahabat baikku. Meski kita sudah lama tak bertemu, aku masih yakin kau orang yang jujur dan bisa menyiman rahasia. Sebuah rahasia besar!” Faisal memperlihatkan beberapa foto Susanti dalam beberapa posisi, serta beberapa bagian detail tubuh korban.
“Rahasia besar macam apa, Sal?” Bujangga melihat foto-foto yang disodorkan kepadanya.
“Ini dilakukan seorang profesional. Bukan pembunuh sembarangan. Dan, wanita ini adalah korban pembunuhan berantai!”
“Polisi sudah tahu juga, kan? Mereka sepakat dengan analisamu?”
“Ya. Ada indikasi ini dilakukan orang yang sama. Dalam satu tahun yang sama, hanya beda beberapa bulan. Ada tiga korban lainnya, sebelum Susanti. Dari rahimnya, karena ia hamil, aku telah melacak jejak DNA-nya. Jejak itu bisa mengarah pada sang pembunuh, meski belum tentu bisa dipastikan terhubung dengan kematian Susanti ini.”
“Maksudmu, bisa saja yang menghamili dia belum tentu pembunuhnya, kan?”
“Ya. Karena itu terjadi beberapa bulan sebelum kejadian. Pembunuhnya sangat teliti, nyaris tak ada jejak. Lagi pula, yang misterius ialah catatan DNA-nya, bahwa yang menghamili Susanti ini telah dianggap mati. Ia seorang disertir dalam perang di Afghanistan!”
“Dihamili hantu? Mustahil!”
“Ya, tentu mustahil. Tapi DNA tak bisa berbohong!”
“Berarti sang desertir itu belum mati, begitu?”
“Polisi juga kebingungan. Data kematiannya telah resmi tercatat. Kerumitan ini bisa ditunda. Itu yang pertama. Yang ke dua, yang terpenting kan siapa yang membunuh Susanti. Ini masih membingungkanku...”
“Oke. Bagaimana soal keterkaitan dengan pembunuhan lainnya?”
Dokter Faisal terdiam. Ia merasa Bujangga tak perlu tahu betul urusan ini.
Kedatangan Susanti dalam kehidupan Bujangga memang tak selesai dalam hitungan jari. Dalam beberapa kegiatan Bersih Citarum Foundation, ia pun kerap datang. Baik sendiri, maupun berombongan dengan mahluk unik yang dikenal Bujangga sebagai wartawan abal-abal.
Bujangga merasa ada yang tidak beres dengan perempuan yang mengaku sedang kuliah S2 di Pertanian Unpad itu. Ia pernah melihatnya menerima amplop usai penggerebekan sebuah pabrik tekstil, mengancam Kepala Desa sambil membanting majalah, dan hal lain yang membuat Bujangga menjaga jarak.
Namun, Susanti malah seperti ingin menebas jarak itu, dalam beberapa kali pertemuan mereka yang tak sengaja. Yang paling membuatnya marah ialah saat Bujangga satu panggung dengan Susanti dalam sebuah Seminar Lingkungan Menuju Citarum Harum.
Ia kaget. Makalah dan materi dalam power point yang ditayangkan Susanti, adalah milik sahabat dekatnya, seorang doktor muda bidang lingkungan yang baru naik daun. Saat didamprat di sebuah tempat usai acara, perempuan itu hanya tertawa sebagaimana tokoh Joker mengibarkan anarkhisme.
“Norak banget itu perempuan. Lagi cari mangsa di sini kayaknya!” sindir Khanza, di suatu senja yang ronannya mirip dalam kartu pos bertuliskan Sepotong Senja Untuk Pacarku.
Itu dia. Kecemburuan Khanza adalah gulma.
Bentangan lain sungai sengketa.
Bujangga memang menerima hibah dari Baznas berupa tanah, yang kemudian ia bangun dan jadi tempat pertemuan para aktivis tanpa pintu. Siapa pun bisa datang dan pergi kapan saja. Susanti sering bertandang, bahkan kadang bermalam.
Secara alami, ia tipe perempuan yang ramah, mudah menata kata sanjungan hingga kritik tanpa sayatan berlebih. Jaringannya luas. Para aktivis, polisi, aparat Pemda, artis, relawan, seniman, hingga pemulung kerap disapa dan menyapanya. Sejenis bintang lunak yang menyimpan bom waktu. Dan yang terparah dalam sejarah diri dan jantungnya, Bujangga sering menemukan pandangan dan lirkkan diam-diam Susanti.
Mau berkata sialan atau Puji Tuhan?
Khanza yang kemudian seperti cacing terpapar Corona. Bumbu-bumbu gosip selalu terhidang lebih lezat daripada daftar menu di buku-buku. Meski tak disusul pertengakaran besar, pertengakaran kecil sering terjadi seperti virus cemburu yang digerus bersama gulma-gulma cinta.
Penampilan Susanti memang selalu terlihat ‘eye catching’. Celana dan Jaket Jeans belel kelas selebritis, hingga rok dan kaus oblong yang menyilaukan hati, menjadi caranya menjadi merak di antara menjangan. Aneka kerudung alakadarnya, kacamata besar warna malam, dan riasan menor manjadi ramuan lain dari sihir penampilannya. Tak terlalu cantik, namun itu dapat dimaafkan oleh gerak dan apa yang dijadikan instalasi sepanjang tubuhnya.
“Seperti Paris dengan Eifel-nya. Seperti komputer dengan Apple-nya!” canda Si Jin Sun setiap perempuan itu melewati batang kepalanya.
Divamalika manyun. Semanyun-manyunnya tukang majun yang belum gajian.
“Janda muda tanpa buntut, memang akan seperti Kunang-Kunang Di Manhattan. Sangat puitis!” gelak Edi Koben, suatu ketika sehabis acara, melirik ke arah Khanza Auranti.
“Puitis? Hmm ... sepuitis syair para bujangga, kah?” cibir Khanza.
Wajah Bujangga Manik agak bersemu merah. Ia mengalihkan pandangnya ke angkasa, menambah komposisi asap pada kebiruan langit yang bersampan awan.
Namun semua kecemburuan Khanza kemudian berubah menjadi rasa bersalah, saat berita kematian Susanti yang tragis, memenuhi halaman media massa. Menjadi buah paling ranum bibir para aktivis lingkungan, para pejabat, jurnalis, dan orang-orang yang pernah bersentuhan secara lembut maupun keras dengannya.
Mengapa benakku kembali mengingat mayat Susanti? Apa yang terjadi dengan kepalaku? Kabut hitam tadi apakah berhubungan dengan semua itu? Batin Bujangga. Helaan nafasnya kemudian lebih panjang daripada deru kereta api pada jalanan yang kehilangan pagar pembatasnya.
Bujangga mencoba mengingat lagi pertemuan ke sekian kali dengan Dokter Faisal. Khususnya soal pembunuhan berantai itu. Saat itu, mereka bertemu pada sebuah kafe di Hotel Lembang Bandung, tepi kolam renang yang membentang dikelilingi pepohonan perdu.
“Indikasi pertama, semua korban di buang ke Sungai Citarum!”
“Maksudmu, berbeda dengan kematian lainnya, yang mungkin bunuh diri atau kecelakaan?”
“Ya. Di tahun 2018 ada beberapa mayat lain yang berdasarkan data kepolisian dan desa setempat, sebagai korban kecelakaan. Ada beberapa saksi yang juga menguatkan, korban lain itu akibat kecelakaan normal. Biasa. Yang empat ini kan, memang korban pembunuhan.”
“Apa lagi kesamaannya?”
“Justru terletak dari titik atau cara pembunuhan yang tidak sama.”
“Jangan membuatku bingung, Faisal!”
“Tidak sama, namun aku yakin terhubung, atau berhubungan erat!”
“Buktinya?”
“Justru susah dibuktikan jika mengikuti alur forensik! Termasuk jika mengikuti alur penyidikan para reserse!”