Tentunya, di hari yang panas itu Surya pun masih mengintiliku. Entah apa yang dia lihat di telepon genggamnya itu. Dia duduk di bangku taman tepat sebelahku sambil bolak balik menghela napas. Aku menaruh pena di pangkuan dan menghadap dirinya ketika sudah lelah mendengarkan itu.
“Ada apa lagi?”
Surya yang tadinya mengetuk-ngetuk kakinya ke tanah berhenti.
“Mercury, sedang bersikap aneh. Dia tiba-tiba sering meminjam uang dariku. Aku tidak keberatan sama sekali, tapi itu tidak seperti dia. Lagi ada masalah apa ya?”
“Nggak nanya langsung alasannya?”
“Awalnya aku pikir biasa saja jadi tidak masalah kukasih tanpa alasan pun. Namun, karena sudah berkali-kali aku mulai bertanya-tanya.”
Kalau dipikir-pikir juga Mercury saat itu mulai jarang datang ke pertemuan kelompok ‘Tata Surya’ yang kami suka adakan tiap akhir pekan. Pertemuan yang dilakukan karena beberapa anggota berada di SMA yang berbeda. Dia salah satunya yang berpindah dari sekolah swasta bersama kami ke sekolah negeri.
“Nanti yang selanjutnya langsung kamu tanyakan saja.”
Surya mengangguk dan setelah itu postur duduknya sedikit lebih rileks. Dirinya mengipas-ngipaskan tangannya ke arah muka.
“Kamu tahan di sini Ta?”
“Kamu yang namanya sinonim dari matahari, nggak tahan sama panasnya matahari?” Candaku padanya.
Dirinya tertawa sampai tersedak. Aku sedang menepuk-nepuk punggungnya ketika Adam datang. Adam, salah satu teman kami, membawakan dua botol air dingin. Aku tersenyum padanya.