"Halo, selamat datang."
Alia segera menyambut kedatangan beberapa pria berjas hitam. Iris matanya yang berwarna cokelat jernih menangkap jelas aura yang memancar dari tubuh mereka—dingin, mengintimidasi, dan seolah menekan seluruh ruangan.
Hanya untuk sekadar menghirup napas pun, rasanya ia harus berjuang mati-matian.
Dengan sisa ketenangan yang ia kumpulkan, Alia memaksakan senyum, menampilkan ekspresi terbaiknya agar tidak terlihat lemah.
Drrrt... Drrrt...
Ponsel di dalam sakunya bergetar hebat, memecah konsentrasinya.
Segera Alia meraih benda pipih itu. Sebuah pesan masuk, dikirimkan oleh adiknya.
[Rafa: Alia, aku harus segera melunasi biaya kuliah. Kapan kau akan mengirimkan uangnya?]
Rasanya kepala Alia serasa ingin meledak begitu membaca kalimat itu. Karena saat ini tidak ada tamu lain yang perlu dilayani, ia segera menghampiri rekannya.
"Euhm... Li Hua?" bisiknya memanggil pelan.
Li Hua, wanita berdarah Tionghoa yang memiliki mata indah yang menyipit itu, tersenyum ramah menoleh. "Ada apa, Alia?"
"Aku ingin menelepon adikku sebentar saja. Bisakah kau menjaga tempat ini sebentar?"
Senyum Li Hua seketika luntur, digantikan ekspresi kesal. "Apa dia kembali meminta uang padamu?"
Alia hanya bisa meringis, tak sanggup menjawab. Dari raut wajah yang pucat pasi itu, Li Hua sudah paham betul apa yang terjadi.
Li Hua mengibaskan tangannya dengan kesal. "Pergilah sana! Tapi katakan padanya, berhentilah menjadi beban bagimu. Dia itu laki-laki, sudah dewasa, seharusnya sudah pandai mencari nafkah sendiri!" gerutunya tak habis pikir.
Alia mengangguk lemah lalu segera beranjak. Kakinya melangkah tergesa menuju pintu darurat di ujung lorong yang sepi.
Tut... Tut... Klik!
Panggilan tersambung.
"Kapan kau bisa mengirim uangnya, Alia?" Suara Rafa terdengar mendesak di ujung sana, tanpa basa-basi sedikit pun.
Alia menghela napas panjang dan berat. "Tidak bisakah kau mencoba mencari pinjaman dulu? Aku belum menerima gajiku bulan ini. Dan sisa gaji kemarin? Sudah habis untuk kebutuhan sehari-hari dan uang saku yang rutin kuberikan padamu, Rafa."
Terdengar suara decakan lidah yang penuh ketidaksukaan dari seberang sana. Alia tahu betul, adiknya pasti merasa kecewa.
"Aku tidak punya orang lain selain kau! Kaulah kakakku satu-satunya, Alia. Aku pun sebenarnya enggan terus meminta, tapi apa daya? Ah... andai saja aku dulu ikut mati bersama Ayah dan Ibu, pasti hidupku tidak sesulit ini."
Deg!
Jantung Alia serasa berhenti berdetak seketika. Ia meremas ponsel itu kuat-kuat seolah ingin menghancurkannya.
Matanya terpejam rapat, menahan perih yang tiba-tiba menyergap. Bayangan masa lalu kembali menghantui—saat ia terpaksa menyaksikan kedua orang tuanya dimakamkan di dalam tanah, seraya memeluk erat tubuh kecil Rafa yang gemetar ketakutan. Kenangan itu mencengkeram hatinya dengan begitu kejam.
Menarik napas sedalam mungkin untuk menahan isak tangisnya, Alia akhirnya berbicara dengan suara yang bergetar namun lembut. "Baiklah... akan aku usahakan. Kau tenang saja dan belajar yang rajin, ya, Rafa."
Hanya kalimat itulah yang sanggup ia ucapkan sebagai penutup percakapan kali ini. Baginya, Rafa adalah segalanya. Ia tidak memiliki siapa-siapa lagi selain adiknya itu—keluarga terakhir yang tersisa di dunia ini.
Alia menjatuhkan dirinya di salah satu anak tangga. Dengan tangan yang gemetar, ia membuka aplikasi perbankan di layar ponselnya.
Sisa saldonya hanya dua ratus dolar. Jumlah itu bahkan nyaris tak cukup untuk menutupi kebutuhan makan dan dana darurat. Perutnya pun kini terasa perih menyiksa, mengingat ia melewatkan jam makan siang demi bekerja.
Namun, tak ada pilihan lain. Alia menatap tajam serangkaian nomor kontak di layarnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa sebelum akhirnya menekan tombol panggil.
"Alia! Ke mana saja kau? Kenapa baru sekarang kau menghubungiku?"
Suara di seberang sana terdengar lantang dan ceria, hingga Alia refleks menjauhkan ponselnya sedikit demi menghindari rasa nyeri di telinga.
"Ah... hai, Riska," jawabnya lemah, memaksakan nada ceria.
"Ya, ya! Kapan kau akan datang main ke rumah? Keponakanmu ini lho, sudah sering bertanya kapan akan bertemu bibi kesayangannya!" celoteh Riska penuh semangat.
Alia terkekeh tipis seraya mengusap tengkuknya yang terasa kaku. Ia membiarkan sahabatnya itu mengoceh riang sejenak, hingga ia siap menyampaikan hal berat yang harus ia katakan.
"Ehm... Riska... Maafkan aku ya mengganggumu... tapi..."
Suaranya terhenti, tenggorokannya mendadak kering kerontang. Ia butuh kekuatan ekstra untuk melontarkan permintaan yang terasa begitu memalukan baginya.
"Maafkan aku karena begitu tidak tahu diri... Bisakah... bisakah aku meminjam lima puluh ribu dolar?"