Keesokan harinya, aku bertemu dengan klienku yang lain dari kemarin. Memang kalau kerja freelance jadinya harus terus mencari orang agar uang tetap mengalir. Klien yang ini sudah pernah kubuatkan ilustrasi buku anak seri pertamanya sampai selesai. Sepertinya dirinya puas dengan hasilnya yang itu dan ingin bekerja sama kembali denganku.
Dengan segala kejadian kemarin untungnya aku bangun cukup pagi untuk berhasil merevisi sketsa konsep awal ilustrasi bukunya yang ke-2.
Kami bertemu di kafe yang bisa dibilang cukup nyaman. Klienku yang ini sampai banyak berbicara. Sampai akhirnya terangkat mengenai anaknya yang sedang perlu tutor pelajaran sains.
“Anak Ibu jenjang apa?” Kutanyakan kepadanya.
“SMP. Kalau sampai kamu kenal orang yang mau tolong kabarin ya.” Jawab Bu Ayu.
Saat berjalan kembali menuju rumah, aku jadi teringat Mercury. Apakah Surya punya nomor kontaknya?
“Tata! Ibu sudah siapin makan siang, langsung ambil saja ya di meja. Ayahmu lagi bikin kopi biasa untuk jualannya, jadi kalau perlu cari dia ada di dapur,” kata Ibuku saat membukakan pintu rumah.
Aku memperhatikan sekitar untuk mencari keberadaan Surya. Ibuku sepertinya menyadari dan langsung menunjuk ke arah kamar tidur tamu. Aku mengetuk pintunya dan Surya pun menyuruhku masuk.
Surya duduk di kasur sambil menatap gawainya dengan serius. Sepertinya dia hanya izin bekerja dari rumah.
“Surya, aku mau minta kontaknya Mercury kalau kamu punya,” tanyaku dari sisi pintu. Surya langsung memalingkan tatapannya kepada diriku. Benar-benar orang ini terlihat kurang tidur, kantung matanya sudah seperti Panda.
“Aku punya, kemarin aku minta. Mau untuk apa?” Tanya Surya sambil membuka kontak di ponselnya.