Setelah berhari-hari terjebak dalam lingkaran setan tanpa henti ini, akhirnya kuputuskan untuk tidak menulis selama beberapa saat. Kelihatannya otakku sedang kelelahan dan sudah kehabisan energi kreatif untuk saat ini. Padahal biasanya aku mampu membuat ratusan hingga ribuan kata hanya dalam hitungan hari. Tapi untuk sekarang, menulis sebuah kalimat saja rasanya terasa begitu berat untukku. Aku benar-benar tidak menyangka. Jika sesuatu yang biasanya menjadi salah satu sumber kebahagiaanku, kini berubah menjadi sebuah siksaan yang perlahan menggerogoti tubuhku.
Begitu layar laptop yang berada di hadapanku mati total, aku langsung memasukan benda itu ke dalam tas, lalu disusul dengan barang-barangku yang lain. Seperti botol minum, buku catatan, beberapa buah ballpoint, sebungkus makanan ringan, serta sebuah novel yang belum selesai kubaca. Walaupun aku tidak berniat untuk melanjutkan tulisan ini, aku tetap membawa laptop itu kemanapun aku pergi. Dikarenakan ide-ide terkadang muncul dengan sendirinya di waktu dan tempat yang tidak terduga. .
Di antara langit siang yang mulai terlihat semakin gelap, tampak sekelompok awan putih keabuan yang mulai berkumpul di atas kepalaku. Meskipun cuaca siang hari ini membuat perasaanku semakin jelek, setidaknya aku tidak perlu repot-repot memakai topi untuk melindungi rambut dan juga kulit kepalaku dari panasnya terik matahari. Sambil berjalan tanpa arah di sepanjang trotoar, aku terus memikirkan beberapa alur cerita yang ingin disisipkan ke dalam tulisanku. Namun semakin keras kucoba memikirkan hal tersebut, otaku justru malah terasa semakin panas. Sepanas telur yang sedang direbus di dalam kuali yang penuh dengan air panas.
Ketika tengah melangkah pelan di antara area pertokoan, langkahku tiba-tiba saja berhenti dengan sendirinya di depan pintu masuk kedai kopi langgananku. Sebuah tempat yang paling sempurna untuk menghabiskan waktu selama berjam-jam. Terutama jika diriku sedang kehabisan ide atau mengalami kebuntuan saat menulis. Karena terkadang aku mendapat inspirasi dari obrolan para pengunjung yang tidak sengaja masuk ke dalam telingaku. Namun bukan berarti aku sengaja datang ke tempat ini hanya untuk menguping perbincangan orang lain.
Begitu melangkah masuk ke dalam sana, hidungku langsung menangkap aroma kopi panas yang berpadu dengan lilin aroma terapi. Seperti biasanya, aku memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Selain dikarenakan posisinya yang tidak begitu mencolok, aku bisa minum kopi dengan tenang sembari menikmati pemandangan keluar jendela. Benar-benar stereotip seorang penulis, yang sering ditemukan di novel-novel maupun film.
Setelah kembali dari kasir untuk memesan segelas latte panas, aku mendapati beberapa orang pemuda yang tiba-tiba saja sudah duduk di salah satu meja di dekatku. Jika diperhatikan dari penampilan dan juga gaya berpakaiannya, ketiga pemuda tersebut sepertinya adalah sekelompok anak kuliahan yang sedang nongkrong. Selang beberapa menit setelah mereka duduk, ketiga pemuda itu langsung mengeluarkan laptop mereka. Kemudian mereka segera mengerjakan sesuatu di laptop mereka masing-masing, sembari terus mengeluh dan menggerutu kesal.
“Gila sih…, ini kapan kelarnya coba?” Keluh salah seorang dari mereka, “Kalau numpuk terus kaya gini, gak akan pernah selesai tugas-tugas kita.”
“Eh…, emangnya tugas dari Pak Roni belum kamu selesain juga?” Tanya pemuda lainnya.
“Belum lah! Orang kita aja disuruh bikin rangkuman dari satu novel, terus cuma dikasih batas waktunya seminggu doang. Gimana coba cara nyelesainnya? Baca novelnya aja udah ngabisin waktu lima harian.”
Pemuda tadi pun tertawa mengejek temannya. “Kenapa harus repot-repot kaya gitu sih? Kalau kataku sih, mending pake Sagitarius aja kalian! Aku juga ngerjain tugas dari Pak Roni pake Sagitarius da. Tinggal ketik-ketik, lima menit langsung beres deh.”
“Maksudnya, Sagitarius aplikasi chatbot AI itu? Yang katanya bisa ngelakuin apa aja yang kita suruh.”
“Iya Cuy. Makannya kamu kerjain pake Sagitarius aja!”
“Gak mau ah! Nanti kalau ketahuan sama Si Pak Roni, bisa ribet urusannya.”
“Ah…, dasar cupu! Pantes aja gak maju-maju! Orang kamunya aja gak mau hidup berdampingan sama teknologi.”
“Justru kamu yang nantinya gak bisa maju. Ngerjain tugas kuliah aja masih dibantu sama AI, gimana mau bersaing sama mereka nanti?”
Dan pada detik-detik berikutnya, terjadi adu mulut di antara kedua pemuda tersebut. Meskipun obrolan mereka berdua tidak sengaja terdengar di telingaku, nama ‘Sagitarius’ berhasil menarik perhatianku untuk sesaat. Karena rumor mengenai kecanggihan kecerdasan buatan itu memang selaras dengan apa yang pemuda barusan jelaskan. Selain bisa diajak mengobrol, layaknya manusia pada umumnya, Sagitarius juga memiliki beberapa fitur yang bisa mempermudah segala jenis pekerjaan. Selama instruksi yang diberikannya cukup jelas dan detail, kecerdasan buatan itu akan melakukan apapun yang kita inginkan. Seperti membuat lirik lagu, memperbaiki kode pemrograman, membuat gambar yang tidak kalah artistiknya dengan buatan manusia, hingga menulis sebuah cerita.
Sebenarnya sudah lama sekali aku mengunduh aplikasi tersebut, mungkin tidak lama setelah tanggal peluncurannya. Namun jujur saja, tidak pernah terpikir satu hari pun olehku, untuk menggunakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan untuk menyelesaikan pekerjaanku. Jika dia bisa membuat rangkuman dari sebuah novel hanya dalam hitungan menit, pastinya bukan masalah besar baginya untuk menyelesaikan cerita pendek yang sudah ditulis separuh. Karena merasa begitu penasaran, aku pun segera membuktikannya di saat itu juga. Pertama, aku menyalin keseluruhan cerita yang sudah kutulis, mengirimnya ke Sagitarius secara menyeluruh, lalu memberinya instruksi untuk menyelesaikannya.
Saya: Apa kau bisa melanjutkan cerita pendek di atas?
Sagitarius: Sebelum menyelesaikan cerita ini, ada beberapa informasi yang kubutuhkan. Pertama, berapa panjang lanjutan cerita yang kau butuhkan? Lalu, akhir cerita seperti apa yang kau inginkan? Apakah ingin akhir cerita yang bahagia seperti kebanyakan cerita romansa, atau akhir yang menggantung dan meninggalkan banyak pertanyaan?
Saya: Jangan terlalu panjang ceritanya, maximal 1000 kata aja! Terus kasih akhir cerita yang membuat pembaca kejang-kejang. Kalau bisa dilengkapi dengan plot twist yang mencengangkan.
Sagitarius: Baik, berikut adalah versi akhir dari cerpen yang sudah diselesaikan. Dengan tidak lebih dari 1000 kata, dan juga akhir cerita yang bisa membuat pembaca (termasuk kamu) kejang-kejang.
Aku benar-benar dibuat tercengang dengan hasil yang dia perlihatkan. Menulis beberapa halaman yang biasanya membutuhkan waktu berjam-jam, hingga berhari-hari, dapat dia selesaikan hanya dalam waktu kurang dari satu menit. Setelah kubaca berulang kali, aku masih saja tidak percaya dengan semua ini. Sebuah deretan angka dan kode yang tidak memiliki perasaan, bisa menulis sebuah mahakarya sebagus ini. Selain waktu pengerjaanya yang sangat singkat, kecerdasan buatan ini juga menghasilkan sebuah karya sastra yang sangat sempurna. Struktur kalimatnya benar-benar rapi dan terstruktur, tidak ada salah ketik di setiap katanya, dan pemilihan katanya pun benar-benar di tempat yang tepat. Tiba-tiba saja aku merasa kembali bersemangat, dan ingin segera pulang ke kosan untuk menyelesaikan ceritaku.
Setibanya di kamar kos, aku bergegas mengeluarkan laptop dari dalam tas, dan segera menulis. Ketika membaca kembali tulisan yang dihasilkan oleh Sagitarius, tiba-tiba saja aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Apakah tindakan yang kulakukan pada kali ini salah ? Dimana aku menggunakan kecerdasan buatan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Meskipun pencetus ide utama pada cerita ini adalah diriku sendiri, tetap saja aku tidak berkontribusi apa-apa pada setiap prosesnya. Mulai dari pembawaan alur cerita, penentuan kosakata, hingga menentukan bagaimana cerita ini berakhir. Apakah aku pantas mendapat penghargaan atas sesuatu yang tidak tercipta dari tanganku sendiri?
*Drrr! Drrr! Drrr!*
Sebelum aku terbebas dari pergulatan batin tersebut, ponsel di saku celanaku tiba-tiba saja bergetar dengan sendirinya beberapa kali. Ketika melihat layarnya yang masih dalam keadaan terkunci, tampak nama ‘Bu Sekar’ terpampang begitu jelas disana. Dengan sedikit khawatir, aku pun langsung buru-buru mengangkat telepon dari wanita tersebut.
“Selamat sore Ibu Sekar.” Sapaku.
“Iya, selamat sore juga Mbak Andien.” Balas Bu Sekar dari balik telepon, “Maaf udah ganggu kamu pas lagi weekend kaya gini. Tapi ada sesuatu yang mau saya tanyain ke Mbak Andien.” Aku sendiri tidak mempertanyakan apa itu, dan hanya menunggu Bu Sekar melanjutkan perkataanya. “Perkembangan cerita pendek minggu buat depan udah sampe mana ya, Mbak ??”
“Oh…, anu Bu…, ceritanya baru selesai setengah. Tapi aku usahain hari Rabu nanti udah dikirim ke email Ibu.”
“Nah Mbak Andien. Tolong kamu beresin cerita minggu ini sekarang juga ya! Soalnya ada pergeseran jadwal penerbitan. Jadinya majalah yang ada cerpennya bakalan terbit setiap hari Senin. Berarti sebelum besok siang cerita pendek kamu harus udah dikirim ke email saya. Biar hari minggu besok bisa langsung dikerjain sama tim editor, terus kita kirim ke tim redaksi buat dimasukin. Kira-kira kamu sanggup gak buat ngeberesinnya hari ini?”
“Coba aku usahain dulu buat selesain sekarang ya, Bu.”
“Ok deh. Kalau ada kendala tinggal berkabar aja ya! Biar nanti saya negosiasiin sama tim redaksi. Maafin saya juga karena udah ngerepotin ya, Mbak Andien. Soalnya saya dapet infornya juga mendadak banget. ”
“Iya, gak apa-apa kok Bu.”
“Saya tutup dulu teleponnya ya. Happy weekend, Mbak Andien.”
“Happy weekend juga, Bu Sekar.” Kemudian aku pun langsung menutup telepon dari Bu Sekar.
Setelah pembicaraan kami berakhir, aku benar-benar dibuat kalang kabut dengan tenggat waktu yang dimajukan hari ini. Sekarang sudah jam tiga sore, dan sampai sekarang belum ada satu kata pun yang ditulis. Bekerja sebagai penulis kontrak untuk majalah Neopolita adalah langkah pertamaku dalam membangun karir sebagai seorang penulis. Jika aku berhasil membuat para tim editor, termasuk Bu Sekar, kagum akan hasil karyaku, mereka mungkin akan memberiku surat rekomendasi ke salah satu penerbit. Yang dimana nantinya aku bisa menulis cerita-cerita fiksi, atau bahkan mungkin menjadi seorang novelis. Tapi jika mereka tidak puas dengan performa kerjaku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada nasibku selama lima tahun ke depan.
Ketika melirik ke arah laptop, tampilan layarnya yang masih menyala menunjukan aplikasi Sagitarius, beserta cerita buatannya yang masih terpampang jelas. Sebenarnya aku masih dilema untuk menggunakan cerita tersebut atau tidak. Karena masa depan karirku ditentukan oleh sebuah cerita pendek yang harus selesai dalam waktu kurang dari 24 jam. Kini aku sedang berdiri di atas sebuah papan yang berada di tengah jurang. Kemanapun diriku melangkah, pada akhirnya aku pun akan jatuh juga ke dasar jurang tersebut. Jika menggunakan cerita dari Sagitarius untuk urusan pekerjaan, dapat dipastikan aku akan terus dihantui oleh rasa bersalah seumur hidup. Namun jika tidak bisa memenuhi permintaan dari Bu Sekar, karirku di Neopolita akan terancam saat ini juga.
Tapi setelah dipikir matang-matang, menyalin ulang tulisan dari Sagitarius sebenarnya tidaklah seburuk itu. Pasalnya aku hanya menggunakan ide-ide yang dia berikan padaku. Aku menggunakan 100% tulisannya secara menyeluruh, lalu mengakuinya sebagai tulisanku sendiri. Lagipula aku sendiri juga tidak ada rencana untuk terus menggunakan Sagitarius selamanya. Untuk saat ini, keadaan yang kualami masih bisa dimaklumi, karena aku mendapat tekanan dari dua arah. Yakni dari otaku yang tidak mau bekerja sama, dan juga tekanan dari Neopolita untuk menyelesaikan cerita tersebut. Sehingga satu-satunya cara yang paling rasional untuk keluar dari tekanan ini adalah dengan menggunakan bantuan dari Sagitarius. Dan untuk kedepannya, aku berjanji kepada diriku sendiri, untuk tidak lagi menggunakan kecerdasan buatan dalam urusan pekerjaan ataupun hal-hal yang bersangkutan dengan karirku.