“Merkuri.
Planet paling kecil yang paling dekat dengan matahari. Dalam mitos Roman dia adalah ekuivalen dari Hermes, dewa perdagangan dan komunikasi.”
Melewati hujan yang berangin ini tidak hanya membuat Surya yang tidak berpayung basah saja, tapi aku juga. Baju yang baru pertama kali dipakai untuk bertemu klien ini sudah langsung berada di keadaan yang sangat kusut.
Sesampai kita di rumahku, aku sekalian berkabar dan menjenguk keluargaku. Mereka menyapa dengan ramah seperti biasa dan langsung meributkan kami yang sedang terlihat terguyur hujan.
Setelah mengganti baju dengan pakaian yang masih ada di rumah ini, aku melemparkan handuk ke Surya yang membeku di sofa. Selain itu juga aku memberikan baju ayahku yang sudah tidak dipakainya. Setidaknya akan lebih baik dibandingkan menggunakan kembali jas dan kemeja yang sudah basah kuyup sekarang.
“Cepat keringkan, terus mandi. Jangan basahi sofa orang tuaku.”
Surya memang langsung pergi ke arah kamar mandi. Namun, tak sepatah kata pun dia ucapkan sejak tadi.
Setelah dirinya selesai, dia duduk di sampingku. Bahkan teh dan makanan manis yang dia sangat suka tidak diambil.
“Ibuku sudah membuatnya, jangan nggak sopan gitu. Aku tahu ini bukan cokelat panas tapi kamu juga suka teh manis kan? Cepat minum.”
Aku tidak punya cara lain untuk memaksa dirinya yang terlihat pucat ini untuk mengambilnya. Jadi aku menggunakan taktik yang sebenarnya kubenci yaitu mempermainkan rasa tidak enak terhadap orang yang dia punya dari dulu.
Aku merasa sedikit bersalah tapi saat melihat akhirnya dia minum dan makan, aku sedikit lega.
“Ada apa lagi selain Lisa? Bukan meremehkan rasa cintamu ke Lisa, tapi kayaknya kalau hanya itu saja kamu tidak akan seperti ini,” aku bertanya padanya. Aku melirik dan melihat genggaman tangannya terhadap cangkir teh mengeras, sebelum kembali melemas.