“Mercury?” Aku menyapanya. Mercury melompat dengan kaget dan hampir menjatuhkan barang-barang. Aku refleks mendekatinya dan mau menangkap apabila dirinya atau barang-barangnya benar-benar jatuh. Untungnya tidak.
“Tata? Halo, lagi apa di sini?” Tanya Mercury dengan senyum yang tidak bisa menutupi nada yang grogi.
“Lagi beli keperluan rumah. Tadi juga ada Adam, jadi aku sekalian deh bersama dia.”
Aku memberikan jawaban yang hanya setengah dari kebenarannya. Sebab, aku tidak mau Adam berada di posisi aneh yang membuatnya seperti menyebar-menyebarkan rumor mengenai Mercury.
“Oh iya, dia memang suka ke sini,” basa-basi Mercury.
“Iya. Jadi kamu belakangan ini jarang ikutan pertemuan karena lagi kerja paruh waktu? Ya ampun rajin banget kamu. Aku walau pengen nggak punya energinya,”
“Haha… kamu memang orangnya santai banget ya.”
Mercury tertawa dengan canggung. Kami terdiam beberapa tidak tahu mau mengatakan apa. Saat aku sudah tidak tahan dengan suasana ini aku mau pamit. Namun, tiba-tiba dia menghentikanku.
“Anu, bolehkah kita bicara sebentar, Ta? Tapi kalau bisa apa yang dibicarakan ini jangan dikasih tahu ke yang lain,” tanya Mercury sambil menatap ke lantai, seperti tidak berani menatap mukaku. Aku kemudian hanya mengatakan boleh dan kami pergi ke area belakang tempat belanja.