Telaga Angkasa Tanpa Warna

Zya Zura
Chapter #9

Bayangan Kabut

Namun, aku tidak mati. Aku hanya sekarat dan kembali hidup untuk kesekian kalinya. Luka-lukaku pulih dengan cepat, tetapi tidak dengan kekosongan itu.

Saat pertapa yang kukira malaikat maut itu menyerangku, anehnya monster itu tidak bangkit, meski aku kehabisan Ravas dan seluruh tenaga. Pertapa itu juga menepati janjinya dengan mengembalikan pedangku. Meskipun begitu, beberapa minggu kemudian, ia datang lagi dan melakukan hal yang sama saat aku pindah ke tepi rawa.

"Kau berjalan persis seperti ayah dan gurumu: Rasalas dan Ratan Sidra," ucapnya setelah membuatku babak belur tak berdaya lagi dengan tongkat anehnya.

Rahangku mengeras mendengar dua nama itu. Seandainya kondisiku lebih baik, aku ingin membungkamnya atau lari sekalian. Aku tidak ingin mendengar apa pun tentang ayahku, tetapi sisi lain dari diriku justru—"Apa yang Kisanak ketahui tentang mereka?"

"Oh, aku tahu banyak hal, Anak Muda. Hal-hal yang bahkan golongan terang, gelap, dan abu-abu sembunyikan."

Ia terdengar menyeringai. Suaranya bergema di sepanjang rawa, meski wujudnya tak juga terlihat oleh mataku. Yang jelas sejak kedatangannya beberapa saat lalu, hewan-hewan yang tinggal di sini tidak terdengar berkutik sedikit pun. Mereka semua bersembunyi, meninggalkan aku yang jadi bulan-bulanan dan kini terkapar di sudut lumpur rawa.

"Tapi golongan-golongan itu bau. Terang bau kebajikan, gelap bau ambisi. Aku dulu mencium semuanya."

"Dan aku bosan," lanjutnya tanpa diminta. Tongkatnya tampak mencolek permukaan air rawa dengan ujungnya. Riak kecil menyebar lalu hilang. "Dulu aku pendekar golongan abu. Tangguh, kata orang. Tak berpihak, tak peduli. Kupikir itu kebebasan."

Hening sesaat lalu tongkatnya mengawang ke sampingku. "Sampai aku berpikir lama-lama semua golongan itu sama saja. Terang sibuk membersihkan dosa dengan darah. Gelap sibuk menyebut keserakahan sebagai kejujuran. Abu tidak jelas memihak siapa. Awam sibuk bertahan hidup di sela-sela amukan."

Aku merasa pertapa itu menatapku telak, meski aku tidak bisa melihat ia sebenarnya ada di mana.

"Dan kau ... pendekar terang yang selalu ingin mati." Ia pun terkikik. "Kau berjalan seperti ayah dan gurumu—tegap, bertekad pada kebajikan, dan punya banyak potensi. Tapi yang lebih menarik bukan hanya kau punya darah monster yang mati-matian kau pendam, tapi kehendak dan napasmu yang selalu ingin selesai."

Aku memalingkan wajah ke samping. "Itu bukan urusanmu."

"Haha!" Pertapa itu tertawa keras, gema suaranya memantul di permukaan rawa. "Lihat? Pendekar lain ingin kejayaan, ingin jadi yang terkuat, kau justru ingin tamat."

"Karena bagiku hidup itu memuakkan."

Ia terdengar menyeringai. "Itulah mengapa kau menarik. Kau lahir dari terang, dibayangi gelap monstermu, dan hatimu lebih condong pada sunyi. Golongan abu seharusnya milikmu."

Aku menggeleng pelan. "Aku tidak ingin golongan apa pun."

Tongkatnya menjauh pelan. "Aku juga. Bukankah dengan begitu kita punya kesamaan, Pendekar Kecil?"

Kabut tampak menebal dan hawa keberadaan pertapa itu perlahan hilang. Rawa kembali hidup, hewan-hewan yang tadi bersembunyi kembali muncul ke permukaan. Malam nyaris melewati puncaknya. Aku akhirnya berusaha bangkit, meski tubuhku masih terasa remuk dan penuh lumpur. Dalam hening itu, perkataan pertapa itu kembali terngiang.

Di Tanah Zamrud ini, bangsa pendekar memang konon dipercaya sebagai penjaga keseimbangan. Sejak kecil, aku dijejali kisah tentang ksatria terang yang mengorbankan diri demi golongan awam, tentang perang suci melawan pendekar gelap yang dianggap aib. Ayahku dan Datuk Sidra adalah legenda hidup dari kisah itu. Dua panglima yang namanya membuat perguruan bersujud dan musuh gentar. Namun, semua kisah itu seolah tak berarti apa pun di mata pertapa aneh itu.

Aku menghela napas panjang. Fajar sebentar lagi terbit. Aku memutuskan melangkah pergi dengan tersaruk-saruk dan dada yang terasa lebih berat. Bukan karena ancaman, melainkan karena satu hal yang kini aku sadari. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang benar-benar mengerti dorongan gelapku untuk menghilang.


___


Musim telah berganti beberapa kali sejak pertapa itu pertama muncul. Aku tak pernah tahu kapan ia akan datang. Kadang berbulan-bulan tak terlihat, kadang muncul dua kali dalam seminggu. Ia nyaris seperti bayangan kabut di Rimba Pengasingan yang mendadak datang dan mendadak hilang.

Hari itu, aku sudah terluka sebelum pertapa datang. Darah menetes dari sela-sela daun yang kujadikan perban. Napasku berat. Bau besi bercampur getah pohon dan tanah basah. Aku baru saja menghindar dari serangan makhluk ganas rimba. Serangan aneh yang nyaris membuatku kehilangan kendali seperti mereka. Pedangku tertancap di tanah dan tanganku gemetar.

Saat itulah suara tawa terdengar. Bukan tawa keras yang gila, lebih seperti seseorang yang akhirnya menonton adegan yang ia tunggu terlalu lama.

"Ah, akhirnya."

Aku berbalik cepat. Pedangku terangkat setengah lalu goyah. Penglihatanku berlapis. Urat-urat di leherku menegang. Ada sesuatu di dalam dadaku yang mendesak naik—panas, liar, penuh desir.

Kali ini ia menampakkan wujudnya. Pertapa itu duduk di atas batu pipih yang separuh tenggelam di sungai. Meski berkeriput, raut wajahnya nakal. Rambutnya putih semua, jubahnya compang-camping, dan warnanya tak jelas seperti debu ingatan yang tak sempat dikubur.

Ia tertawa kecil sebelum aku membuka mulut. Suaranya serak, tetapi matanya hidup—terlalu hidup untuk seseorang yang mengaku pertapa.

Pandanganku masih berdenyut. Aura lelaki tua itu tak mengancam, tetapi justru itulah yang membuatku waspada.

"Pergi," gumamku nyaris gemetar. "Aku tidak ... aman."

"Justru itu sebabnya aku datang,” jawabnya ceria.

Ia melompat turun dari batu dan berjalan mendekat, terlalu dekat untuk seseorang yang waras. Tongkatnya mengetuk tanah pelan, seirama dengan napasku yang mulai tak beraturan.

"Berbulan-bulan kau menahannya, mengurungnya, berusaha mengajaknya berdamai." Ia menyeringai. Gigi-giginya masih utuh, meski menguning. "Sekarang biarkan aku melihat apakah kau memiliki dia atau dia yang memiliki kau."

Aku mundur menghindarinya, tetapi ia justru menyerang lebih dulu. Tongkatnya menghantam lenganku yang spontan kusilangkan di depan dada.

Lihat selengkapnya