Gadis bermata hazel itu duduk di kursinya. Wajahnya tenang tanpa ekspresi. Matanya bergerak nanar menyaksikan adegan harian yang sedang berlangsung di depan papan tulis kelas. The Killers, begitu mereka memberi nama pada sirclenya. Sedang membully gadis berponi berambut panjang. Serena. Tangisannya semakin pilu terdengar. Umpatan-umpatan kasar semakin keluar dari mulut gadis berperawakan tinggi di depannya. Reaksi teman di kelas? Jangan kau tanya. Tak ada yang menolongnya. Yang lain justru tertawa mengejek.
Karina, sebut saja begitu pada gadis bermata hazel yang juga enggan menolong. Ia sesekali menghela nafasnya saat Anya, si gadis berperawakan tinggi tadi hampir melayangkan sebuah tamparan pada Serena.
"Kau menyukaiku?" itu suara Galen. Wajahnya nampak meremehkan.
"Surat cinta ini darimu?" lagi. Galen mengejek lagi.
"Mau ku bacakan?" Varel terkekeh. Satu lagi dari anggota The Killers. Ia merampas surat yang di genggam Galen. Membacanya nyaring di depan kelas. Tentu saja dengan nada merendahkan.
***
-GALEN POV-
Gadis berponi itu bernama Serena. Ia baru tadi pagi menaruh surat cinta di lokerku. Berani sekali dia? Wanita. Aku benci wanita dan airmatanya. Ayahku meninggal dunia saat aku masih usia lima tahun dan ibuku? Ku pikir ia bersedih karena itu. Tapi, airmata yang keluar dari matanya berwarna hitam pekat. Rupanya ibuku bahagia atas kematian ayahku. Terbukti, dua bulan setelahnya ia menikah lagi. Air mata palsu. Kau tahu, ada enam warna airmata. Putih airmata suci. Merah airmata benci. Kuning airmata bahagia. Biru airmata terharu. Hitam air mata palsu dan nila airmata ketakutan. Tuhan memberiku kelebihan. Aku dapat melihat warna airmata itu. Saat semua orang tak dapat melihatnya.
Dan warna air yang keluar dari mata Serena sekarang berwarna merah. Air mata benci. Ia benci padaku dan teman-temanku. Dan saat aku bertanya apa dia mencintaiku, airmata yang keluar justru berwarna hitam. Air mata palsu. Ia membenciku setelah ku bully bersama. Ck, padahal baru tadi pagi ia menaruh surat cinta di lokerku. Jika memang cinta, maka tak peduli apa yang ku lakukan, ia akan tetap mencintaiku. Wanita, mereka sama saja. Pendusta.
-End POV Galen-
***
Karina menggenggam erat gelang tangannya. Ia hampir memekik saat Anya mengeluarkan gunting dari tasnya. Memainkannya tepat di depan wajah Serena.
"Hentikan !"
Anya berhenti. Kalimat Karina tadi membuatnya berdecak.
"Are u kidding, Me ?" Anya menatap tak suka pada Karina. Ia berjalan ke arahnya.
"Biar aku saja" itu perintah Galen. Tersenyum tipis. Lalu berjalan ke meja Karina.