"Gerakanmu masih melenceng!"
Aku membuang napas panjang untuk yang ke sekian kalinya. Tak peduli sebagus apa gerakan yang kubuat, aku tetap salah di mata Neel. Pikirannya jelas sedang kacau dan ia tetap memaksa untuk melatihku di sabana.
Ini masih pagi. Langit membentang cerah tanpa satu pun awan kelabu. Di sekitar kami, hewan-hewan pemakan rumput tampak bergerombolan bersama kawanan mereka. Burung-burung terdengar berkicau riang. Serangga berkeliaran di antara tanah dan dahan-dahan. Mereka tidak mengganggu juga tidak terganggu dengan keberadaan kami.
"Daripada melatihku dengan jurus yang mungkin belum Datuk ajarkan padaku, coba ajari aku hal lain saja."
Wanita itu mengerling, mata ungu keabu-abuannya berkilat. "Jadi monster?"
"Aku tidak mau berubah lagi."
Ia berkacak pinggang sambil menipiskan bibir. Matanya menatapku lamat-lamat seperti berusaha membacaku, sebelum akhirnya menyerah. Ia membuang napas lalu berbalik.
"Ikuti aku."
"Aku tidak mau berubah, Neel."
"Heh, Bocah, siapa yang mau menyuruhmu berubah? Kita akan belajar dari alam."
Aku mengernyit tak yakin, meski akhirnya tetap mengikutinya.
Beberapa bulan setelah kepergian Datuk, kami memang masih rajin berlatih. Lebih tepatnya aku yang dilatih, meski Neel lebih sering marah-marah. Kehilangan itu memang tidak bisa dipungkiri. Aku juga tahu, meski tidak mengatakannya, ia masih merasa berkewajiban menjagaku.
"Neel."
"Jangan bicara sekarang, kita harus cepat."
Ia tahu. Mungkin karena itulah ia segera melenting ke dahan pohon—menghindari membahasnya sementara. Namun, kami tidak bisa terus seperti ini. Aku–
"Lihat mereka!" tunjuknya pada ulat-ulat yang tengah memakan dedaunan pohon. Ia lalu menyuruhku naik ke dahan pohon di sebelahnya.
"Mereka monster kecil yang sering dianggap mengganggu dan menjijikkan."
"Aku tahu," gumamku yang lebih terdengar seperti pengakuan.
"Tapi mereka tak mau selamanya dalam wujud itu."
"Itu memang hukum alamnya."
Neel mendelik, nyaris melempar hiasan sisik di rambutnya padaku. Aku mengerjap polos. Aku hanya menyampaikan sudut pandang lain, kenapa dia harus marah?
Ia memejamkan mata sambil memijit dahinya. "Ya, meskipun itu memang hukum alam, tapi perubahan mereka tetap memiliki harga yang mahal. Berada dalam kepompong juga jauh lebih menyakitkan. Tak jarang perubahan itu gagal. Ulat itu bisa mati dalam kepompongnya, mati sebelum ia berhasil menjadi kupu-kupu. Tak jarang setelah baru bisa terbang pun ... itu harus dibayar kematian."
"Bukankah dengan begitu perubahan itu tidak sepadan?"
"Setidaknya sudah berusaha lebih baik daripada hanya berdiam diri." Matanya melirikku sekilas lalu kembali pada hewan-hewan kecil itu. "Aku bukan peri hutan yang bisa bicara dengan hewan darat, tapi aku berani menjamin kalau mereka puas dengan hasil perjuangan dan pengorbanan itu."
"Meski setelah berubah hanya hidup sebentar?"
"Ya, meski hanya sebentar. Karena tak peduli seberapa panjang umur makhluk apa pun di dunia, kalau dia tidak bisa bahagia meski sedikit, umur itu tidak akan ada artinya."
Pandanganku menurun. Dari dahan tinggi tempatku duduk sekarang, hewan-hewan di sabana tampak jauh lebih kecil. Aku mulai bertanya-tanya apakah hal-hal seperti kesedihan dan kebahagiaan dimiliki oleh manusia, atau oleh makhluk lain juga?
"Bocah, kau sudah punya sayap. Tapi kalau tidak tahu atau tidak belajar agar tahu bagaimana caranya terbang, kau tidak akan pernah bisa bebas."
"Sebaiknya pikirkan dirimu sendiri. Kau juga tidak akan bisa bebas jika terus merasa berkewajiban mengurusku."
Tawanya meledak, meski terdengar sedikit getir. "Lihatlah, kau makin besar dan makin tidak sopan."
"Aku belajar darimu."
Ia kembali tertawa, kali ini lebih lepas. Entah itu hanya sebuah topeng untuk mengelabuiku dan dirinya sendiri atau itu sebenarnya memang ungkapan asli hatinya. Bahwa meskipun hidup kami selalu ditimpa kemalangan, setidaknya ada satu dua hal ringan yang bisa menggelikan hati.
"Jadi begini ya rasanya dimakan senjata sendiri. Tapi tidak masalah, kau monster kecil yang akan aku toleransi."
Aku tidak menjawab dan terus memandangi langit. Pikiranku berjejalan tak tentu.
"Pergilah, Neel," kataku akhirnya.
Tawanya sudah reda. Aku tidak tahu pasti rautnya bagaimana, aku terus bergeming memandang langit.
"Akhir-akhir ini kau terus memandang ke arah timur. Aku tidak tahu di sana ada apa, tapi jangan menahan perjalananmu karena aku. Jangan khawatir. Lagi pula tinggiku sekarang sudah sedikit melewatimu, 'kan?"
Ia mendesis ringan, nyaris terdengar seperti menyeringai. "Menyebalkan. Padahal aku termasuk perempuan yang tinggi."
Hening akhirnya menguasai kami. Ia ikut diam memandangi langit yang semakin biru. Angin berembus ringan. Matahari perlahan naik.
Aku akhirnya kembali bersuara. "Pergilah. Kita butuh waktu, 'kan?"
"Kau mengusirku ya?"
"Anggap saja seperti itu."
Ia terkekeh kecil. "Aku akan jadi Ratu Ular. Di timur, aku mendengar kabar ada lereng yang dihuni bermacam-macam ular. Kau juga tahu selama ini aku tak bisa akrab dengan ular-ular, meskipun aku sendiri Monster Ular. Sekarang aku mau berteman dan belajar banyak dari mereka."
Aku menatapnya lalu mengangguk. Ada sedikit embun di mata ungu keabu-abuannya yang nyaris selalu berkilat. Namun, Neel tak membiarkanku melihatnya lebih lama. Ia mendekat, menepuk kepalaku dua kali, lalu melenting turun.
Punggungnya perlahan menjauh. Rambut pirangnya tertiup angin pelan. Ia lalu melambaikan sebelah tangan.
"Aku akan terus memantaumu dari jauh! Jadi, jangan coba-coba membunuh dirimu sendiri. Kalau tidak, aku akan mengejar dan mencincangmu di neraka."
Akan kucoba. Kini pundakku terasa lebih ringan. Setidaknya tidak ada orang yang perlu kurepotkan lagi. Aku akan terus sendirian, kalau perlu selamanya.