Sekarang kami kembali duduk di sini, dengan rasa kafe yang semakin sempit. Walau nyatanya, diri kami yang membesar dan tempat ini ukurannya sama. Semua yang aku anggap besar sekarang menjadi kecil. Seperti meja dan kursi ini, atau jarak dari kami ke kasir.
Saat Mercury datang, memang terlihat dirinya lebih kurus. Namun, selain itu, tingginya, gesturnya, dan senyumannya pun tetap sama. Betapa itu membuatku nostalgia.
Surya langsung melambaikan tangannya dan memanggil Mercury. Lalu dirangkul Mercury sampai dirinya duduk. Kami berbasa-basi tidak penting terlebih dahulu sekaligus saling mengabarkan keadaan selama ini.
“Venus masih sama, populer di antara cowok-cowok. Namun akhir-akhir ini sepertinya ada pacar yang sudah bertahan lama hubungannya sampai sudah tunangan. Adam kuliah di luar negeri sambil kerja. Marshall kamu pasti sudah tahu jadi artis. Jupiter… dia makin kacau. Satria jadi pengrajin logam perhiasan. Cael jadi pejuang 9 to 5. Kalau Samudra dan Pluto aku juga udah nggak kontak. Samudra bisa tanya Satria atau Cael sih,” oceh Surya dengan semangat. Selama mendengarkan Mercury hanya mengangguk sambil tersenyum.