Karina memejamkan matanya. Ia pasrah kalaupun Galen akan menampar wajahnya. BUKK. Bunyi tamparan itu terdengar nyaring karena sangat dekat dengan telinga. Karina membuka matanya perlahan, merasa tak ada rasa sakit di wajahnya. Galen menampar sisi pintu mobil. Lelaki itu menubruk tubuh mungil Karina. Menaruh kepalanya di pundak Karina. Gadis itu heran, termangu. Belum mampu mencerna apa yang terjadi.
***
Dua manusia itu duduk di taman dekat sekolah. Di sebuah kursi panjang. Karina menatap tangan kanan Galen yang terlihat memerah pada buku-buku jarinya. Galen cukup keras menampar sisi pintu mobil. Kepalan tangannya memar meskipun tak keluar darah di sana. Nampak kontras di tangan putihnya.
"Tanganmu tidak apa-apa?"
Galen masih diam, namun ia memperhatikan setiap gerik Karina. Gadis itu perangainya lembut, nampak kikuk. Bicaranya pun lembut. Dan Galen tak suka tipe wanita seperti itu. Nampak lemah namun berduri. Seperti Ibunya.
"Galen...?."
"Ya?"
"Aku..boleh bertanya?"
"...."
"Kenapa, kau suka sekali membully? Apa salahku, maksudku... A-apa yang membuatmu melakukannya?"
Hening. Tak ada suara. Karina diam. Ia menggigit bibir bawahnya. Menunggu jawaban Galen, sepertinya ia sudah lancang bertanya demikian. Hanya karena mereka sedang duduk berdua sekarang, bukan berarti mereka sudah akrab kan?
"Aku...benci pada hidupku"
"......?"
"Airmata. Aku bisa melihat warna airmata. Aku bisa membedakan airmata sungguhan atau airmata yang palsu. Aku benci pada hal itu. Dunia tak pernah memberiku airmata yang suci...sakit rasanya melihat orang yang di cinta, justru mengeluarkan airmata palsu. Tak pernah menangis tulus..."
"Maksudmu?"
"Kau tak akan mengerti maksudku" Galen menatap langit dengan tatapan kosong.
Karina menunduk.
"Apa semua orang tahu, tentang hal itu?"
"Tidak. Hanya kau dan seseorang"
"Seseorang?"
"Ya,seseorang yang bermata sama denganmu.."
"......maksudmu? ..."
Belum selesai kalimat Karina, Galen sudah bangkit dari duduknya.
"Sudah sore, kita harus pulang..."