Aku melihat sosok yang meringkuk di tengah hujan dan hanya ingin menghela napas. Namun, tetap aku melangkah mendekatinya, perlahan melindunginya dari hujan dengan payung.
“Tata ya?” Tanya Surya padaku, tanpa menoleh ke atas. Tatapannya tertempel di anak tangga yang levelnya di bawah tempat dirinya berada. Apa yang menarik soal anak tangga dekat taman dekat rumah kami, aku juga tidak tahu.
“Ngapain menggerutu di tengah hujan gini. Kalau mau galau setidaknya cari tempat teduh kek. Atau di kafe kesukaanmu itu,” kujawab dengan nada datar.
Namun dari perkataan aku mukanya semakin asam, alis semakin menyatu, mulut semakin cemberut. Aku menghela napas, menebak-nebak keadaan yang terjadi. Sebab, sudah lama aku pergi mencari apartemen sendiri dan tidak menjadi tetangganya.
“Lisa, minta putus?”
Setahuku, mereka masih bersama dari SMA hingga berkarir. Namun, belakangan ini aku melihat tanda-tanda Lisa memikirkan menyelesaikan hal tersebut dari pertanyaan-pertanyaan via teks kepadaku. Surya yang hanya terdiam sudah menjawab pertanyaanku. Sebab, bila tidak, dia akan langsung menyangkal.
Aku mengangkat lengannya, untuk memaksanya berdiri.
“Ayo pulang.”
Percaya atau tidak, ini bukan cerita romansaku dengan Surya. Lelaki populer, teman masa kecilku sekaligus sepupu dan tetanggaku.