Apa yang berbahaya dari aksara?
Bahkan bagi orang-orang yang punya kekuatan untuk meruntuhkan gunung, himpunan aksara bisa menakutkan. Itulah kenapa wanita tua dengan tubuh penuh rajah itu di sini. Ia membawa aksara-aksara yang penuh kebenaran pahit itu di tubuhnya. Ia menolak lupa. Ia terus mempertanyakan kebenaran di mana anak-anaknya.
"Mereka hanya remaja yang belum tahu intrik orang dewasa. Mereka hanya peduli dan berhati murni. Mereka berusaha memperjuangkan keadilan, tetapi di mana keadilan itu jika mereka akhirnya hilang entah di mana? Tidak ada jejak. Tidak ada jasad. Hanya kabar burung yang membisikkan puluhan anak muda diculik dan dijadikan tumbal keseimbangan."
Wanita itu menangis lagi. Air matanya seperti sungai yang tak akan surut di tengah gurun sepanas ini. Matanya belum setua milik Datuk Sidra, meski tetap menyimpan kepedihan sama panjangnya.
Neel tidak banyak bicara seperti biasa. Ia fokus mengeluarkan racun Aqrabu'al dari luka-luka di tubuh ringkih itu. Sementara itu, Datuk tampak merenung jauh. Batuknya keluar lebih sering dan aku melihat hal itu lagi, darah. Ia masih mendengarkan racauan dan raungan wanita itu yang kondisinya antara sadar dan tidak. Mungkin ia kembali memikirkan kondisi negerinya. Mungkin–
"Oh, putra-putriku yang malang, ke mana kesengsaraan ini akan bermuara? Aku hanya orang tua tunggal, hanya seorang ibu yang begitu menyayangi anak-anaknya."
Orang tua tunggal. Aku menunduk. Samar-samar, bayangan ayah muncul dalam kepalaku. Suaranya, tawa beratnya, tangannya yang mengajariku berdiri dan berlari. Ada sesuatu yang menyengatku dari dalam. Sesuatu yang sangat kubenci. Aku menggeleng. Tidak, aku tidak ingin kembali merasa. Aku mengangkat tangan dan menepuk wajahku sendiri, buru-buru menepis semua itu.
"Orang-orang berjubah kebesaran itu pengecut! Mereka menyebut diri mereka kesatria pendekar, tetapi mereka takut dengan keadilan yang disuarakan anak-anak. Mereka takkan bisa membayarku dengan kejayaan. Kesengsaraan ini abadi! Mereka juga takkan bisa membungkam kebenaran dengan membuangku kemari. Kebenaran akan selalu kembali, dalam wujud apa pun itu!"
"Aku minta maaf."
Aku mendongak, menatap Neel. Baru kali ini aku mendengar suaranya bergetar.
"Bawa aku pada lautan! Biarkan seluruh tubuhku dan aksara itu hanyut dan lebur bersama samudra. Kelak hujan akan menggemakannya pada daratan. Kelak kebenaran itu akan tumbuh selayaknya tunas dan pepohonan."
Suara wanita itu melemah. Rambutnya yang mirip serat jagung tua seperti ikut melayu. Kemudian matanya perlahan tertutup. Tangisan dan raungannya telah habis. Rajah di leher dan tangannya yang berdarah tampak lebih menyengat dibanding matahari di atas sana.
Aku memejamkan mata, tanpa sadar meremas pasir di bawahku sampai terbakar.
Datuk akhirnya buka suara. Napasnya terdengar lebih berat. "Kita akan membawanya ke pesisir batas, mengabulkan permintaan terakhirnya."
___
Angin panas menjerit di antara bukit-bukit pasir. Gurun Maut terbentang bagai lautan emas yang nyaris tak berujung. Tiap langkah seakan hanya memunculkan gema kering. Di kejauhan, matahari menggantung rendah, seolah hendak jatuh dan membakar dunia. Namun, ada yang membuat langkah kami lebih berat daripada hawa gurun: kobaran yang ditinggalkan wanita itu.
Aku berjalan paling depan, menggusur jasadnya yang sudah kami tutup kain hitam seadanya. Darah tampak mewarnai kain itu, seakan menegaskan bahwa dalam kematiannya pun kobaran itu akan tetap menyala.
Aku memalingkan wajahku yang dipenuhi debu dan keringat. Kami tidak bisa berjalan cepat demi menghemat tenaga, apalagi kami baru menghadapi salah satu makhluk paling mematikan di gurun ini.
Neel masih diam. Ia bahkan berjalan agak jauh dari kami. Sementara itu, Datuk Sidra berjalan pelan tongkat kayunya. Jejak yang ditinggalkan wanita itu membuat napasnya makin berat dan batuknya lebih sering terdengar.
Aku kembali teringat yang apa dikatakannya saat kami membungkus jasad wanita itu, "Kaisar telah mati, tapi itu tidak menyelesaikan masalah lainnya. Warisan kekerasannya terus berlanjut, seperti akar benalu yang telanjur menyatu dengan pohon inangnya."
Itu membuatku kembali memikirkan masa kecilku di desa, meski aku benci mengingatnya. Orang-orang desa membenci dan menjauhiku karena aku terlahir dengan monster di tubuhku, monster yang kubawa dari darah ibuku. Mereka tak tahu bahwa aku juga tidak menginginkan monster itu, tetapi bukankah kita tidak bisa meminta untuk dilahirkan seperti apa?
Mereka tidak berani merundungku terang-terangan karena ayahku dulu adalah pahlawan yang mereka puja. Ia salah satu panglima bangsa pendekar terhebat yang memilih hidup sederhana sebagai warga biasa setelah memilikiku. Aku hidup, tetapi aku dianggap aib dan kutukan yang mencoreng nama mulia ayahku. Puncaknya adalah malam itu saat ayahku hilang dan aku dituduh telah melenyapkannya. Mereka mengeroyokku dan berniat membawaku pada kematian, meski yang terjadi adalah sebaliknya.
Aku memejamkan mata, berusaha tetap melangkah dengan teguh. Apa bangsa pendekar memang cenderung menyelesaikan sesuatu dengan kekuatan?
Kini aku seakan bisa melihat celah kisah para pahlawan yang sering kudengar waktu kecil. Bukankah mereka juga membasmi para penjahat dengan kekuatan dan kekerasan? Mereka dipuja karena dianggap melakukan hal yang benar; kebenaran, meski melakukannya dengan kekerasan. Namun, siapa yang menjamin kalau para penjahat itu tidak memperjuangkan kebenaran versinya?
Seperti wanita tua itu. Dalam racauannya tadi ia bilang bahwa orang-orang menyebutnya pembelot, penyihir ajak, dan kata-kata hina lainnya. Hanya karena orang-orang yang dilawannya berwajah mulia dan bergelar kesatria, sedangkan ia hanya wanita tua yang memperjuangkan kebenaran versinya. Saat ia mengukir seluruh peristiwa yang berhasil dikumpulkannya di tubuhnya, ia pun dibuang kemari dengan hina.
Tidak ada yang protes atau membelanya. Sebab, orang-orang yang diam-diam berpihak padanya pun takut dengan kekuasaan dan kekuatan orang-orang berwajah mulia itu.
Begitu pun dengan Datuk Sidra. Ia membunuh kaisarnya sendiri dengan harapan bahwa kekerasan yang mendarah daging di nadi bangsanya akan turut hilang. Ia pun dihukum berat dengan dibuang kemari. Saat ia mungkin berpikir bahwa masalahnya di negerinya mereda, wanita tua itu datang dan menyatakan kebenaran pahit yang harus dialaminya.
Aku menghentikan langkah lalu menoleh pada Datuk. Wajahnya yang keriput tampak sangat pucat. Pertanyaan yang sejak tadi tertahan di tenggorokanku akhirnya keluar.
"Apa Tuan Datuk sedih? Terutama untuk masa lalu itu."
Ia tersenyum lemah lalu ikut menghentikan langkah. Neel yang menyadari kami berhenti tampak heran. Ia pun mendekat.
"Nak, masa lalu bisa mewariskan apa saja, tapi kita sendirilah yang berhak menentukan untuk menerima warisan yang seperti apa. Kita manusia tak bisa lepas dari masa lalu, begitu pun alam sekarang—ada karena pernah melintasi masa lalu.
"Tapi, Nak, kita juga tak bisa terus-menerus melihat ke belakang atau terus-menerus mengkhawatirkan yang jauh di depan. Kita hidup hari ini, detik ini juga, di masa sekarang. Maka, itulah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Menghidupkan hidup."
Aku menunduk, Datuk benar. Kita memang tak bisa mengubah kemarin, tapi kita masih bisa berjuang untuk hari ini dan esok dan terus melakukan yang terbaik. Aku masih belum menemukan alasan hidup, tetapi menjalaninya meski tanpa alasan untuk sekarang mungkin cukup.
Tiba-tiba Neel berjengit. Ia meletakkan tangan di pasir seperti memeriksa sesuatu. Matanya ungu keabuannya memicing. "Apa kalian mendengarnya?"
Datuk hanya tersenyum. Aku mengernyit lalu berusaha menajamkan indra pendengaranku, tetapi aku tidak mendapat apa-apa. Semuanya terdengar biasa.
"Itu suara ombak. Jangan remehkan insting periku, aku tidak mungkin salah dengar."
Ia menggeram lalu berubah jadi wujud monsternya. "Ayo, kita harus bergegas!"
Kami naik. Aku memegang jasad wanita itu agar tidak jatuh. Ia pun melesat melewati bukit-bukit pasir yang dibencinya karena membuat sisiknya makin kering.
Aku menutup sebagian wajah dengan sebelah lengan. Angin gurun yang bercampur pasir terus menghantamku, tetapi suara yang dikatakan Neel benar. Telingaku mulai bisa mendengarnya seiring mendekatnya kami ke sumber suara. Mataku makin menyipit saat menangkap sesuatu selain pasir. Neel mempercepat lajunya.
Itu seperti karang, tetapi Neel memilih arah lain. Pasir di bawah kami perlahan berubah warna jadi putih pucat. Deburan itu makin jernih seolah memanggil kami mendekat. Aku membuang napas panjang. Perjalanan kami di gurun mematikan ini akhirnya bermuara.